Festival Sewu Kitiran Bantul, Gelar Budaya Dan Kincir Angin Tradisional

Festival Sewu Kitiran merupakan festival pedesaan yang diselenggarakan untuk kembali melestarikan tradisi leluhur di sekitar desa Sriharjo, Imogiri, Bantul. Kitiran atau kincir angin tradisional pada zaman dahulu digunakan masyarakat desa untuk memanggil hujan agar dapat membasahi lahan pertanian. Selain itu kitiran juga berfungsi untuk mengusir burung dengan suara yang ditimbulkannya.

Festival Sewu Kitiran diselenggarakan di panggung terbuka Sono Seneng, dusun Kedungmiri, desa Sirharjo, kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Tulisan Raksasa Festival Sewu Kitiran Bantul

Lokasi Festival Sewu Kitiran berada di kawasan Desa Wisata Kedung Miri kabupaten Bantul. Rute menuju ke Festival Sewu Kitiran paling mudah melewati Jalan Imogiri-Siluk yang berada di sebelah selatan Jalan Imogiri Timur. Sebelum memasuki jembatan Siluk, ada sebuah perempatan kecil tanpa lampu merah belok ke arah kiri. Perjalanan akan melewati area perkampungan penduduk, area persawahan, dan tepian sungai Oyo. Lima belas menit berselang akhirnya tiba di kawasan desa Wisata Kedung Miri.

Menuju Lokasi Acara Festival Sewu Kitiran Bantul

Acara Festival Sewu Kitiran digelar selama dua hari pada akhir pekan yaitu hari sabtu dan minggu oleh karang taruna dusun Kedungmiri dan dusun Sompok. Hanya saja puncak dan keramaian acara dipusatkan pada hari minggu sebagai hari terakhir penyelenggaraan. Acara hari pertama Festival Sewu Kitiran terlihat tidak menarik dan nyaris tidak ada jadwal. Panitia beserta masyarakat setempat masih sibuk mempersiapkan acara dan baru selesai menjelang malam hari. Jadwal yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari pun terpaksa diubah dan dipindahkan ke jadwal keesokan harinya. Pemasangan kitiran atau kincir angin tradisional baru dilakukan menjelang malam hari. Satu-satunya jadwal yang tidak diubah adalah pementasan kethoprak dengan waktu pelaksanaan pada pukul 20.00 atau malam hari.

Baca Juga  Bedog Art Festival IV, Perhelatan Seni Internasional di Tepi Sungai

Panggung Terbuka Festival Sewu Kitiran Bantul

Hari kedua merupakan puncak acara Festival Sewu Kitiran diisi dengan berbagai macam acara. Agenda acara dimulai sejak pagi hari dan dibuka dengan acara kirab kitiran bocah. Kirab Kitiran Bocah ini merupakan salah satu acara yang ditunggu-tunggu oleh penonton karena cukup unik dan jarang ditampilkan pada festival yang lainnya. Namun cukup disayangkan pelaksanaannya sedikit kurang terkoordinasi dan tidak sesuai yang direncanakan. Rute kirab ini hanya dimulai dari tepi jalan menuju panggung terbuka Sono Seneng tanpa melewati area persawahan dan tulisan raksasa Festival Sewu Kitiran yang berada diatas bukit.

Persiapan Kincir Angin Tradisional Di Festival Sewu Kitiran Bantul

Agenda Festival Sewu Kitiran selanjutnya adalah pementasan karawitan anak yang berasal dari SD Kedungmiri, lomba membuat thiwul, dan kesenian gejlog lesung dari masyarakat setempat. Penonton mulai memadati pementasan ini di panggung terbuka atau panggung alam Sono Seneng Desa Wisata Kedung Miri. Sore hari diisi dengan pementasan kesenian tradisional jathilan. Acara Festival Sewu Kitiran ditutup dengan pementasan wayang kulit dan pengumuman pemenang lomba kincir angin tradisional.

Salah Satu Kincir Angin Tradisional Di Festival Sewu Kitiran Bantul

Pernak Pernik yang menarik dalam Festival Sewu Kitiran adalah kitiran atau kincir angin tradisional yang jumlahnya mencapai ratusan dipasang di tengah area persawahan. Kincir angin tersebut dibuat dengan bermacam bentuk dan ukuran mulai dari bentuk yang cukup sederhana hingga berbentuk unik sesuai kreasi masing-masing pembuatnya. Hampir seluruh kincir angin tradisional yang terpasang terbuat dari bilah bambu dan kayu. Seluruh kincir angin yang berdiri di tengah area persawahan akan dinilai dan diumumkan pemenangnya saat malam penutupan Festival Sewu Kitiran.

Baca Juga  Daftar Bangunan Warisan Budaya Di Gedongtengen Yogyakarta

Para Penonton Festival Sewu Kitiran Bantul

Penyelenggaraan Festival Sewu Kitiran cukup sukses menarik minat pengunjung dan lebih ramai dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya. Namun sepertinya masih perlu banyak perbaikan agar tidak membuat kecewa pengunjung yang jauh-jauh datang ke acaranya. Untuk penyelenggaraan di tahun-tahun mendatang diharapkan persiapan dan koordinasi lebih matang agar penyelenggaraan acara berlangsung dengan lancar dan tidak terkesan dipaksakan. (text/foto: annosmile)

JADWAL

Tahun 2016: –

Tahun 2015: 14-15 November 2015

Tahun 2014: 11-12 Oktober 2014

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Keke Naima:

    kalau di daerah masih ada festival budaya, rasanya seneng lihatnya :)

Kirim pendapat