Labuhan Laut Pantai Ngrenehan, Salah Satu Tradisi Peringatan Satu Suro Di Gunungkidul

Tahun Baru Muharram atau yang sering disebut dengan Satu Suro banyak diperingati dengan berbagai macam tradisi dan acara di seluruh penjuru Indonesia. Tidak terkecuali di daerah Gunungkidul, Peringatan Satu Suro pun rutin diselenggarakan setiap tahun. Diantaranya yang menarik untuk ditonton adalah Upacara Labuhan Laut di kawasan Pantai Ngrenehan.

Upacara Labuhan Laut (ada juga yang menyebutnya sedekah laut atau larung sesaji) Pantai Ngrenehan diselenggarakan setiap tanggal satu Suro atau satu Muharram dalam penanggalan kalender Jawa atau Islam (Arab).

Tempat Sesaji Berbentuk Ayam Jantan

Dalam beberapa tahun belakangan ini Upacara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan diselenggarakan secara meriah oleh warga sekitar. Sehari sebelum acara, umbul-umbul dan spanduk acara sudah terpasang di jalan menuju Pantai Ngrenehan. Selain ungkapan rasa syukur dan memperingati satu suro, warga sekitar Pantai Ngrenehan berharap dengan keberadaan acara ini mampu meningkatan kunjungan wisatawan ke kawasan pantai.

Sejak pagi hari, persiapan Upacara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan sudah dilakukan mulai dari persiapan tempat sesaji berupa tandu berbentuk ayam jantan jawa (jago). Tandu tersebut dibuat oleh warga dengan rangka dari batang bambu yang dilapisi kertas minyak dan bulu ayam kampung (jawa) yang beraneka warna. Tandu sesaji berbentuk ayam jantan jawa tampak unik dan lain daripada tandu sesaji biasa yang berbentuk rumah-rumahan kotak. Meski demikian ada beberapa tandu sesaji pelengkap berbentuk rumah-rumahan sumbangan dari donatur luar daerah.

Sejarah diselenggarakan Upacara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan ini bermula dari pindahnya beberapa nelayan dari Pantai Baron dan menetap di Pantai Ngrenehan pada tahun 1980an atau sekitar 25 tahun yang lalu. Perlahan-lahan jumlah nelayan di kawasan Pantai Ngrenehan semakin bertambah. Tahun 2007, para nelayan bersama warga sekitar berinisiatif melakukan labuhan laut atau sedekah laut sendiri dan terpisah dari Labuhan Laut Pantai Baron. Hingga saat ini upacara labuhan tersebut dikenal dengan Labuhan Laut Pantai Ngrenehan.

Juru Kunci Pantai Ngrenehan Berdoa Sebelum Acara Labuhan Pantai Ngrenehan Dimulai

Persiapan lain dilakukan di rumah-rumah penduduk dan mendirikan panggung di tepi pantai. Sebelum acara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan dimulai, juru kunci Pantai Ngrenehan berjalan menuju ke arah tepi pantai. Juru kunci tersebut menaiki salah satu batu karang yang terdapat di tepi pantai bagian timur dekat dengan tebing karang. Selanjutnya juru kunci tersebut duduk bersila sambil memanjatkan doa atau mantra.

Baca Juga  Mie Ayam Jalan Gajah Mada Yogyakarta Kadang Buka Kadang Tutup

Ritual doa yang dilakukan oleh juru kunci tersebut bertujuan agar penyelenggaraan acara labuhan laut berjalan lancar dan selamat tidak ada gangguan. Bau menyan mulai menusuk hidung takala juru kunci tersebut membakarnya diatas batu karang. Beberapa macam sesaji yang dibawa warga diletakkan oleh juru kunci disamping bakaran menyan.

Sesaji yang dilarung isinya bermacam-macam mulai dari tumpeng nasi kuning, jajanan pasar, ingkung ayam, telur rebus, ketupat ketan merah, ketupat nasi, sayuran, buah-buahan, potongan olahan ikan laut, ayam hidup, dan sebagai hasil bumi yang dihasilkan oleh warga sekitar dan nelayan.

Kirab Sesaji Labuhan Pantai Ngrenehan

Tidak lama kemudian Upacara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan dimulai dengan kirab sesaji yang diiringi dengan barisan warga yang berpakaian adat jawa. Urutan iring-iringan dimulai dari pager ayu yang melemparkan bunga, disusul dengan perangkat desa dan nelayan yang membawa tandu sesaji. Kirab dimulai dari pos penjagaan nelayan Pantai Ngrenehan sebagai tempat mempersiapkan sesaji menuju ke tepi pantai. Barisan paling depan berupa rombongan wanita berpakaian adat jawa melemparkan bunga ke arah jalan yang akan dilalui. Para penonton pun memadati sepanjang jalan yang dilalui oleh barisan kirab tersebut.

Ketika tiba di bibir pantai, tandu berisi sesaji tersebut masing-masing diletakkan pada perahu jukung milik nelayan  yang telah dipersiapkan. Perahu SAR siap siaga mengamankan upacara Labuhan Laut Pantai Ngrenehan karena sesaji akan dilabuh atau dilarung ke tengah laut. Setelah semua tandu sesaji diletakkan ke atas perahu dan semua peserta labuhan laut siap, perlahan-lahan perahu nelayan didorong ke arah laut. Penonton diizinkan mengikuti prosesi labuhan ini dengan menaiki perahu namun harus seijin ketua panitia karena jumlahnya terbatas. Beberapa perahu pengawal disiagakan untuk mengiringi prosesi larung sesaji ini.

Baca Juga  Mie Ayam Bangka Pak Harun, Salah Satu Kuliner Khas Bangka di Yogyakarta

Sesaji Labuhan Pantai Ngrenehan DIbawah Ke Tengah Laut Selatan

Tidak lama kemudian mesin perahu dihidupkan dan perlahan-lahan perahu diarahkan ke tengah laut. Jarak tempuh menuju ke lokasi labuhan atau tempat melarung sesaji sekitar 2-3 km dari bibir pantai. Perjalanan menuju ke tengah laut merupakan adrenalin tersendiri bagi yang belum pernah merasakan naik perahu di laut selatan atau Samudera Indonesia. Ombak yang ganas dan tinggi sangat beresiko bila menggunakan perahu atau kapal berukuran kecil.

Semua sesaji termasuk tandu dilarung/dilabuh ditengah laut dan tidak menyisakan apapun untuk dibawa kembali ke darat atau ke pantai. Setelah selesai dilabuh, perahu kembali menuju pantai untuk bersandar. Acara labuhan sesaji tidak sepenuhnya usai karena dalam rangkaian terdapat acara penutup berupa pentas pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di tepi pantai. Hiburan lain setelah upcara labuhan selsai adalah pentas seni dan hiburan dangdut di tenda yang didirikan di tepi Pantai Ngrenehan. (text/foto: annosmile)

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Idah Ceris:

    Di laut, tapi tandunya ayam. Kenapa enggak Ikan yo, Mas. Unik banget.
    Di laut2 kalau syuro ramai. Pangandaran kenmarin juga gitu.

    Menusuk hidup apa hidung? :)

Kirim pendapat