Jembatan Sayidan Yogyakarta Yang Menarik Perhatian Itu

Jembatan Sayidan merupakan salah satu dari beberapa jembatan yang dibangun di kawasan kota Yogyakarta. Jembatan ini membelah aliran Sungai Code yang berhulu dari lereng Gunung Merapi dan bermuara ke Sungai Opak dan laut selatan. Nama Jembatan Sayidan perlahan-lahan mulai dikenal oleh para wisatawan dan media seiring dengan kemunculan lagu “Di Sayidan” oleh salah satu grup band ternama di Yogyakarta yaitu Shaggy Dog.

Jembatan Sayidan membelah Sungai Code yang menghubungkan antara Jalan Pangeran Senopati dengan Jalan Sultan Agung di pusat kota Yogyakarta. Awal mulanya berfungsi sebagai pintu masuk kawasan ibukota Kraton Yogyakarta.

Papan Nama Jembatan Sayidan Yogyakarta

Lokasi Jembatan Sayidan Yogyakarta berada di jalan utama penghubung antara Kraton Yogyakarta dengan Puro Pakualaman atau jalan ke arah timur dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Dilihat secara sekilas mungkin tidak berbeda dibandingkan jembatan lain yang dibangun di sekitar Yogyakarta. Namun dilihat dari segi historis dan fungsinya mungkin seseorang akan berdecak kagum. Pada zaman dahulu, Jembatan Sayidan sebagai gerbang masuk pusat kota atau ibukota wilayah Kraton Kasultanan Yogyakarta dari sisi timur. Sedikit informasi bahwa Kraton Kasultanan Yogyakarta diantara dua aliran sungai pada sisi barat dan sisi timur. Hal ini dibuktikan dengan gapura bentar yang berada di sebelah barat Jembatan Sayidan pada sisi kiri dan kanan jalan.

Fungsi gerbang masuk Kraton Kasultanan Yogyakarta ini mulai memudar ketika kota Yogyakarta berkembang dan masuknya pemerintah Belanda ke kota ini. Titik puncaknya ketika Kraton kasultanan Yogyakarta bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, jembatan Sayidan menjadi jembatan biasa seperti jembatan lain yang ada disekitarnya. Keberadaan gapura bentar yang ada disebelah baratnya masih dipertahankan dan tetap digunakan sebagai batas antara Kraton Kasultanan Yogyakarta dengan Puro Pakualaman hingga saat ini.

Jembatan Sayidan Yogyakarta dikeliling oleh 4 (empat) kampung diantaranya sisi barat daya terdapat kampung Sayidan, sisi barat laut terdapat kampung Ratmakan, sisi timur laut terdapat kampung Jagalan Beji, dan sisi tenggara terdapat kampung Bintaran Kulon.

Lalu Lintas Di Jembatan Sayidan Yogyakarta

Jembatan Sayidan Yogyakarta pun tidak diketahui kapan tepatnya dibangun. Dugaan sementara bahwa jembatan ini mulai dibangun atau telah ada ketika Kraton Kasultanan Yogyakarta berdiri. Bentuknya pun telah banyak mengalami perubahan dan pembangunan ulang. Saat ini Jembatan Sayidan menggunakan konstruksi modern dengan rangka baja dan beton sebagai penyangga. Perbaikan jembatan ini rutin dilakukan beberapa tahun sekali dengan penggantian beberapa lempengan baja dan lapisan aspal diatas jembatan.

Baca Juga  Situs Watugudig

Belum lama ini Jembatan Sayidan dipercantik dengan gapura berbentuk benteng. Gapura tersebut dibangun pada ujung kedua sisi jembatan untuk menambah daya tarik jembatan dan memperkuat nilai historis dari jembatan itu sendari yaitu salah satu gerbang masuk menuju Kraton Kasultanan Yogyakarta. Bentuk gapura ini juga diaplikasikan pada jembatan lain yang pada zaman dahulu juga berfungsi sebagai pintu gerbang menuju kraton. Kreativitas dalam mempercantik jembatan ini cukup menarik walaupun bentuk gapura yang dibangun lebih ke arah modern.

Gapura Jembatan Sayidan Yogyakarta

Papan nama Jembatan Sayidan yang ditulis dengan huruf latin dan huruf jawa mengindikasikan bahwa jembatan ini masih memiliki peran penting dari zaman dahulu hingga saat ini. Banyak orang tidak menyadari tentang hal tersebut dan sering mengabaikannya. Nama Sayidan yang digunakan pada jembatan tersebut berasal dari nama kampung yang berada di sisi barat Sungai Code sebelah selatan jalan. Kampung Sayidan dalam sejarahnya merupakan kampung tempat tinggal para pendatang dari etnis Arab. Etnis Arahbtersebut disebut orang Jawa (Jogja) sebagai orang sayid dan akhirnya lebih familiar dengan nama Sayidan. Saat ini kampung Sayidan lebih banyak dihuni oleh orang Jawa dan sudah sedikit sekali keturunan orang Arab.

Dari atas Jembatan Sayidan Yogyakarta, pengunjung dapat melihat pemandangan yang cukup menarik. Pemandangan dari atas jembatan ini berupa pemukiman padat penduduk di pinggir Sungai Code dan aliran Sungai Code. Kondisi aliran Sungai Code sudah mengalami pencemaran karena banyak limbah rumah tangga dibuang di aliran sungai tersebut. Hal ini harusnya menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk mengembalikan kondisi Sungai Code yang bersih dan dapat digunakan untuk kebutuhan air perkotaan.

Sungai Code Dari Jembatan Sayidan Yogyakarta

Hal yang menarik perhatian dari atas Jembatan Sayidan Yogyakarta yaitu dari kejauhan tampak sebuah bangunan mirip seperti kastil yang dinamakan Gereja Gothic Sayidan. Selain itu jembatan ini menjadi salah satu lokasi favorit untuk nongkrong atau sebagai lokasi foto selfie bagi sebagian anak muda. Lampu warna-warni yang terpasang beberapa waktu lalu membuat mereka tertarik untuk mampir dan berfoto. Bahkan keramaian tersebut semakin lengkap dengan munculnya warung kuliner lesehan di disamping jembatan.

Baca Juga  Durian Kuning Menoreh

Banyaknya simbol yang memperkuat nama Jembatan Sayidan memberikan pesan bahwa jembatan ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Meskipun beberapa pengunjung datang ke jembatan ini hanya sekedar berhenti sejenak dan berfoto-foto, setidaknya jembatan ini kembali ramai dan mendapat perhatian. Buku-buku sejarah pun sangat minim membahas sejarah keberadaan jembatan ini. Tidak ada yang tahu nasib Jembatan Sayidan kedepannya, namun yang pasti semakin hari semakin banyak kendaraan yang melewati Jembatan Sayidan ini. (text/foto: annosmile)

LIRIK LAGU SHAGGYDOG - DI SAYIDAN

oh coba kawan kau dengar ku punya cerita
tempat biasa ku berbagi rasa
suka duka tinggi bersama
di … di balik ramainya Yogya

* mari sini berkumpul kawan
dansa dansa sambil tertawa

bila kau datang dari selatan
langsung saja menuju Gondomanan
belok kanan sebelum perempatan
teman-teman riang menunggu di sayidan

** di sayidan, di jalanan
oh angkat sekali lagi gelasmu kawan
di sayidan, di jalanan
tuangkan air kedamaian

jangan kau takut pada gelap malam
bulan dan bintang semuanya teman
tembok tua, tikus-tikus liar
iringi langkah kita menembus malam

repeat : *
repeat : **

PETA

Ada 12 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Fajar:

    mesti iki yang yangane..nang jembatan sayidan ik..wkk.wkk..

    • admin:

      Hi Fajar,
      Hehe enggak mas kebetulan dekat dengan rumah saja :-)

  2. Fotodeka:

    di Sayidan! dijalanan… angkat sekali lagi gelasmu kawan!

  3. maulana:

    Slamat datang sayidan…aku merindukanmu…..tunggu aku akan datang untukmu …!!!!

    • admin:

      Hi Maulana, asli daerah sana ya mas? hehe

  4. Benny:

    Yang menarik itu panganan jajanane, sayange radue sangu,..

    • admin:

      Hi Benny,
      Ya nabung dulu buat jajan disini :-)

  5. Cheguevara:

    Kata sayyid artinya tuan, biasanya keturunan Rasulullah saw dipanggil dengan gelar sayyid..

    • admin:

      Hi Cheguevara,
      Betul mas :-)

  6. Saiful Anwar:

    Alhamdulillah sudah pernah nongkrong di lesa (lesehan sayidan) bersama orang yang istimewa dlm hidupku, berada di kota istimewa bersama orang yang paling istimewa,, semoga lain waktu bisa ke kota istimewa jogja,bersama orang yang sama, yaitu orang yang aku istimewakan

  7. John:

    Sisi “barat selatan” ada kampung sayidan. “Barat utara”, “timur utara”, “timur selatan”.. Tau nggak? di indonesia ada yg namanya arah “barat daya”. Ada lagi namanya “barat laut”. “Timur laut”, sama “tenggara”. Mbok ya dipake nama yg nggak “ndeso” gitu lho.

    • admin:

      Hi John,
      Terima kasih atas koreksinya ya :-)

Kirim pendapat