Grebeg Maulud Di Pakualaman Yogyakarta

Grebeg Maulud Pakualaman merupakan tradisi menyambut dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi) oleh Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta. Tradisi Grebeg ini sama dengan Tradisi Grebeg Kraton Yogyakarta dan telah rutin diselenggarakan setip tahun sejak kraton tersebut berdiri. Namun perayaan Maulud Nabi di Pakualaman ini terbilang singkat yaitu pada hari peringatannya saja, tidak seperti Kraton Yogyakarta yang telah dimulai seminggu sebelumnya sejak turunnya gamelan kraton (miyos gongso).

Prajurit Lombok Abang Pakualaman Saat Grebeg Maulud

Gunungan yang akan diperebutkan di Kadipaten Puro Pakualaman merupakan pemberian dari Kraton Yogyakarta dan tidak dibuat sendiri oleh pihak Pakualaman. Gunungan yang diberikan kepada Pakualaman kadang satu buah berupa Gunungan Lanang (laki-laki) dan kadang sepasang berupa Gunungan Lanang dan Wadok (perempuan). Gunungan Lanang memiliki tinggi sekitar 3 (tiga) meter yang berisi hasil bumi seperti telur, wortel, kacang-kacangan, terong, cabe merah, cabe hijau, ketan, dan sebagainya. Bentuk dan isi gunungan yang diberikan ini sama dengan gunung yang akan diperebutkan di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dan halaman Kepatihan atau Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prosesi Grebeg Maulud dimulai dari tempat meletakkan gunungan di Keben Kraton Yogyakarta. Pada jadwal yang telah ditentukan seluruh gunungan yang ada dibawa melewati Siti Hinggil dan Pagelaran. Proses kirab membawa gunungan ini diiringi oleh beberapa barisan prajurit. Barisan pembawa gunungan untuk Kadipaten Puro Pakualaman berpisah di tengah-tengah ringin Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta.

Baca Juga  Prosesi Jamasan Rambut Gimbal Dieng Di Situs Dharmasala

Gunungan Grebeg Maulud Pakualaman Dibawa Menuju Sewandanan

Barisan pembawa Gunungan untuk Pakualaman ini cukup unik karena barisan paling depan menggunakan pasukan gajah yang berjumlah 2 ekor dan kadang lebih dari 4 ekor. Gajah yang dipergunakan berasal dari Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. Keberadaan barisan prajurit gajah ini tidak ditemukan pada barisan prajurit gunungan menuju ke Masjid Gedhe dan Kepatihan. Barisan yang ada di belakang pasukan gajah diantaranya barisan Bregada Prajurit Lombok Abang, prajurit berkuda, barisan Bregada Prajurit Bugis berpakaian hitam, dan paling belakang barisan Bregada Prajurit Surakarsa berpakaian putih. Barisan ini berjalan melewati rute Jalan Trikora – Jalan Panembahan Senopati – Jalan Sultan Agung.

Gunungan tersebut langsung dibawa masuk ke dalam kompleks Puro Pakualaman untuk diserahterimakan kepada Sri Paduka Pakualam selaku pemimpin Puro Pakualaman. Proses serahterima berlangsung secara singkat dan dilanjutkan dengan doa bersama oleh seluruh orang yang hadir di Pendopo Puro Pakualaman. Setelah didoakan, para kerabat Puro Pakualaman melakukan simbolisasi dengan mengambil beberapa bagian gunungan sebelum dibawa menuju ke Lapangan Sewandanan untuk direbut penonton.

Berebut Gunungan Grebeg Maulud Di Sewandanan Pakualaman Yogyakarta

Gunungan Grebeg Maulud yang sudah didoakan langsung dibawa prajurit berpakaian merah kembali menuju Lapangan Sewandanan yang berada di depan Kompleks Puro Pakualaman. Penonton yang tidak sabar langsung merangsek ke depan untuk berebut dan menaiki gunungan tersebut. Tidak sedikit para wanita yang didominasi oleh ibu-ibu juga mencoba mendekati gunungan tersebut. Satu dua orang yang berhasil menaiki gunungan langsung meleparkan seluruh isi gunungan ke segala penjuru arah. Penonton yang tidak dapat mendekat berteriak-teriak meminta bagian dari gunungan tersebut.

Baca Juga  Bakso Raksasa Beranak Khas Warung Bakso Bom Wong Solo Yogyakarta

Hanya beberapa menit seluruh isi gunungan yang diperebutkan habis tak tersisa dan tandu gunungan tersebut dibawa kembali masuk ke dalam kompleks Puro Pakulaman. Sebagian masyarakat masih percaya dengan tuah atau berkah dari gunungan yang diperebutkan karena telah didoakan pemimpin kraton. Selain itu beragam hasil bumi yang terdapat pada gunungan tersebut memiliki makna tersendiri disetiap bagiannya. Acara Grebeg Maulud di Puro Pakualaman selesai namun masih ada keramaian pasar dadakan di sekitar Lapangan Sewandanan. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat