Dalem Sopingen Kotagede

Dalem Sopingen Kotagede
3 (60%) 1 vote

Dalem Sopingen merupakan salah satu bangunan bersejarah yang terdapat di kawasan Kotagede. Memiliki kaitan dengan Kasultanan Yogyakarta sebagai tempat tinggal juru kunci makam raja-raja Kotagede. Terletak di sebelah barat laut Pasar Legi Kotagede melewati sebuah gang yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Sejarah Dalem Sopingen adalah rumah kediaman Raden Amatdalem Sopingi. Bersama Raden Amatdalem Mustahal, Raden Amatdalem Sopingi menjabat sebagai kepala lurah juru kunci makam di bawah Kasultanan Yogyakarta. Sejak tahun 1984 Sopingen telah diwariskan kepada ketiga anak keturunan Raden Amatdalem Sopingi. Masing-masing menempati bagian samping bangunan. Sedangkan bagian tengah tetap difungsikan sebagai fasilitas publik. Sayang sekali, sejak tahun 1990 an, pendopo Sopingen itu dijual, menyusul pendopo Mustahalan yang sudah lebih dulu lenyap dari Kotagede.

Dalem Sopingen Kotagede

Tiba di halaman Dalem Sopingen, terlihat bangunan pendopo Dalem Sopingen yang tampak baru yang dihiasi beberapa pot tanaman dan dikelilingi paving. Menurut informasi bangunan pendopo Dalem Sopingen merupakan bangunan baru karena pendopo yang asli telah dijual pada tahun 1990an. Namun saat ini terlihat lebih terawat karena telah mengalami renovasi pasca gempa yang terjadi tahun 2006.

Proses renovasi dengan membeli sebuah susunan pendopo utuh yang dibeli dari Jawa Timur kemudian dipasang pada bekas lokasi pendopo asli Dalem Sopingen. Renovasi Dalem Sopingen ini dilakukan oleh dilakukan oleh REKOMPAK (Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Pemukiman) bekerjasama dengan Java Reconstruction Fund (JRF) atas saran dari beberapa tokoh masyarakat Kotagede.

Dalam sejarahnya, pada masa Kebangkitan Nasional di tahun 1908, pendopo Sopingen merupakan tempat rapat propaganda organisasi Pergerakan Nasional. Di sana, pernah datang dan berpidato tokoh-tokoh seperti HOS Cokroaminoto (Ketua Sarekat Islam), Samanhoedi (Pendiri Sarekat Islam), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Ki Hajar Dewantoro (Pemimpin Perguruan Tamansiswa). Bahkan pimpinan komunis seperti Samaun, Muso dan Alimin pun pernah hadir dan berpidato di Sopingen.

Hingga pertengahan tahun 1920, dua organisasi (PKI dan Muhammadiyah) dipilih oleh orang-orang Kotagede dari sekian banyak aneka gerakan Kebangkitan Nasional. Selanjutnya tumbuh pertentangan antara keduanya selama awal 1920 an, yang menjadi masalah pertentangan besar antara Muhammadiyah dan PKI adalah murni ‘politik’ dan ‘agama’, sejauh menyangkut kawasan lokal Kotagede. Akhirnya PKI terusir dari Kotagede karena pengaruh Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang lebih kuat. Walaupun telah kehilangan daya tarik dan saksi bisu sejarah, saat ini Dalem Sopingan digunakan untuk warung makan bernama “Warung Jawi” yang menyajikan masakan khas Kotagede. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat