Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo, Salah Satu Jembatan Penyebrangan Bambu di Sungai Progo

Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo merupakan salah satu jembatan bambu (sesek) yang dibangun di aliran Sungai Progo untuk menghubungkan dua wilayah kabupaten yaitu kabupaten Bantul dan kabupaten Kulon Progo. Jembatan ini konon merupakan jembatan bambu terpanjang di Indonesia karena memiliki panjang jembatan sekitar 150 meter. Jembatan bambu ini hanya beroperasi ketika memasuki musim kemarau dan saat musim penghujan digantikan dengan rakit penyebrangan.

Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo menghubungkan dua wilayah dari dusun Manukan, desa Sendangsari kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul dengan dusun Temben, desa Ngentakrejo, kecamatan Lendah, kabupaten Kulon Progo yang dibatasi oleh aliran Sungai Progo.

Kondisi Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo Sungai Progo Yang Dibangun Saat Musim Kemarau

Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo ini dibangun ketika memasuki musim kemarau dimana debit air Sungai Progo mulai berkurang dan aliran sungai terlihat lebih tenang. Pembangunan jembatan dimulai ketika rakit penyebrangan mulai kesulitan digunakan karena aliran sungai mulai dangkal. Pembangunan menggunakan sisa bambu dari jembatan bambu tahun lalu yang masih digunakan dan batang bambu baru. Tujuannya untuk efisiensi biaya pembangunan dan tetap memperhatikan faktor keselamatan.

Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo Sungai Progo Dari Tepi Sungai

Konstruksi Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo bisa dibilang tidak sederhana karena proses pembuatannya membutuhkan pemikiran tinggi dan perhitungan yang matang. Tidak mudah memancangkan tiang-tiang bambu ke tengah-tengah aliran sungai terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Arus sungai cukup kuat meskipun debit air telah menurun dan diperlukan keahlian khusus menjalin ratusan batang bambu untuk dijadikan sebagai konstruksi jembatan.

Baca Juga  Pojok Beteng Kulon

Pengunjung yang pertama kali akan melintas di Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo ini akan terheran-heran akan kemampuan jembatan ini yang mampu dilalui segerombolan kendaraan yang dijumlahkan memiliki berat ratusan kilogram. Ada juga pengunjung yang pertama kali melintas merasakan kengerian apabila tiba-tiba jembatan tidak mampu menahan beban kendaraan yang melintas. Namun hal ini diyakinkan oleh pengelola jembatan bambu bahwa jembatan ini cukup aman untuk dilewati dan setiap hari dilakukan pengecekan kondisi jembatan sekaligus perbaikan.

Konstruksi Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo Sungai Progo

Iuran atau sumbangan sukarela diberlakukan kepada pengguna kendaraan yang melintasi Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo ini. Besaran iuran tersebut berkisar antara Rp 1.000,- atau Rp 2.000,-, namun tidak jarang pengguna jembatan bambu ini membayar iuran ketika pulang dari bekerja. Biasanya penjaga jembatan bambu sudah paham tentang hal tersebut. Iuran ini digunakan untuk biaya pengganti pembangunan jembatan, perawatan jembatan, dan upah pengelola jembatan. Dana pembangunan jembatan bambu ini murni berasal dari masyarakat setempat yang mengusahakan pembangunan jembatan tanpa ada campur tangan pihak lain.

Aktivitas Menyebrangi Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo Sungai Progo

Aktivitas para pengguna Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo terlihat ramai saat pagi hari ketika masyarakat berangkat sekolah atau bekerja dan saat sore hari ketika pulang dari bekerja. Pengguna jembatan bambu ini didominasi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah kabupaten Kulon Progo untuk berangkat menuju ke Kota Yogyakarta. Pada siang hari tetap ada pengguna jembatan bambu ini hanya saja jarang terlihat beriringan menyebrangi jembatan.

Baca Juga  Penasaran dengan Jembatan Gantung Imogiri (Selopamioro)

Keberadaan Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo cukup vital untuk menyingkat waktu perjalanan pengguna jalan. Jembatan bambu ini lebih tepatnya menjadi akses jalan utama karena menjadi pengharapan para pengguna jalan. Bila pengguna jalan mengambil jalan memutar melewati Jembatan Srandakan akan membutuhkan jarak dua kali lipat dibandingkan melewati jembatan bambu ini dan otomatis waktu perjalanan pun membengkak.

Saling Bergantian Melewati Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo Sungai Progo

Terbersit kabar sempat ada rencana pembangunan jembatan permanen untuk menggantikan Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo ini namun urung ada kejelasan. Masyarakat setempat yang mengusulkan pembangunan jembatan kepada pemerintah daerah kemudian diteruskan kepada pemerintah pusat. Namun hingga saat ini tidak ada jawaban dan masyarakat tetap bergantung pada jembatan bambu ini.

Keberadaan Jembatan Sesek Manukan-Ngentakrejo yang melintasi aliran Sungai Progo ini kerap kali dijadikan sebagai potret kemunduran atau ketertinggalan zaman. Biasanya orang yang memiliki argumen demikian belum melihat secara langsung keadaan jembatan sesek yang kokoh dan mampu menahan beban ratusan kilogram. Rancangan dan penghitungan matang dalam membangun jembatan bambu ini tidak setiap orang berhasil untuk membuatnya. Antara pro dan kontra keberadaan jembatan sesek (bambu) merupakan bagian dari keistimewaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (text/foto: annosmile)

Ada 3 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. nbsusanto:

    menurut yang pernah saya pelajari, konstruksi bambu memang seringkali dipandang sebelah mata, padahal kalo penanganannya tepat, bambu punya kekuatan yang sangat tinggi..

    oiya ini berarti sudah masuk kawasan pajangan ya mas? soalnya beberapa bulan lalu pas masih musim penghujan sempet ke kawasan mangir dan melihat yang pakai rakit.. saya yang orang bantul malah belum pernah liat langsung jembatan ini.. :D

  2. Tips:

    Jembatannya agak menyeramkan, apalagi kalu lg deras arusnya yah…., dulu di dkat rumah saya juga pernah ada tp jembatan bambu nya di gantung pake tali, gak di tanam ke tanah seperti itu…

  3. Tirta Wahyu:

    ini jembatan yang utara kayaknya ya om?

Kirim pendapat