Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, Salah Satu Warisan Budaya Di Kampung Kauman Yogyakarta

Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, Salah Satu Warisan Budaya Di Kampung Kauman Yogyakarta
3.9 (78.33%) 12 vote[s]

Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan merupakan bangunan peninggalan dari salah seorang Pahlawan Nasional yang bernama KH Ahmad Dahlan. Beliau adalah pendiri organisasi Muhammadiyah dan salah seorang tokoh penting pada era pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Pada zaman dahulu, Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan digunakan oleh KH Ahmad Dahlan untuk menjalankan ibadah shalat bersama keluarga, berdakwah, dan mengajari penduduk sekitar mengaji.

Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan berada di kampung Kauman, kelurahan Ngupasan, kecamatan Gondomanan, kota Yogyakarta.

Bangunan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan Yogyakarta

Lokasi Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan berada di dalam kawasan kampung Kauman Yogyakarta. Letaknya berada di sisi sebelah barat daya kawasan kampung Kauman yang dekat dengan Jalan Nyai Ahmad Dahlan Yogyakarta. Akses paling mudah menuju langgar ini dengan melewati gang kecil selebar 1 (satu) meter di pinggir Jalan Nyai Ahmad Dahlan. Atau dapat juga dengan menyusuri Kampung Kauman dari kawasan masjid Gedhe Kauman Yogyakarta ke arah barat sejauh kurang lebih 300 meter. Hanya saja ada beberapa tikungan jalan ketika menyusuri jalan ditengah kampung Kauman ini.

Papan Nama Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan Yogyakarta

Kawasan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan tidak memiliki area parkir kendaraan karena letaknya berada ditengah-tengah perkampungan penduduk. Pada zaman dahulu orang-orang yang datang ke langgar ini tidak membawa kendaraan atau hanya dengan berjalan kaki. Bila ada pengunjung yang datang ke tempat ini dengan membawa kendaraan, dipersilakan mencari area parkir terlebih dahulu seperti parkir kendaraan di sekitar Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Baca Juga  Inilah 6 Wisata Destinasi Digital Di Sekitar Yogyakarta

Pintu Masuk Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan Yogyakarta

Pengunjung tiba di halaman Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan setelah melewati lorong sempit dari Jalan Nyai Ahmad Dahlan Yogyakarta. Halaman tersebut cukup sempit hanya selebar 10 x 5 meter saja. Di sekeliling halaman tersebut merupakan kompleks bangunan milik KH Ahmad Dahlan yang saat ini dirawat oleh keturunannya atau ahli warisnya. Pada bagian utara terdapat bangunan rumah sebagai tempat tinggal yang kini ditinggali keturunan KH Ahmad Dahlan, pada bagian barat terdapat bangunan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan beserta perpustakaan, dan pada sisi timur terdapat bangunan yang dulu pernah digunakan untuk bangunan sekolah dasar sebelum pindah ke sebelah utara Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan berada di lantai atas atau lantai dua dari sebuah bangunan tua bertingkat milik KH Ahmad Dahlan. Pada lantai dasar difungsikan untuk perpustakaan dan kantor kecil. tempat berwudlu dan kamar mandi juga terdapat di lantai bawah atau lantai dasar. Pengunjung dapat memasuki ruangan di dalam Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan saat pagi hari hingga siang hari karena terdapat pengurusnya atau pengelolanya. Selepas siang hari, pintu masuk langgar kembali ditutup karena pengurusnya pergi dan kembali pada keesokan harinya.

Kondisi Dalam Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan Yogyakarta

Bangunan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan terdiri dari empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Pada bagian langit-langit terbuat dari anyaman bambu yang kondisinya masih tampak asli dan terawat. Bentuk jendela cukup sederhana dimana berbentuk persegi dan dilapisi oleh anyaman kawat. Kondisi lantai terlihat cukup bersih karena setiap hari dibersihkan oleh pengelola yang merawatnya. Meski sekilas tampak sederhana, isi atau arsitektur bangunan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan memiliki nilai historis yang cukup tinggi.

Baca Juga  Mie Ayam Jakarta Pak Tugiran, Pindahan Dari Utara Tugu Yogyakarta

Saat ini Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat ibadah (langgar/musholla). Pemerintah setempat menetapkan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu bangunan warisan budaya di kota Yogyakarta. Diharapkan bangunan yang ada tetap terawat dengan baik dan dapat menjadi salah satu bukti sejarah di masa mendatang. Pengunjung yang dapat ke tempat ini diharapkan tetap menjaga norma kesopanan karena bangunan tersebut masih merupakan tempat ibadah meski sudah tidak digunakan lagi. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Sukadi:

    Warisan budaya seperti ini harus tetap dilestarikan, ditengah budaya global yang terkadang “otoriter”, jangan sampai peninggalan sejarah tergusur oleh arus pembangunan

    • admin:

      Hi Sukadi,
      Benar mas harus tetap dilestarikan, salam :-)

Kirim pendapat