Gaug, Sirine Tua Yang Terlupakan

Gaug, Sirine Tua Yang Terlupakan
1 (20%) 1 vote

Keberadaan ‘gaug’ atau sirine tua yang tersebar di berbagai sudut kota Yogyakarta saat ini sudah mulai dilupakan. Sirine tua yang terpasang di puncak menara atau bangunan tinggi pada jaman dahulu sering dibunyikan sebagai tanda peringatan atau tanda akan datangnya marabahasa (peperangan). Saat ini tinggal beberapa sirine yang masih terpasang di beberapa bangunan tua di Yogyakarta seperti bekas Hotel Tugu, bangunan sebelah selatan Pasar Beringharjo, di atas Plengkung Gading, dan di menara Bioskop Permata.

Asal-Usul orang jaman dahulu menyebut nama sirine dengan kata “gaug” belum banyak diketahui. Nama “gaug” bukan kosaka dari bahasa Indonesia maupun bahasa Belanda. Ada pendapat “gaug” adalah bunyi lengkingan sirine yang didengar oleh orang Belanda kemudian diucapkan, namun pengucapan orang Belanda didengar lain oleh orang Jawa, sehingga muncul kata “gaug”.

Gaug Bioskop PermataSaat ini, gaug atau sirine ini sudah sangat jarang dibunyikan. Dalam satu tahun hanya dibunyikan satu atau dua kali saat peringatan hari penting negara seperti peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Padahal pada era 70an, gaug ini masih sering dibunyikan  setiap peringatan hari-hari penting negara dan acara penting di Kraton Yogyakarta seperti Wiyosan Dalem. Keberadaan gaug ini cukup penting untuk mengingatkan masyarakat akan peristiwa penting yang terjadi pada hari ini.

Menurut cerita pada zaman dahulu, bunyi gaug atau sirine tua ini terdengar keras di segala penjuru kota Yogyakarta karena diletakkan di beberapa titik penting kota. Bahkan bunyi gaug ini dapat terdengar hingga pedesaan yang terdapat di sekitar Yogyakarta. Seiring berkembangnya zaman dan keramaian kota, suara gaug hanya dapat di dengar oleh wilayah yang ada di dekatnya. Polusi suara cukup tinggi saat ini memperpendek jangkauan bunyi gaug di kota Yogyakarta.

Bentuk Gaug atau sirine tua ini sekilas mirip dengan terompet, panjangnya sekitar 30 Р50 centimeter, dengan diameter corong sekitar 15 centimeter. Gaug ini terbuat dari logam yang digerakkan oleh listrik sehingga gema suaranya bisa merata ke segala penjuru. Fungsi gaug atau sirine tua pada zaman dahulu cukup vital sebagai media informasi untuk memperingatkan kepada masyarakat saat akan terjadi peperangan.

Penggunaan gaug dilarang untuk kepentingan pribadi dan hanya pemerintah yang berhak menggunakannya. Seiring waktu berjalan, fungsi gaug sebagai alat komunikasi pemberi peringatan telah kehilangan perannya karena zaman telah merdeka dan saat ini sudah muncul bermacam alat-alat berteknologi canggih. Meskipun demikian kita tidak boleh lupa sejarah keberadaan gaug yang telah berulangkali mengingatkan masyarakat Yogyakarta saat muncul peperangan pada zaman penjajahan. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. HeruLS:

    Waaa, menarik.
    Aku baru tahu.

  2. Zippy:

    Di Jayapura sini juga ada mas.
    Tapi di daerah2 pedalaman sih :D
    Dan, biasanya sih angker.
    Kadang suka bunyi2 sendiri sirinenya, hihihi… :D

Kirim pendapat