Jembatan Duwet Kulon Progo, Dari Masa Ke Masa

Jembatan Duwet Kulon Progo, Dari Masa Ke Masa
4 (80%) 4 votes

Jembatan Duwet merupakan salah satu jembatan yang melintasi aliran Sungai Progo dan penghubung dua wilayah. Jembatan ini menghubungkan antara dua buah tebing yang cukup tinggi diantara aliran sungai. Jembatan ini berjenis jembatan gantung dengan konstruksi baja. Menurut informasi, jembatan ini merupakan salah satu jembatan tertua yang dibangun di sekitar Yogyakarta dan masih berfungsi hingga saat ini.

Jembatan Duwet (Kretek Duwet) terletak di dusun Duwet, desa Banjarharjo, kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Jembatan Duwet dibangun pada tahun 1930-an oleh Pemerintah Belanda. Jembatan ini dibangun untuk menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan oleh Sungai Progo dengan tebing setinggi 100 meter.

Konstruksi Jembatan Duwet Sungai Progo

Jembatan gantung Duwet hanya dapat dilintasi oleh kendaraan roda dua secara bergantian dan pejalan kaki tentunya. Saya sempat mencoba melintasi jembatan gantung ini dan akhirnya menghentikan dan memarkir sepeda motor di area dekat jembatan. Jembatan ini cukup vital untuk lalu lintas antar penduduk diantara dua desa dan sekitarnya. Bila tidak terdapat jembatan ini maka penduduk sekitar harus memutar menuju ke area seberang melalui jembatan Ancol Banjaroyo atau Jembatan Kebonagung di Banjararum yang lokasinya cukup jauh.

Jembatan Gantung Duwet menghubungkan dua wilayah dan dua provinsi yaitu dusun Duwet, desa Banjarharjo, kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo dengan dusun Gutekan, desa Bligo, kecamatan Ngluwar, kabupaten Magelang. Tidak heran bila sepeda motor yang melintasi jembatan gantung ini banyak yang menggunakan plat AB (Karesidenan Yogyakarta) dan plat AA (Karesidenan Kedu). Aktivitas jembatan ini cukup ramai ketika pagi dan sore hari, untuk siang hari suasana jembatan ini tampak lenggang.

Jembatan Gantung Duwet dibangun pada tahun 1930-an oleh Pemerintah Belanda untuk mempermudah akses kedua wilayah. Selain itu jembatan ini merupakan jembatan gantung tertua dan bersejarah yang dibangun Pemerintah Belanda di Yogyakarta.

Pemandangan Sungai Progo Dari Tengah Jembatan Duwet

Ketika mencoba melintasi Jembatan Gantung Duwet dengan berjalan kaki, terlihat kengerian ketika berada pada posisi tengah-tengah jembatan. Terlihat pemandangan sungai Progo jauh dibawah karena jembatan ini memiliki ketinggian hampir 100 meter. Bagi yang takut ketinggian tidak disarankan mencoba melintasi jembatan ini sendirian. Meskipun agak ngeri ketika berada di tengah jembatan, kita bisa melihat aliran sungai Progo dari atas ketinggian yang dikelilingi tebing tinggi. Bila kita cermat, dibeberapa sisi tebing terlihat jatuhan air yang membentuk seperti air terjun.

Ketika tiba di salah satu ujung jembatan, saya menemukan dua buah prasasti yang diletakkan di samping kiri dan kanan ujung jembatan. Pada prasasti pertama bertuliskan tanggal 25 Juni 1960 yang diperkirakan tanggal renovasi jembatan karena jembatan ini pernah mengalami kerusakan saat Agresi Militer Belanda tahun 1948. Prasasti kedua bertuliskan penghargaan kepada Jembatan Duwet sebagai warisan budaya pada tahun 2008 untuk kategori nongedung. Penghargaan ini diberikan oleh Gubernur Propinsi DIY, Sri Sultan Hamengku Buwana X pada tanggal 12 November 2008.

Prasasti Jembatan Duwet Sungai Progo

Jembatan Gantung Duwet ini memiliki sejarah yang panjang bagi masyarakat yang berada di antara dua wilayah tersebut. Sudah beberapa dekade jembatan ini masih dapat difungsikan meskipun beberapa kali mengalami perbaikan. Sebagai bangunan vital banyak orang yang menggantungkan harapan pada jembatan tersebut untuk kepentingan lalu lintas perekonomian. Namun kondisinya sekarang mulai kritis lantaran tebing sungai yang berada di sisi barat mulai runtuh akibat terkikis arus sungai Progo yang cukup deras. Entah sampai kapan jembatan ini mampu bertahan melayani orang-orang yang setia melintasi jembatan untuk mengejar asa. (text/foto: annosmile)

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. marsudiyanto:

    Wah, kalau lewat yang beginian saya bisa nggloyor, apalagi kalau liat aliran air sungainya…
    Singunen.
    Jalan kaki saja nggremet, apalagi kalau sambil naik motor.

Kirim pendapat