Festival Lima Gunung

Nama Festival Lima Gunung sepertinya sudah banyak di dengar oleh kalangan masyarakat pecinta seni. Sebuah agenda budaya yang diselenggarakan setiap tahun ini selalu mendapat sambutan positif oleh masyarakat.

Festival Lima Gunung IX 2012 ini diselenggarakan di beberapa tempat dan terakhir diselenggarakan di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang di lereng Gunung Merbabu.

Akhirnya pada suatu kesempatan, saya bisa turut hadir melihat atraksi budaya dalam Festival Lima Gunung ke 9 tahun 2012 ketika diselenggarakan di lereng Gunung Merbabu. Rute menuju lokasi acara cukup sulit karena minimnya papan petunjuk informasi dan melewati jalanan tanah dan bebatuan yang menanjak.

Ketika tiba di lokasi acara Festival Lima Gunung, saya sempat keheranan dengan keriuhan penonton di tempat terpencil dan sulit untuk diakses kendaraan ini. Sebuah lokasi yang cukup terpencil ini ramai dikunjungi para penonton yang datang dari beberapa daerah bahkan ada beberapa penonton yang merupakan wisatawan asing dari luar negeri.

Festival Lima Gunung yang diselenggarakan oleh Komunitas Lima Gunung terdiri dari Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Menoreh, Gunung Sumbing, dan Gunung Andong.

Arena pertunjukkan yang sengaja tidak menggunakan sponsor besar yang sarat akan spanduk dan poster cukup membuat saya kagum. Kesan tradisional akan nilai seni masyarakat lokal mash dapat dirasakan dengan penataan panggung dan hiasannya dengan dekorasi dari anyaman bambu. Arena pertunjukkan yang seluas lapangan voli ini dikelilingi pagar yang terbuat dari batang bambu. Para penonton berdiri cukup rapi di belakang batas dan beberapa menonton dari rumah yang berada di dekat arena pertunjukkan.

Baca Juga  Kemeriahan Festival Seni Tradisi Anak Merapi

Pertunjukkan peserta acara Festival Lima Gunung ini yang mendapat jatah waktu sekitar setengah jam ini selalu mendapat apresiasi oleh para penonton. Tarian-tarian yang unik dipersembahkan dari masing-masing peserta memberikan kesan berbeda dan jarang ditampilkan pada acara-acara budaya di kota-kota besar. Saya salut dengan usaha mereka melestarikan dan mengembangkan budaya kesenian mereka dari terjangan arus globalisasi yang menekan kreativitas seni di masyarakat.

Pertunjukan seni Festival Lima Gunung ini digelar dari pagi hari hingga malam hari. Karena keterbatasan waktu, saya hanya dapat melihat hingga menjelang sore hari. Secara umum, penyelenggaraan Festival Lima Gunung ini lumayan menarik dan unik. Dengan lokasi acara yang selalu berubah setiap tahunnya dan mengenalkan daerah pelosok pedesaan ini mampu menarik minat penonton untuk datang ke lokasi. Antusiasisme para peserta dalam menampilkan keseniannya juga patut diacungi jempol. Jadi bila ada waktu luang, cobalah datang dan menyaksikan Festival Lima Gunung ini. (text/foto: annosmile)

FESTIVAL LIMA GUNUNG XIV

Festival Lima Gunung (FLG) XIV/15 diselenggarakan pada tanggal 14-17 Agustus 2018. Acara berlokasi di dua tempat yaitu dusun Mantran Wetan, desa Girirejo, kecamatan Nglablak, kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan dusun Tutup Ngisor, desa Sumber, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sama seperti perhelatan Festival Lima Gunung sebelumnya, festival ini diselenggarakan secara swadaya tanpa melibatkan bantuan dari sponsor ataupun pemerintah.

Baca Juga  Sleman Fashion Festival 2015, Gelaran Pertama dan Bertema The Glam Of Prambanan Temple

FESTIVAL LIMA GUNUNG XVIII

Festival Lima Gunung (FLG) XVII/17 diselenggarakan dari hari jumat hingga minggu pada tanggal 10-12 Agustus 2018. Acara berlokasi di dusun Wonolelo, desa Bandongan, kecamatan Bandongan, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Panggung Festival Lima Gunung ditengah persawaan berhias karya instalasi dengan bahan bambu dan jerami ditempatkan pada dua sisi di barat dan timur. Pada bagian barat karya seni instalasi tersebut bertuliskan “Desa” sedangkan di bagian timur bertuliskan “Kota”. Makna yang diusung seni instalasi itu adalah menunjukkan bahwa tempat festival berlangsung merupakan kawasan “setengah kota dan setengah desa”. Sama seperti perhelatan Festival Lima Gunung sebelumnya, festival ini diselenggarakan secara swadaya tanpa melibatkan bantuan dari sponsor ataupun pemerintah.

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Arifudin:

    Dilihat dari jepretan kameranya, festival ini memang rame kang :)

  2. dafhy:

    Panggung dengan hiasan Gunung di pewayangan ini keren sekali mas. Event yang harus terus di publikasikan mas, agar semakin memperkenalkan budaya Idonesia :-)

Kirim pendapat