Labuhan Pantai Goa Cemara Dan Keunikan Sesaji Kambing Kendhit

Labuhan Pantai Goa Cemara merupakan tradisi masyarakat yang tinggal di sekitar Pantai Goa Cemara dalam menyambut pergantian Tahun Baru Jawa atau Tahun Baru Suro. Tradisi ini diselenggarakan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki yang dilimpahkan oleh-Nya. Penyelenggaraan tradisi labuhan ini cukup meriah dan mampu menarik minat wisatawan untuk menyaksikan prosesi budaya ini.

Labuhan Pantai Goa Cemara diselenggarakan di area Pantai Goa Cemara, dusun Patehan, desa Gadingsari, kecamatan Sanden, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

kirab-budaya-labuhan-pantai-goa-cemara-bantul

Lokasi Labuhan Pantai Goa Cemara berada di area pendopo budaya Pantai Goa Cemara Bantul. Untuk menuju ke pantai ini sudah cukup jelas rambu-rambu petunjuk jalannya karena sudah menjadi bagian dari daya tarik utama wisata pantai di kabupaten Bantul. Persiapan Labuhan Pantai Goa Cemara dilakukan di halaman rumah kepala dusun Patehan yang letaknya sekitar 2-3 kilometer dari area pantai. Para peserta labuhan dan kirab diikuti oleh masyarakat desa setempat yang berprofesi sebagai petani, nelayan, dan pedagang di area obyek wisata. Para peserta kirab mengenakan busana jawa lengkap dengan membawa sejumlah uba rampe mulai dari gunungan, tumpeng sego gurih, ingkung ayam, pisang sanggan, dan kambing kendit (wedhus kendit).

barisan-kirab-labuhan-pantai-goa-cemara-bantul

Hal yang menarik perhatian dalam Labuhan Pantai Goa Cemara adalah keberadaan sesaji atau uba rampe yang bernama Kambing Kendit atau dalam bahasa Jawa berarti Wedhus Kendhit. Kambing Kendit merupakan kambing lokal (jawa) yang berwarna hitam dan terdapat warna putih pada bagian perut sehingga menyerupai sabuk (jawa:kendhit). Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Kambing Kendit juga sering disebut kambing pethuk yang mempunyai makna methuk rezeki (Jawa:methuk=rezeki). Masyarakat berharap dengan dilaksanakan labuhan ini, seluruh warga dusun atau warga desa yang tinggal di sekitar pantai tersebut dilancarkan rezekinya.

Baca Juga  Tradisi Tahunan Merti Dusun Gunturan Bantul

gunungan-hasil-bumi-dalam-labuhan-pantai-goa-cemara-bantul

Prosesi Kirab Budaya Labuhan Pantai Goa Cemara dimulai dari halaman rumah kepala dusun Patehan berjalan kaki menuju ke area Pantai Goa Cemara. Perjalanan kirab budaya melewati Jalur Lintas Selatan (JLS) Pulau Jawa kemudian memasuki gerbang utama Pantai Goa Cemara. Acara sedikit mundur dari jadwal yang diumumkan dari pukul 08.00 pagi dan baru dimulai sekitar pukul 11.00 siang. Namun sepertinya penonton masih antusias untuk menyaksikan acara yang digelar satu tahun sekali tersebut.

Arak-arakan Kirab Budaya Labuhan Pantai Goa Cemara berhenti di depan pendopo budaya kemudian masing-masing peserta arak-arakan menampilkan beberapa tarian yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Sekitar 30 menit pementasan seni budaya berlangsung dan salah satu pementasannya menceritakan asal usul tradisi Labuhan Pantai Goa Cemara ini. Setelah beberapa pementasan tari berakhir, sesaji kambing kendhit dan gunungan hasil bumi dibawa keluar area hutan cemara udang menuju ke area tepi pantai. Sebelumnya dilakukan pembagian nasi kuning atau nasi gurih gratis sebanyak 5000 bungkus kepada seluruh penonton yang hadir dalam prosesi ini.

prosesi-larung-sesaji-labuhan-pantai-goa-cemara-bantul

Acara puncak Labuhan Pantai Goa Cemara Bantul dengan melarung kambing kendhit ke laut selatan. Acara ini dimulai dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memberi salam kepada penguasa laut selatan sebagai penunggu pantai ini. Juru kunci dan barisan pembawa kambng kendhit duduk bersila sambil berdoa. Setelah ritual doa berakhir, dilakukan prosesi larungan kambing kendhit ke tengah laut oleh beberapa orang. Prosesi ini diawasi oleh Tim SAR untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan karena ombak pantai selatan cukup berbahaya. Acara penutup dilakukan rebutan gunungan hasil bumi yang sebelumnya didoakan bersama dengan sesaji kambing kendhit yang dilarung. (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. rizzaumami:

    setiap daerah punya tradisi unik seperti ini, terutama yang berada di area pantai, kalau di jepara melarung kepala kerbau setiap hari ketujuh lebaran idul fitri.

  2. kianpi:

    Bener-bener tradisi yang unik…

    • admin:

      Hi kianpi,
      Memang unik mas dan semoga masih dilestarikan oleh generasi selanjutnya.

Kirim pendapat