Kompleks Candi Dieng

Kompleks Candi Dieng
Rate this post

Setelah cukup puas melihat keganasan Kawah Sikidang, kami menyambangi sebuah kompleks candi peninggalan Hindu. Keberadaan Candi Dieng ini terletak di pegunungan (tanah) Dieng yang dianggap suci, karena Dieng merupakan tempat bersemayamnya arwah para dewa-dewi.

Dieng dalam bahasa Jawa kuno yaitu kata dhi dan hyang. Dhi artinya gunung, sedangkan hyang diambil dari kata para hyang, yang artinya para dewa-dewi. Dari asal kata itulah Dieng kemudian diartikan sebagai gunung tempat para dewa-dewi yang kemudian oleh masyarakat setempat dianggap tanah suci

Kompleks Candi Dieng ini tersebar lokasinya di tiga tempat yaitu Kompleks Candi Arjuna, Candi Bima, dan Candi Gatotkaca. Kami mengunjungi Candi Bima yang terletak terpisah dengan candi-candi lainnya. Terletak di pinggir jalan menuju Kawah Sikidang, sehingga akses untuk menuju candi ini cukup mudah.

Candi Bima

Candi Bima memiliki ketinggian sekitar 8 meter, dibangun di atas pondasi yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6 x 6 meter. Candi Bima memiliki hiasan pada bagian puncaknya. Candi yang berbentuk Sikhara (mangkuk yang ditangkupkan) ini, mendapat pengaruh gaya arsitektur dari India Utara. Sedangkan pengaruh gaya arsitektur India Selatan, terdapat pada hiasan-hiasan menara dan relung-relung yang berbentuk tapal kuda.

Candi Gatotkaca

Kemudian kami melanjutkan menuju candi selanjutnya yaitu Candi Gatotkaca yang terletak tidak jauh dari Candi Bima. Candi Gatotkaca terletak di Bukit Panggonan, dari tepi candi terlihat Telaga Balekambang yang belum dikelola oleh Dinas Pariwisata.

Candi Gatotkaca yang berukuran 4,5 x 4,5 meter dan berbentuk bujur sangkar.

Kompleks Candi Arjuna

Terakhir, kami mengunjungi kompleks Candi Arjuna yang terletak ditengah sebuah hamparan tanah luas yang terlihat jauh dari kejauhan. Terbagi dalam dua barisan bangunan candi, yaitu deretan timur terdapat Candi Arjuna-Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Sedangkan pada deretan candi di sebelah barat terdapat Candi Semar dan Candi Arjuna. Kelompok candi ini bangunannya berbentuk bujur sangkar dan berhiaskan relung-relung dan hiasan kala-makara di bagian dindingnya. Hiasan candi ini paling banyak terdapat pada puncaknya.

Candi Arjuna memiliki keistimewaan karena terdapat bak batu yang selalu terisi tetesan air embun yang berasal dari atap candi. Uniknya, sekumpulan air embun tersebut tidak bisa kering walaupun terkena panas matahari. Karena tak bisa kering, kemudian oleh masyarakat disakralkan dan diberi nama air kehidupan “Parwito Sari” serta dipercaya banyak mengandung berkah bagi yang menggunakannya.

Beberapa candi lain seperti Candi Setyaki, Petruk, Antareja, Nala Gareng, Nakula, dan Sadewa hanya tinggal fondasi dan sedikit puing-puingnya saja. Beberapa puing-puing juga disimpan di Museum Purbakala Dieng.

Ada 23 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. badoer:

    duuh saya yang asli banjarnegara malah arang posting2 tentang dieng lagi.. :D udah lama saya ndak post tentang wisata banjar.. thanks mas inponya, berasa seperti dirumah sendiri.. kelamaan di Solo nie :D

  2. zam:

    wah.. blom pernah ke candi ituh!!

    candi Arjuna mengingatkanku pada bentuk candi ketiga dari gugusan Candi Gedong Songo..

    Candi Gatotkaca sepertinya belum sempurna. ada beberapa bagian (terutama atap) yang hilang..

    Thanks for de info. udah lama pengen ke candi ini..

  3. ndop:

    persis kayak candi Penataran. Soalnya sama-sama candinya orang Hindu…

    • annosmile:

      Memang mirip :D

  4. Balisugar:

    Aku pernah kesana mana tahannnnnnnnn dingin

  5. master Mr Bokers:

    boker aja gak tau boker pernah k candi atau nggak,,,

    di’arapin kunjungan baliknya ya,,,

    ada post baru tuch,,,

  6. Ani:

    Pingin ke sana nih, belum pernah soalnya yang Candi Dieng ini. Hmm…kapan ya ?

  7. bocahbancar:

    Wow bener2 Team Touring sejati he he..

    Saya belum pernah menginjakkan di Kaki Dieng sama sekali Maz..

    Tapi sudah senang bisa menikmati review nya di sini….

  8. masarif:

    hu’u cuma bisa memendam pingin :)
    Semoga lain waktu, lain kesempatan bisa kesana

  9. kucingkeren:

    ahh.. dinginnya di sini..sejuk..adem.. kayaknya gak mo pulang dehh.. :-)..

  10. yoan:

    wuih iya ya,
    katanya dieng suejuk suejuk gitu….

    jadi pengen ke sana…

    asik banget tho mas sampeyan jalan2 terus…

  11. Narmadi:

    Yang selalu saya ingat dengan Dieng selain keindahannya adalah…jam 12 siang orang-orang di sana bekerja masih memakai sarung…

    • annosmile:

      Dan kamipun membawa sarung mas :D

  12. Yusa:

    kayanya kl ada versi inggrisnya jadi makin bagus mas.. promosi wisata ke luar negeri..

    • annosmile:

      makasih sarannya
      rencana dikemudian hari mungkin
      belum ada dana beli domain :(

  13. kacrut:

    humm.. iya mirip penataran..

    emang kerjaannya touring mulu yah… enak nyaaaaa…. {doh) jadi mupeng neh…

  14. thegands:

    themesnya di modif abis nih sama si mas.. anyway salam kenal mas. candynya cantik2 ya.. kapan yah saya bisa kesana bersama seorang yang spesial? hehhee..

  15. suwung:

    lapor bos disitu banyak yang rusak… baik sebab tangan jahil maupun alam (banyak disamber gledek lho) dulu pernah kemping di komplek candi song eh gedong songgo seminggu bos diriku… mandinya di air panas… masih ada ngak ya?

    • annosmile:

      Klo Candi Gedong Songo masih dibuka pemandian air panasnya
      Sudah terkelola dengan baik :)

  16. GRAZZMEY:

    wahh tyata dieng baguzzzzzzzzzzz

  17. johan:

    perjalanan menantang kali ini ke dieng dengan cuaca yg lumayan extrem di tambah dinginnya dieng. semua itu dapat trlupakan ketika saya berada di kawasan dieng .gilaa keren banget..apa lagi telaga warna top lah

  18. sis:

    njaluk inpone, jalan ke dieng dibandingkan dengan tawangmangu ke cemoro sewu, lebih extrem mana om, saya mau nyoba ke dieng nih

  19. christop:

    merindukan sekali suasana dieng … jam 12 siang di gardu pandang dingin sekali … jam 3 sore kabut tebal sudah mulai turun … sepertinya ini tempat paling dingin se-jawa (kalo boleh saya bilang slama saya travelling sih begitu)
    blm pernah nginep di dieng … pengen nginep tapi takut gak mau mandi .. hahahhaaa
    puji tuhan kenal cewek wonosobo meski lwt fb .. sudah menapaki 7 bulan bersama hubungan jarak jauh surabaya-wonosobo.. dieng sudah menjadi makanan stiap bulan … tidak ada yg seindah di gardu pandang kalo pacaran :p hehehehhehee….. INFO yg bagus … 

Kirim pendapat