Jam Istiwak Atau Jam Matahari Kuno Di Masjid Agung Surakarta

Jam Istiwak Atau Jam Matahari Kuno Di Masjid Agung Surakarta
Rate this post

Jam Istiwak atau Jam Matahari merupakan penunjuk waktu kuno yang masih dilestarikan di halaman Masjid Surakarta. Cara kerjanya hampir sama dengan jam matahari pada umumnya yang membutuhkan adanya pancaran sinar matahari. Pada zaman dahulu jam matahari ini berfungsi untuk menentukan waktu shalat. Meski sudah tertinggal zaman, kadang-kadang muadzin melongok jam tersebut sebelum mengumandangkan azan.

Jam matahari yang terletak di Kompleks Masjid Agung Surakarta merupakan peninggalan pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono X. Jam matahari ini dibuat pada tahun 1926 atau bertepatan dengan ulang tahun ke 64 sang raja. Dahulu menjadi peralatan penting penentu waktu shalat dan sekarang tetap dilestarikan keberadaannya.

Jam Matahari Di Masjid Agung Surakarta

Lokasi Jam Istiwak atau Jam Matahari Kuno berada di halaman Masjid Agung Surakarta barat Alun-Alun Utara Kraton Surakarta dan samping Pasar Klewer. Posisi tepatnya di depan kantor tata usaha masjid agung. Sebuah bangunan berupa tiang kecil yang berukuran satu meter dinama dibagian atas terdapat kotak kaca yang di dalamnya terdapat jam matahari.

Jam matahari di dalam kaca tersebut berujud cekungan setengah lingkaran yang dilapisi kuningan. Terdapat beberapa garis dan angka di permukaan kuningan itu. Sebuah logam jarum berdiri menunjuk ke atas. Bila terkena sorotan sinar matahari, bayangan logam jarum tersebut menunjuk ke angka dan garis tertentu.

Cara kerja jam matahari cukup sederhana dengan melihat jatuhnya logam jarum pada angka yang berderet di cengkungan setengah lingkaran yang dilapisi kuningan.

Angka Penunjuk Waktu di Jam Matahari Di Masjid Agung Surakarta

Kelemahan penggunaan jam matahari ini bila cuaca sedang mendung atau hujan. Kita tidak mengetahui dimana jatuhnya bayangan jarum pada angka yang berada di cekungan setengah lingkaran yang dilapisi kuningan. Setidaknya kita mengetahui bahwa jam ini cukup bermanfaat pada zaman dimana jam mekanik masih cukup mahal dan jarang ditemui.

Sekarang ini meskipun hanya berfungsi sebagai panjangan dan pelengkap masjid, keberadaan jam matahari ini pernah berjasa sebagai alat penentu waktu shalat di masjid ini. Dengan usia hampir satu abad, jam matahari ini telah melewati beberapa zaman yang berbeda yang akhirnya menghentikan fungsinya sebagai alat penentu waktu dan diganti dengan jam digital.

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Fajar:

    sistem kerjanya seperti jam tiang jam dahulu ya om..

Kirim pendapat