Jembatan Gantung Lemah Abang

Jembatan Gantung Lemah Abang
Rate this post

Disebuah perbatasan wilayah antara kabupaten Sleman dengan kabupaten Gunungkidul terdapat sebuah jembatan gantung yang menghubungkan antar kedua wilayah. Orang sekitar menyebutnya Jembatan Gantung Lemah Abang karena terletak di kawasan Lemah Abang. Meskipun beberapa orang ada yang menyebutnya dengan nama Jembatan Gantung Prambanan atau Jembatan Gantung Ngoro-Oro. Uniknya disekitar jembatan gantung banyak ditemukan aliran sungai yang membentuk air terjun.

Jembatan Gantung Lemah Abang atau ada yang menyebutnya Jembatan Gantung Ngoro-Oro dibangun pada tahun 1994-1995 diatas Kali Gembyong (Sungai Gembyong). Kali Gembyong merupakan pertemuan antara Kali Lemah Abang (Prambanan) dan Kali Semilir (Gunung Kidul).
Konstruksi Jembatan Gantung Lemah Abang Sleman

Kami mencoba menelusuri keberadaan Jembatan Gantung Lemah Abang yang berada di perbatasan wilayah kabupaten tersebut. Perjalanan melewati jalan aspal kecil kawasan Desa Wisata Dome kemudian mengambil arah menuju ke Gunungkidul dengan melewati tanjakan jalan yang cukup tajam. Hingga tiba sebuah pertigaan, kami mengambil ke arah jembatan gantung dengan melewati jalan sempit yang menurun cukup tajam dan licin. Kami cukup pelan-pelan dalan mengendarai kendaraan hingga tiba di tepi Jembatan Gantung Lemah abang

Pagar Jembatan Gantung Lemah Abang Sleman

Menjelang sore hari, suasana Jembatan Gantung Lemah Abang terlihat ramai. Di tepi jembatan gantung terlihat  beberapa anak muda yang sedang nongkrong di pinggir jembatan. Kami mencoba melewati jembatan gantung dengan sedikit was-was. Ketika menyebrangi jembatan, terdengar suara “gledeg-gledeg” khas papan kayu yang terlindas roda kendaraan. BIla kurang terbiasa, rasa ngeri akan hingap karena takut papan tersebut tidak mampu menahan berat kendaraan.

Rangka utama jembatan gantung Lemah Abang terbuat dari besi, bercat kuning, dan jalannya dari kayu. Panjang jembatan gantung ini sekitar 150 meter.
Sungai Gembyong Yang Melewati Jembatan Gantung Lemah Abang Sleman

Kami memarkir sepeda motor di ujung jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas di Jembatan Gantung Lemah Abang. Keramaian lalu lalang penduduk yang melewati jembatan gantung di waktu pagi dan sore hari sama seperti jembatan gantung Imogiri yang pernah kami kunjungi tempo hari. Ketika berjalan mengamati kondisi jalan, warna cat yang kuning telah pudar tidak seperti jembatan gantung imogiri. Kondisi papan kayu di beberapa titik sudah mengalami kerusakan walaupun tidak mengurangi kenyamanan dalam melewati jembatan ini.

Pemandangan sungai di bagian bawah cukup dalam, kengerian tampak bila terjatuh dari atas jembatan dimana Daerah Aliran Sungai (DAS) banyak terdapat batu-batu kali yang besar dan keras. Namun dibalik kengerian tersebut, tersimpan beberapa pesona air terjun yang terdapat disepanjang aliran sungai antara lain Air Terjun Gembyong, Kedung Manten, Curug Gedhe, dan curug-curug kecil lain yang sering dikunjungi para pecinta alam ataupun orang yang memancing ikan.

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Aulia:

    tidak jauh dari tempat tinggal saja masih ada juga jembatan gantung, belum sempat ngecek tahun berapa di buat pemandangan di bawah ada air payau :D *sedikit seram melintasinya*

  2. dafhy:

    sedikit kurang terawat ya mas jembatannya. di dekat rumah saya ada juga jembatan gantung yang terawat :-)

Kirim pendapat