Jalan Pangurakan, Nama Jalan Terpendek Di Kota Yogyakarta

Jalan Pangurakan merupakan salah satu nama jalan protokol di pusat kota Yogyakarta. Jalan ini adalah jalan terpendek di pusat kota Yogyakarta dengan panjang kurang dari 200 meter. Posisinya berada di dalam sumbu filosofis antara Gunung Merapi – Tugu Jogja – Malioboro – Nol KilometerKraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Pantai Parangkusumo (Parangtritis). Pada ujung utara jalan berbatasan dengan kawasan Nol Kilometer Yogyakarta dan ujung selatan berbatasan dengan Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Bisa dibilang jalan ini sangat strategis dan historis karena sebagai gerbang masuk wilayah Kraton Yogyakarta dari sisi utara yang disebut dengan Gapura Gladhag (Gapura Pangurakan) dan dikelilingi bangunan bersejarah.

Dalam perkembangan waktu nama Jalan Pangurakan telah berganti nama beberapa kali. Awal mulanya jalan tersebut memang diberi nama Kraton Yogyakarta sebagai Jalan Pangurakan. Namun pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, jalan tersebut diubah nama menjadi Jalan Trikora untuk mengenang perjuangan merebut kembali Irian Barat (Papua) dari tangan Belanda. Pada hari Jumat Pon 20 Desember 2013 Masehi atau penanggalan jawa 16 Sapar 1947, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengembalikan nama jalan tersebut seperti semula menjadi Jalan Pangurakan.

Kawasan Jalan Pangurakan mengalami pembangunan kawasan pedestrian seperti Jalan Malioboro dan kawasan Nol Kilometer. Pembangunan pedestrian membuat jalan ini ramah pejalan kaki dannyaman digunakan untuk duduk-duduk atau nongkrong. Pada setiap titik disediakan kursi yang bebas digunakan untuk pengunjung tanpa dikenakan biaya. Tidak lupa ada beberapa tong sampah agar pengunjung tidak kesulitan membuang sampah dan tidak membuang sampah sembaranganya. Meskipun kadang ada satu dua oknum pengunjung yang masih membuang sampah sembaranganya.

Pedagang asongan dilarang berjualan di kawasan Jalan Pangurakan. Bila ada mereka yang mencuri-curi dengan nekat berjualan di kawasan tersebut sebaiknya tidak atau jangan dibeli barang dagangannya. Tujuannya agar mereka berpindah berjualan ke tempat yang seharusnya mereka diperbolehkan untuk berjualan. Pemerintah kota Yogyakarta telah melakukan penertiban, pengaturan, dan penataan seluruh pedagang baik pedagang kakilima maupun pedagang asongan di kawasan ini. Selain itu kawasan ini juga terdapat larangan parkir baik untuk kendaraan roda dua seperti sepeda motor dan kendaraan roda empat seperti mobil dan minibus. Untuk parkir kendaraan roda dua dan roda empat diarahan untuk parkir di area parkir depan Bank Indonesia atau sekitar 200 mter ke arah timur dari Kantor Pos Besar Yogyakarta. Hal ini dapat ditaati oleh semua pihak yang berkepentingan di kawasan ini.

Baca Juga  Victoria Street Singapura

Sedikit tambahan, sepanjang Jalan Pangurakan berdiri beberapa gedung dan rumah yang semuanya menjadi perkantoran mulai dari Gedung Bank BNI 46, Kantor Pos Besar Yogyakarta, Loop Station Yogyakarta, Gedung KONI Yogyakarta, Balai Pemasyarakatan Kelas I Yogyakarta, Toko Batik Prapanca, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pada waktu-waktu tertentu kawasan pedestrian Pangurakan juga digunakan sebagai ruang pameran seni terbuka seperti ArtJog, Jogja Biennale, dan sebagainya. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat