Please disable any ad-blocker you are using in your browser.

Makam Panembahan Rama, Napak Tilas Jejak Leluhur Di Klaten

Makam Panembahan Rama, Napak Tilas Jejak Leluhur Di Klaten
2 (40%) 1 vote

Makam Panembahan Rama merupakan salah satu wisata religi atau wisata ziarah di kabupaten Klaten. Keberadaan makam ini sedikit tersembunyi diantara pemukiman penduduk di daerah Wedi Klaten. Namun masyarakat setempat sudah paham dan tidak merasa asing dengan tempat ziarah makam tersebut. Beberapa informasi menyebutkan bahwa Panembahan Rama adalah keturunan kasultanan Pajang.

Makam Panembahan Rama terletak di Desa Kajoran, Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Panembahan Rama sendiri erat kaitannya dengan kasultanan Mataram, kasultanan Pajang, dan kasunanan Surakarta.

Gerbang Masuk Makam Panembahan Rama Klaten

Saya menemukan lokasi makam ini ketika berkeliling di jalan pedesaan diseputaran Kecamatan Wedi saat mengunjungi rumah kerabat jauh dari kakek. Perjalanan menuju Makam Panembahan Rama ini melewati jalanan aspal yang sempit dan dilanjutkan melewati jalanan tanah yang disebelah kanan kirinya merupakan perkampungan.

Makam Tua Di Kompleks Makam Panembahan Rama Klaten

Tiba di kawasan Makam Panembahan Rama, saya langsung memarkir kendaraan di area parkir depan makam. Suasana Makam Panembahan Rama terlihat cukup sepi, tidak ada salah satu penjaga makam di area ketika saya tiba di lokasi. Mungkin saya mengunjunginya waktu siang hari dan bukan hari kamis/jumat, hari dimana  ada sekelompok orang melakukan ziarah dan ritual di makam-makam.

Menurut cerita, asal usul Panembahan Rama merupakan keturunan dari kesultanan Pajang. Raden Kajoran (Raden Kajoran Ambalik) yang disebut juga Pangeran Rama atau Panembahan Kajoran atau Kyai Kajoran merupakan seorang ulama terkemuka dari Kajoran. Keluarga Kajoran ini mempunyai pengaruh besar dan punya hubungan perkawinan dengan Keraton Mataram.

Watu Gilang Di Makam Panembahan Rama Klaten

Memasuki gerbang masuk, tampak sebuah bangunan tempat makam Panembahan Rama berada. Bangunan tersebut dikelilingi oleh makam-makam tua yang tidak diketahui identitasnya karena tidak terdapat papan nama makam siapa dan hanya berupa susunan batu yang disusun beberapa lapis. Pagar dan bangunan tersebut tampak baru dan terdapat papan bertuliskan “Bangunan cagar budaya” berikut tahun pemugarannya. Namun pintu masuk menuju ke dalam makam Panembahan Rama ditutup, mungkin tidak sembarangan orang boleh masuk dan harus meminta izin dulu kepada penjaga makam.

Akhirnya saya mencoba mengelilingi bangunan makam Panembahan Rama. Ketika berjalan menuju ke samping bangunan pagar, terdapat batuan yang berbentuk kotak hitam yang diatasnya terdapat bekas sesaji yang bernama Batu Gilang (Watu Gilang).

Dalam sejarahnya, Raden Kajoran menghimpun kekuatan untuk menghancurkan Sunan Amangkurat I. Raden Kajoran dalam menghimpun kekuatan tersebut dibantu oleh Pangeran Purbaya, Adipati Anom, Trunojoyo (Menantu dari Raden Kajoran), Kraeng Galesung (Menantu dari Trunojoyo) yang juga pemimpin pelarian Makasar di Demang-Basuki serta dibantu oleh sebagian prajurit mataram yang membelot untuk mengadakan serangan ke Kraton Mataram. Dalam pemberontakan Trunojoyo, Panembahan Rama terbunuh dan jasadnya dikebumikan di kompleks makam ini.

Sendang Pemandian Di Kompleks Makam Panembahan Rama Klaten

Di dekat Batu Gilang terdapat sebuah sendang yang telah dibuat menjadi pemandian. Konon di malam jumat juga digunakan sebagai sarana ritual gaib yaitu “tapa kungkum“. Kondisi sendang ini cukup terawat dan bersih. Namun sepertinya tidak ada atau jarang memanfaatkan sumber air dari tempat ini karena ketersediaan air di daerah sekitar makam Panembahan Rama ini cukup melimpah.

Area ini telah selesai dipugar, namun saya menyayangkan kondisinya tidak dikembalikan seperti aslinya. Entah ini mungkin disengaja, kesalahan, atau karena minimnya dana pemugaran. Seperti halnya kawasan wisata lain di kabupaten Klaten, seharusnya pemerintah lebih tanggap dalam mengelola dan melestarikan peninggalan sejarah yang ada di daerahnya.

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Djenambang Bin Tandjak:

    Alhamdulillah.. Semoga pemerintah peduli untuk menjaga kebersihan dan keamanan kawasan ini, khususnya pemerintah daerah setempat agar senantiasa cerdas.. Aamiin!

Kirim pendapat

error: Content is protected !!