Grebeg Sudiro, Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa

Grebeg Sudiro, Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa
2 (40%) 3 vote[s]

Nama Grebeg cukup identik dengan perayaan atau tradisi khas Jawa dalam menyambut hari-hari khusus seperti Syawal, Suro, Maulid, dan sebagainya. Puncak acaranya biasanya dengan rebutan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Di Solo sendiri ada pengecualian mengenai tradisi Grebeg dimana juga dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa bersama warga Jadalam menyambut Tahun Baru Imlek. Namanya Grebeg Sudiro dan saat ini telah menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Solo dalam menyambut Tahun Baru Imlek.

Grebeg Sudiro merupakan tradisi menyambut Tahun Baru Imlek dengan memadukan budaya Thionghoa dan Jawa. Acara tersebut berpusat di depan Pasar Gede Hardjonagoro dimana disekitarnya banyak tinggal warga keturunan Tionghoa.

Pawai Grebeg Sudiro

Meskipun Grebeg Sudiro bukan acara besar seperti Grebeg yang diselenggarakan Kraton Surakarta, acara ini cukup menyedot penonton untuk hadir menyaksikan acara ini. Persiapan demi persiapan sebelum acara Grebeg Sudiro berlangsung. Pemasangan ribuan lampion berwarna merah di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro membuat suasana tampak seperti kota Hongkong di Negeri Tirai Bambu. Menjelang tengah hari, peserta Grebeg Sudiro bersiap-siap memulai tradisi yang dimulai sejak tahun 2007 ini.

Acara Grebeg Sudiro dimulai dengan kirab atau pawai mengelilingi kawasan pecinan yaitu dimulai dari Kampung Sudiroprajan dengan rute Jalan Soedirman – Jalan Mayor Sunaryo – Jalan Kapten Mulyadi – Jalan R.E. Martadinata – Jalan Cut Nyak Dien – Jalan Ir. Juanda, dan finish di Pasar Gede Hardjonagoro. Waktu kirab ini berjalan cukup lama sekitar satu hingga dua jam karena jarak yang cukup jauh dan banyaknya peserta yang mengikuti kirab.

Baca Juga  Warung Gunung Sigandul, Sajian Khas Kopi Luwak Lereng Gunung Sindoro

Grebeg Sudiro merupakan perayaan menyambut Tahun Baru Imlek yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2007. Perayaan ini merupakan pengembangan tradisi yang telah ada sebelumnya yaitu tradisi Buk Teko. Buk teko (dari kata buk tempat duduk dari semen di tepi jembatan atau di depan rumah, sedangkan kata teko ialah poci, tempat air teh) adalah tradisi syukuran menjelang imlek dan sudah dirayakan semenjak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939). Grebeg Sudiro telah berkembang menjadi perpaduan budaya dan kemasyrakatan antara etnis Tionghoa dan Jawa.

Gunungan Kue Keranjang

Peserta kirab Grebeg Sudiro cukup banyak dan menampilkan beberapa kesenian yang berasal dari China seperti Taichi, Wushu, Barongsai, Liong serta kesenian nasional seperti Turonggo Seto, Jatilan, dan Reog Ponorogo. Tidak ketinggalan pula barisan masyarakat keturunan Tionghoa yang mengenakan pakaian khas China. Diperkirakan kirab ini diikuti lebih dari 1000 orang peserta dari berbagai wilayah di sekitar Solo.

Tidak ketinggalan berupa perwujudan rasa syukur berupa gunungan yang akan diperebutkan saat akhir acara oleh pengunjung yang menyaksikan Grebeg Sudiro. Gunungan di Grebeg Sudiro ini berbeda dengan gunungan yang biasa kita lihat saat Grebeg Kraton dimana disusun dari kue keranjang. Kue keranjang merupakan makanan khas masyarakat Tionghoa saat menyambut Tahun Baru Imlek. Cukup menarik karena gunungan yang disusun dari kue keranjang tidak kita temui pada perayaan menyambut Tahun Baru Imlek di daerah lain.

Baca Juga  15 Bioskop Tua Yang Pernah Ada Di Solo

Permainan Liong di Grebeg Sudiro

Kirab berhenti di depan Pasar Gede Hardjonagoro samping Klenteng Tien Kok Sie dan dilakukan beberapa pertunjukkan seni di tengah jalan depan pasar.  Perayaan berakhir dengan dinyalakannya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas pintu gerbang Pasar Gede, penyalaan ini juga diikuti penyalaan lampion ditempat-tempat lain. Gunungan Kue Keranjang yang sejak tadi menjadi incaran pengunjung langsung ludes beberapa detik ketika dipersilakan mengambil.

Secara keseluruhan Grebeg Sudiro cukup menarik untuk ditonton dan menjadi salah satu daya tarik perayaan menjelang Tahun Baru Imlek di sekitar Jawa Tengah. Sejauh yang kita tahu, perayaan Tahun Baru Imlek di daerah selatan Pulau Jawa cukup minim dan kalah ramai dengan daerah pesisir utara Pulau Jawa. Namun informasi yang kurang jelas membuat banyak orang melewatkan acara ini. Diharapkan kedepannya lebih diperjelas informasi waktu penyelenggaraannya agar masyarakat terkecoh dengan informasi yang salah. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat