Keunikan Arsitektur Masjid Soko Tunggal

Keunikan Arsitektur Masjid Soko Tunggal
Rate this post

Keberadaan Masjid Soko Tunggal memang jarang dikenal oleh para wisatawan meskipun tidak jauh dari lokasi masjid terdapat sebuah obyek wisata yang sangat terkenal di kota Yogyakarta. Masjid Soko Tunggal terletak satu gang masuk dengan Istana Air Taman Sari yang sedikit tertutup oleh pagar setinggi dua meter sehingga tidak tampak dari luar kalau tidak diamati secara teliti.

Masjid Soko Tunggal diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 28 Pebruari 1973 dengan prasasti yang bertuliskan candra sengkolo “Hanembah Trus Gunaning Janmo”. Masjid Soko Tunggal di desain oleh R. Ngabehi Mintobudoyo (almarhum), arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir.

Gerbang Masuk Masjid Soko Tunggal

Memasuki gerbang masjid Soko Tunggal langsung disambut bangunan utama masjid. Halaman masjid Soko Tunggal cukup sempit dan hanya mampu digunakan untuk parkir beberapa motor saja sedangkan kendaraan roda empat parkir di area parkir Istana Air Taman Sari. Bangunan masjid Soko Tunggal dari luar tampak seperti bangunan masjid biasa yang tersusun dari kayu jati yang diukir.

Bangunan utama Masjid Soko Tunggal bercat kuning gading bercirikhas bangunan masjid kraton namun berukuran kecil. Serambi dan ruangan utama masjid dilapisi alas keramik berwarna kuning kecoklatan. Setelah melepas sandal saya langsung berjalan ke arah tempat wudlu untuk mensucikan diri dan memasuki ruangan masjid.

Tiang Masjid Soko Tunggal

Saya menyempatkan shalat dzuhur terlebih dahulu baru kemudian melihat arsitektur bangunan masjid Soko Tunggal. Ketika mengamati ruangan utama masjid Soko Tunggal terpancar keunikan bangunan masjid. Masjid Soko Tunggal hanya ditopang oleh satu tiang berukuran besar yang terdapat di bagian tengah. Berbeda dengan bangunan masjid ataupun rumah model Jawa kebanyakan yang menggunakan tiang panjang di keempat sudut bangunannya.

Tiang penopang yang terdapat di tengah-tengah masjid ini terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi dan diukir dengan gaya ukiran khas kraton. Tiang utama ini memiliki makna filosofi sebagai ketunggalan yaitu Tuhan Itu Esa dan mencitrakan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Umpak Masjid Soko Tunggal

Dibagian bawah tiang penyangga terdapat sebuah umpak raksasa yang terbuat dari batu. Umpak batu ini memiliki keistimewaan karena memiliki sejarah yang panjang dalam Kerajaan Mataram Islam. Menurut informasi umpak tersebut berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokro Kusumo dari Kerajaan Mataram Islam. Umpak batu tersebut diambil dari Situs Kerta peninggalan kerajaan Mataram Kerta (Karta) yang dahulu menjadi umpak batu bangunan kraton.

Situs Kerta yang sebelumnya ditemukan tiga buah umpak batu kemudian diambil sebuah umpak batu untuk menjadi bagian dari Masjid Soko Tunggal oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Konon bangunan masjid Soko Tunggal saat dibangun tidak menggunakan paku tetapi menggunakan sistem kuncian antar kayu mirip dengan sistem kuncian pada bangunan candi.  (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat