Labuhan Alit Parangkusumo, Peringatan Bertahatanya Raja Yogyakarta

Labuhan Alit Parangkusumo, Peringatan Bertahatanya Raja Yogyakarta
3 (60%) 4 votes

Labuhan Alit Parangkusumo merupakan salah satu tradisi Kraton Yogyakarta yang digelar di kawasan Pantai Parangkusumo Kompleks Pantai Parangtritis Bantul Yogyakarta. Tradisi serupa juga diselenggarakan pihak kraton di lereng Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Tradisi Labuhan Alit Parangkusumo telah diselenggarakan berabad-abad yang lalu  sejak berdirinya Kerajaan Mataram hingga sekarang.

Labuhan Alit Parangkusumo adalah tradisi Kraton Kasultanan Yogyakarta yang dilaksanakan setahun sekali di kawasan Pantai Parangkusumo pada tanggal 30 bulan Rejeb dalam penanggalan Jawa atau bertepatan dengan jumenengan raja (sultan).

Ritual Yang Dilakukan Di Cepuri Parangkusumo Dalam Labuhan Alit Parangkusumo Kraton Yogyakarta

Lokasi Labuhan Alit Parangkusumo Kraton Kasultanan Yogyakarta berada di Cepuri Parangkusumo, Kawasan Pantai Parangkusumo. Untuk menuju pantai ini cukup mudah dengan menyusuri jalan berpaving ke arah barat dari kawasan Pantai Parangtritis hingga tiba di sebuah kawasan pantai yang terdapat gapura kraton di sebelah kanan. Lokasi Cepuri Parangkusumo berada di dalam kompleks gapura tersebut.

Sesaji dalam Labuhan Alit Parangkusumo antara lain pengajeng, pendherek lorodan agem Dalem Sultan dan lorodhan, seperangkat pakaian wanita, bunga serta aksesoris wanita, potongan kuku atau kenoko,  potongan rambut atau rikmo Ngarso Dalem, dan bunga kering sisa jamasan pusaka Keraton Jogja selama setahun.

Persiapan Labuhan Alit Parangkusumo Kraton Yogyakarta

Prosesi Labuhan Alit Parangkusumo dimulai dengan serah terima sesaji dari utusan Kraton Yogyakarta kepada juru kunci Pantai Parangkusumo (Ki Surakso Tarwono) di Kompleks Pendopo Cepuri Parangkusumo. Utusan Kraton Yogyakarta membawa sesaji memasuki pintu utara Cepuri Parangkusumo kemudian meletakkannya di ditengah-tengah pendopo. Proses serah terima sesaji berlangung khidmad diikuti utusan berikut kerabat Kraton Yogyakarta yang hadir.

Prosesi Melarung Uba Rampe Labuhan Alit Parangkusumo Kraton Yogyakarta

Acara dilanjutkan dengen ritual doa di halaman Cepuri Parangkusumo yang terdapat dua bongkahan batu yang dikeramatkan dan diyakini sebagai tempat bertemunya antara para Sultan Yogyakarta dengan penguasa laut selatan (Ratu Kidul). Sesaji atau ubarampe dari Pendopo cepuri dibawa ke tempat ini kemudian didoakan di hadapan batu keramat tersebut.

Kepala kerbau yang sejak tadi dipersiapkan ditanam di pojok halaman area batu keramat oleh salah satu pembantu juru kunci ketika melakukan ritual doa di batu keramat. Acara ritual doa di batu keramat berakhir ketika sekumpulan kerabat kraton menghampiri batu tersebut sambil memberi hormat dan menaburkan bunga.

Ritual Doa Di Pinggir Pantai dalam Prosesi Labuhan Alit Parangkusumo Kraton Yogyakarta

Usai acara di Cepuri Parangkusumo, acar dilanjutkan dengan membawa sesaji dan ubarampe oleh para abdi dalem dengan dipimpin juru kunci Pantai Parangtritis menuju ke Laut Selatan. Arak-arakan membawa sesaji dan ubarampe ini cukup menarik minat wisatawan yang kebetulan sedang berkunjung ke kawasan Pantai Parangkusumo (Parangtritis). Sebelum dilarung atau dilabuh ke laut, sesaji dan ubarampe diletakkan di atas pasir dan juru kunci mengucapkan doa menghadap ke arah laut. Suasana berubah menjadi hening ketika bayu menyan cukup pekat terhirup. Akhirnya Labuhan Alit Parangkusumo ditutup dengan melarung sesaji dan ubarampe ke laut dibantu tim SAR Pantai Parangtritis. (text/foto: annosmile)

INFORMASI
Pantai Parangkusumo
Kompleks Pantai Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. sarah:

    Sungguh mengesankan, suatu tradisi yang harus slalu tetap dilestarikan

    • admin:

      Hi Sarah,
      Iya tradisi nenek moyang harus dilestarikan agak dapat disaksikan oleh anak cucu kita :-)

Kirim pendapat