Jengjeng Gedung Agung Yogyakarta

Jengjeng Gedung Agung Yogyakarta
Rate this post

Pada suatu kesempatan akhirnya kami bisa memasuki kawasan Gedung Agung Yogyakarta yang sampai saat ini masih difungsikan menjadi salah satu rumah dinas petinggi negara dan tempat menyambut tamu negara yang datang ke Yogyakarta.

Istana Kepresidenan Yogyakarta atau Gedung Agung awalnya adalah rumah kediaman resmi residen Ke-18 di Yogyakarta (1823-1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan penggagas atau pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 di masa penjajahan Belanda dengan arsitek bernama A. Payen. Gaya bangunannya mengikuti arsitektur Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Setelah melakukan pelaporan ijin kunjungan dan pengecekan keamanan barang bawaan, kami di pandu petugas resmi dari Gedung Agung untuk berkeliling ke seputar kawasan Gedung Agung. Dimulai dari halaman Gedung Agung yang cukup luas dimana pada hari-hari tertentu seperti peringatan hari kemerdekaan dipergunakan untuk upacara bendera.

Kami dipersilakan mengambil foto secukupnya dan berfoto bersama di depan bangunan Gedung Agung. Selanjutnya memasuki pelataran atau teras terlihat beberapa ruangan. Dari bagian luar terlihat ruang tamu yang dipergunakan untuk menyambut tamu penting yang datang ke Yogyakarta. Para peserta tur tidak diperbolehkan memasuki ruangan ini dan hanya dapat melihat dari luar batas yang dipasang pada area ini.

Riwayat Gedung Agung itu menjadi sangat penting ketika pemerintahan Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta selama tiga tahun (1946-1949). Gedung ini berfungsi sebagai tempat kediaman resmi Presiden I Republik Indonesia pada masa tersebut. Sejalan dengan fungsinya kini, lebih dari 65 kepala negara dan kepala pemerintahan dan tamu-tamu negara, telah berkunjung atau bermalam di Gedung Agung itu. 

Tur selanjutnya melewati lorong yang disebelah kiri dan kanannya terdapat ruangan. Beberapa ruangan diantaranya adalah ruangan yang dipergunakan Presiden dan wakil Presiden untuk bekerja ketiga tinggal atau berkunjung ke Yogyakarta. Namun kami hanya bisa melihatnya dari luar pintu dan tidak diperbolehkan mengambil foto atau video dengan alasan keamanan.

Memasuki ruangan selanjutnya berupa ruang jamuan resmi kenegaraan untuk menyambut Presiden, Wakil Presiden, dan para tamu undangan. Terdapat beberapa aturan apabila mengikuti jamuan ditempat ini yang dijelaskan oleh pemandu secara detail. Dalam ruangan ini dipersilakan mengambil foto seperlunya kemudian tur kembali dilanjutkan. Memasuki bagian paling belakang berupa ruang pertunjukan dengan ukuran yang cukup luas. Tempat ini berfungsi sebagai panggung hiburan untuk menghibur tamu dengan pertunjukan seperti pementasan wayang kulit, tari-tarian, dan sebagainya.

Tur dalam bangunan utama Gedung Agung berakhir karena ruangan pertunjukan merupakan bagian paling belakang dari bangunan Gedung Agung. Namun tur belum berakhir karena tur masih dilanjutkan menuju ke bangunan yang ada di sisi selatan dari Gedung Agung. Salah satunya Gedung Seni Sono yang sekarang ini lebih kenal dengan Museum Seni Sono atau Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Museum Seni Sono telah dipugar dengan corak arsitektur Gedung Agung sebagai acuan untuk menciptakan kesan serasi. Bangunan baru Museum Seni Sono terdiri dari auditorium, tempat penyimpanan koleksi benda-benda seni, galeri pameran, dan perkantoran. Auditorium Seni Sono semula adalah Gedung Seni Sono yang dibangun pada tahun 1915 dan diperuntukkan sebagai tempat pertunjukan kesenian terpilih yang berkaitan dengan acara kenegaraaan. Akhirnya tur berkeliling kawasan Gedung Agung berakhir seiring selesai melihat-lihat koleksi Museum Seni Sono. Peserta tur dipersilakan meninggalkan Gedung Agung menuju pos yang terdapat di gerbang untuk menuju ke pintu keluar. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat