Berebut Grebeg Maulid Di Kepatihan Yogyakarta

Berebut Grebeg Maulid Di Kepatihan Yogyakarta
4 (80%) 1 vote

Grebeg Maulid di Kepatihan Yogyakarta merupakan salah satu rangkaian perayaan Grebeg Maulid yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta. Kepatihan Yogyakarta atau yang dikenal sebagai Kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mendapatkan pemberian gunungan yang dibuat oleh Kraton Yogyakarta sama seperti pemberian gunungan kepada Kadipaten Pakualaman. Prosesi ini terbilang menarik ditonton meskipun sebagian besar masa pengunjung berkumpul di halaman Masjid Gedhe Kauman dan Lapangan Sewandanan Pakualaman.

Gunungan yang akan diperebutkan di Kepatihan Yogyakarta merupakan pemberian dari Kraton Yogyakarta untuk pemerintahan resmi yang berdiri di Yogyakarta yaitu Kantor Gubernur. Gunungan yang diberikan kepada Kepatihan Yogyakarta yaitu satu buah berupa Gunungan Lanang (laki-laki). Gunungan Lanang memiliki tinggi sekitar 3 (tiga) meter yang berisi hasil bumi seperti telur, wortel, kacang-kacangan, terong, cabe merah, cabe hijau, ketan, dan sebagainya. Bentuk dan isi gunungan yang diberikan ini sama dengan gunungan yang akan diperebutkan di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.

Prosesi Grebeg Maulid di Kantor Kepatihan Yogyakarta dimulai dari tempat meletakkan gunungan di Keben Kraton Yogyakarta. Pada jadwal yang telah ditentukan seluruh gunungan yang ada dibawa melewati Siti Hinggil dan Pagelaran. Proses kirab membawa gunungan ini diiringi oleh beberapa barisan prajurit. Barisan pembawa gunungan untuk Kadipaten Puro Pakualaman dan Kepatihan berpisah di tengah-tengah kawasan Nol Kilometer Yogyakarta.

Barisan pembawa Gunungan untuk Kepatihan Yogyakarta ini cukup unik karena barisan paling depan menggunakan pasukan gajah yang berjumlah 2 ekor. Gajah yang dipergunakan berasal dari Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta. Keberadaan barisan prajurit gajah ini tidak ditemukan pada barisan prajurit gunungan menuju ke Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Barisan yang ada di belakang pasukan gajah diantaranya barisan Bregada Prajurit Bugis berpakaian hitam dan barisan Bregada Prajurit Surakarsa berpakaian putih. Barisan ini berjalan melewati rute Jalan Trikora – Jalan Malioboro – Kantor Kepatihan Yogyakarta.

Gunungan tersebut langsung dibawa masuk ke dalam kompleks Kepatihan Yogyakarta untuk diserahterimakan kepada Sekda Daerah Istimewa Yogyakarta selaku penanggungjawab Kantor Kepatihan Yogyakarta. Proses serahterima berlangsung secara singkat dan dilanjutkan dengan doa bersama oleh seluruh orang yang hadir di Pendopo Kepatihan Yogyakarta. Setelah didoakan, perwakilan pemerintahan di Kantor Kepatihan Yogyakarta melakukan simbolisasi dengan mengambil beberapa bagian gunungan sebelum dibawa menuju ke halaman Masjid Sulthoni Kepatihan untuk direbut penonton.

Gunungan Grebeg Maulud yang sudah didoakan langsung dibawa prajurit berpakaian merah menuju Halaman Masjid Sulthoni Kepatihan. Penonton yang tidak sabar langsung merangsek ke depan untuk berebut dan menaiki gunungan tersebut. Tidak sedikit para wanita yang didominasi oleh ibu-ibu juga mencoba mendekati gunungan tersebut. Satu dua orang yang berhasil menaiki gunungan langsung meleparkan seluruh isi gunungan ke segala penjuru arah. Penonton yang tidak dapat mendekat berteriak-teriak meminta bagian dari gunungan tersebut. Hanya beberapa menit seluruh isi gunungan yang diperebutkan habis tak tersisa. Sebagian masyarakat masih percaya dengan tuah atau berkah dari gunungan yang diperebutkan karena telah didoakan pemimpin kraton. Selain itu beragam hasil bumi yang terdapat pada gunungan tersebut memiliki makna tersendiri disetiap bagiannya. Acara Grebeg Maulud di Kepatihan Yogyakarta selesai dan pengunjung meninggalkan lokasi. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat