Please disable any ad-blocker you are using in your browser.

Makam Sunan Pandanaran, Wisata Religi Di Selatan Kota Klaten

Makam Sunan Pandanaran, Wisata Religi Di Selatan Kota Klaten
4.5 (90%) 2 votes

Makam Sunan Pandanaran merupakan salah satu wisata religi atau ziarah makam yang berada di wilayah kabupaten Klaten. Keberadaannya cukup terkenal oleh para peziarah karena dalam sejarahnya merupakan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa pada zaman Kerajaan Demak dan murid Sunan Kalijaga. Kompleks Makam Sunan Pandanaran menempati sebuah bukit dengan makam umum di bagian dasar hingga anak tangga kemudian kompleks makam utama berada di puncak bukit.

Makam Sunan Pandanaran atau biasa dikenal dengan sebutan Sunan Bayat (Tembayat) ini terletak di kelurahan Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Makam ini konon dibangun sejak 1526 Masehi.

Papan Nama Makam Sunan Pandanaran

Akhirnya saya pilih wisata ziarah makam yang tidak jauh dari kota Yogyakarta yaitu Makam Sunan Pandanaran yang terletak di sebelah selatan ibukota kabupaten Klaten. Kira-kira satu jam, saya sudah sampai di lokasi Makam Sunan Pandanaran dan memasuki gerbang masuk makam. Gerbang Makam Sunan Pandanaran ini cukup unik karena bercirikhas arsitektur gapura zaman kerajaan Majapahit.

 Gerbang Masuk Makam Sunan Pandanaran

Seperti makam raja-raja zaman dahulu, Makam Sunan Pandanaran ini terletak di atas bukit sehingga kita harus menapaki anak tangga yang jumlahnya ratusan untuk menuju kesana. Disebelah kanan dan kiri tangga banyak terdapat kios-kios yang menwarkan oleh-oleh khas Bayat, pakaian, makanan, dan sebagainya.

Dibagian ujung tangga naik terdapat masjid usianya setua usia kompleks makam ini. Ukurannya kecil, bahkan untuk masuk masjid harus menundukkan kepala. Arsitektur masjid Jawa dengan 4 soko guru. Beberapa bagian telah mengalami renovasi karena rusak terkena gempa tahun 2006 lalu.

Bangunan Utama Makam Sunan Pandanaran

Sampai disebuah pelataran yang terdapat sebuah masjid tua dan pendopo, akhrinya saya menemui seseorang yang menjadi juru jaga area makam tersebut yang sedang duduk-duduk diarea Pendapa. Ditempat itu saya meminta izin untuk memasuki kawasan makam dan memberikan sumbangan perawatan makam seikhlasnya. Memasuki kawasan makam, gerbang gapura berbentuk candi bentar dengan susunan balok batu dan ukiran yang khas.

Annosmile Di Makam Sunan PandanaranDi dekat gapura terdapat dua buah gentong yang terdapat ukiran naga sehingga disebut Gentong Sinogo. Didekatnya disediakan gelas untuk meminum air yang ada pada gentong tersebut. Di dekat area ini juga terdapat beberapa makam namun saya kurang memperhatikan deretan makam tua tersebut merupakan makam siapa dan hubungannya dengan Sunan Pandanaran.

Cungkup Makam Sunan PandanaranKemudian mencapai tingkatan makam yang paling tinggi, yaitu Makam Sunan Pandanaran beserta kedua istrinya yang terletak di dalam sebuah bangunan. Memasuki bangunan ini, pengunjung dipersilakan melepas alas kaki dan bersikap tenang ketika memasuki makam. Saya tidak berani motret didalam bangunan karena kondisi cukup gelap dan tidak berani menggunakan bantuan flash pada kamera karena akan mengganggu para peziarah. Didalam bangunan yang gelap ini, cukup banyak peziarah yang memanjatkan doa, entah apa yang mereka ucapkan dan apa yang mereka mohonkan. Saya hanya sebentar menengok aktivitas para peziarah dan tidak beberapa lama meninggalkan area makam Sunan Pandanaran karena takut mengganggu ritual yang mereka jalankan.

Saya mengagumi arsitektur makam ini yang menghubungkan seni arsitektur zaman Majapahit dengan periode zaman perkembangan Islam di Jawa walaupun saya merasa kesan budaya Hindu masih terlihat cukup kental di Makam Sunan Pandanaran ini.

== Tiket Masuk

Rp2.000,-/orang

 

Ada 10 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. sibair:

    mantap… aku besok di gonceng klo mau jalan2 ya :D

  2. Heru Budiyanto:

    Wah mas kok mlaku2 terusss…. kapan mari kuliahe wkwkwkwk…

  3. aming:

    aroma mistisnya kental sekalii….

  4. Si Tukang Makan:

    dapet wangsit gak?

  5. Sriyono Semarang:

    Apa masih ada hubungannya dengan Adipati pertama Semarang, Ki Ageng Pandanaran yang dimakamkan di Semarang ya? kok namanya mirip, tetapi bangunannya jauh lebih keren yang sono… :D

    • Mahendra:

      Kalau saya baca di sumber lain memang mas. Sejarahnya ki ageng pandanaran ini merupakan putra dari ki ageng pandan aran I yang merupakan bupati pertama di Semarang. Setelah beliau meninggal, digantikan anaknya pangeran Mangkubumi sbg Ki Ageng Pandan Aran II. Setelah menjabat baik selama beberapa tahum, beliau lali dengan tugasnya dan menuhankan harta. Akhirnya diutus sunan kalijaga untuk mengingatkan beliau. Setelah sadar, inti nya beliau meninggalkan tahtanyablalu pergi ke selatan (tembayat/bayat) untuk mengajarkan islan dengan gelar sunan.

  6. andipeace:

    serasa ikutan kesana deh membaca postingannya :-D

  7. anny:

    sukaaaa

  8. kips:

    Berziarah sekaligus berwisata, sepertinya asik :-D

  9. mawi wijna:

    He? Padahal di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di Candi, Ngaglik, Sleman (Jl. Kaliurang km 12) itu juga ada makam lho No. Makamnya siapa itu ya?

Kirim pendapat

error: Content is protected !!