Gangsiran Aswotomo, Kompleks Situs Sumur Tua Dieng

Gangsiran Aswotomo, Kompleks Situs Sumur Tua Dieng
Rate this post

Gangsiran Aswotomo merupakan situs sumur tua atau terowogan air bawah tanah yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Sebagian dari situs ini telah dipugar dengan bangunan semi terbuka mirip seperti gazebo bila dilihat dari kejauhan. Keberadaannya mulai dikenal oleh para wisatawan setelah dilakukan pemugaran dan dibuka menjadi kawasan wisata oleh masyarakat setempat dengan disediakan lahan parkir kendaraan.

Situs Gangsiran Aswotomo (Gansiran Aswatama) terletak di desa Dieng Kulon, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

Lokasi Kompleks Gangsiran Aswotomo berada di tepi Jalan Raya Dieng-Batur. Sekilas ketika pertama kali melewati tepian jalan kompleks Gangsiran Aswotomo, melihat salah satu bangunan yang berada di tepi jalan tanpa ada atap dibagian atasnya, saya kira adalah sebuah lubang pembuangan sampah. Ternyata setelah saya dekati dan saya amati, lubang tersebut merupakan lubang yang memiliki kedalaman sekitar 5 meter dan terdapat air di dalamnya.

Dalam cerita pewayangan, lubang atau terowongan Gangsiran Aswotomo dibuat oleh R. Aswotomo yang hendak membunuh para Pandawa.

Lubang yang berisi air tersebut diperkirakan merupakan lubang air tua atau sumur tua peninggalan zaman dahulu. Walaupun ada yang menganggap bahwa lubang itu merupakan lubang pembuangan air kuno pada zaman dahulu. Karena antara lubang air atau sumur yang satu dengan sumur yang lain sepertinya berhubungan.

Namun, saya lebih condong menganggap bahwa lubang air tersebut merupakan sebuah sumur yang mengambil jalur air bawah tanah atau sungai bawah tanah pegunungan dimana ujung jalur air tanah tersebut akan muncul ke permukaan sebagai sumber mata air. Air tanah yang berada di sebelah bawah lapisan aquifer ini lebih aman untuk dikonsumsi karena tidak mudah terpengaruh seperti air tanah permukaan.

Aquifer (Akuiferadalah formasi geologi atau grup formasi yang mengandung air dan secara signifikan mampu mengalirkan air melalui kondisi alaminya. Batasan lain yang digunakan adalah reservior airtanah, lapisan pembawa air. Todd (1955) menyatakan bahwa akuifer berasal dari Bahasa Latin yaitu aqui dari aqua yang berarti air dan ferre yang berarti membawa, jadi akuifer adalah lapisan pembawa air.

Kita tahu bahwa di kawasan Dataran Tinggi Dieng banyak ditemukan telaga yang terbentuk dari kawah purba. Namun kondisi airnya yang banyak mengandung logam berat  khususnya pada kadar belerang yang tinggi akhirnya tidak layak buat konsumsi.

Pernyataan Gangsiran Aswotomo sebagai sumur tua yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di lingkungan pemukiman kuno di Dataran Tinggi Dieng ini diperkuat dengan keberadaan situs terpendam yang diperkirakan merupakan kawasan tempat tinggal pada jalan dahulu.

Situs Gangsiran Aswotomo ini berupa sumur atau lubang air yang berdiameter antara 4-7 meter tersebut dengan posisi yang berdekatan sejumlah sembilan buah. Dimana di salah ujungnya berdekatan dengan Kawasan Situs Dharmasala.

Fungsi Gansiran Aswotomo sebagai sumur massal pada zaman dahulu ini sepertinya hanya tinggal cerita dan misteri. Saat ini walaupun beberapa sudah mengalami pemugaran dengan dibangun tembok melingkar dan beberapa diberi pelindung atap melingkar mirip gazebo, kondisi lubang airnya penuh oleh sampah dan tidak dibersihkan.

Eksploitasi air dari sumur tua untuk menyirami ladang penduduk yang lokasinya berada di sebelah situs Gangsiran Aswotomo ini turut mengancam kelestarian air sumur dan dikhawatirkan air sumur akan menyusut dan kering. Kesulitan mencari air di kawasan Dataran Tinggi Dieng menjadi masalah baru yang muncul akhir-akhir ini. Sepertinya hutan gundul di kawasan perbukitan Dataran Tinggi Dieng menjadi pemicu berkurangnya daya tampung air di kawasan Dieng. Semoga permasalahan yang ada segera ditanggulangi oleh kesadaran masyarakat dan usaha oleh pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian alam di wilayahnya. (text/foto: annosmile)

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. applausr:

    iya betul pemeritah harus melidungi ini…. tapi kalau masih berguna buat masyarakat harusnya lebih baik digunakan saya terus ya… toh mereka bisa merawatnya ya…

  2. HeruLS:

    Wah, kalok air tanahnya layak konsumsi keren tuh. langsung aja dikembangkan, asal jangan dimonopoli oleh perusahaan amdk deh

Kirim pendapat