Candi Sukuh, Candi Unik Nan Saru

Candi Sukuh, Candi Unik Nan Saru
Rate this post

Perjalanan menyusuri Jalur Tawangmangu – Sarangan membawa kami untuk mengunjungi objek wisata Candi Sukuh. Candi Sukuh yang kami ketahui memiliki bentuk yang cukup unik dan berbeda dengan peninggalan situs-situs candi lain di Indonesia. Keberadaan candi ini masih menyimpan misteri karena belum diketahui secara pasti tahun pembangunannya dan sering dikait-kaitkan dengan bangunan kuno yang ditemukan di benua Amerika.

Candi Sukuh terletak di desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi Sukuh merupakan candi Hindu yang unik di Jawa, diperkirakan dibangun pada abad ke 15 akhir jaman kerajaan Majapahit. Struktur candi yang terdiri dari delapan teras memiliki arti dan fungsi tersendiri. Arsitektur bangunan utama candi yang mirip dengan candi Maya di Yucatan. Batuan yang digunakan berbeda dengan batu yang dipakai untuk membangun Candi di Jawa Tengah. Batuan pada Candi Sukuh warnanya agak kemerah-merahan berjenis batu andesit.

Lokasi Candi Sukuh berada disebuah bukit yang cukup tinggi sehingga kami harus berulang kali melewati jalanan yang menanjak. Ketika tiba di objek wisata Candi Sukuh suasana candi tampak sepi, hanya terlihat beberapa wisatawan mancanegara yang berkunjung ke objek wisata ini.

Kabut gunung yang tadinya menyambut kami saat tiba di objek wisata Candi Sukuh berangsur-angsur menghilang ketika kami berjalan menuju ke salah satu bangunan Candi Sukuh yang berada dekat dengan jalan masuk. Dengan berbekal katalog yang kami minta dari petugas jaga, kami mencoba menelusuri informasi yang ada dalam katalog Candi Sukuh tersebut.

Candi ini pertama kali ditemukan dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson pada zaman pemerintahan Raffles. Pada kurun waktu 1842-1910 dilakukan penelitian dan inventarisasi oleh sejumlah arkeologi Belanda. Pada tahun 1928 baru dilakukan pemugaran oleh Dinas Purbakala.

Memasuki Candi Sukuh  terdapat 3 Gapura dan 3 Teras. Desain bangunan Candi Sukuh masih meganut struktur punden berundak karena gapura dan teras dibangun secara bertingkat. Kami memulai dengan menginjakkan kami di teras pertama dibagian depan terdapat gapura utama yang masih utuh.

Jalan dibagian tengah gapura dibangun sebuah pintu dan dikunci. Mungkin wisatawan dilarang melewati tengah gapura ini karena kondisi bangunan gapura sudah labil dan rawan runtuh. Pengunjung dipersilakan melihat bangunan gapura dari depan dengan melewati jalan kecil yang dibuat lewat samping gapura. Bentuk gapura cukup unik mengingat posisinya tidak tegak lurus namun miring seperti model trapesium dengan atap diatasnya.

Pada gapura pertama terdapat sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Menuju ke teras kedua, kami melewati gerbang kedua yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Hanya tersisa dinding gapura yang tingginya hanya sebatas tangga naik dan tidak beratap. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala namun kondisinya sudah rusak dan bentuknya tidak jelas.

Pada gapura kedua terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Memasuki teras ketiga, gapura ketiga kondisinya sama dengan gapura kedua yang sudah tidak utuh lagi. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Bila dibandingkan dengan candi-candi yang lain, bentuknya sangat berbeda dan memiliki keunikan. Terdapat beberapa simbol sex yang tidak terdapat di candi-candi yang lain. beberapa patung dan arca menggambarkan Lingga sebagai perwujudan kemaluan pria dan Yoni sebagai perwujudan kemaluan wanita.

Candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Kemudian pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan mitologi utama Candi Sukuh dan beberapa patung hewan seperti celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Namun beberapa arca-arca sudah dipindahkan ke kantor Balai Peninggalan Purbakala Jawa Tengah.

Relief cerita Kidung Sudamala berisikan mengenai cerita Sahadewa atau Sadewa, putra termuda Pandawa Lima yang dikejar dua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya, yang menyertai Batari Durga yang kemudian raksasa tersebut dikalahkan oleh Bima.

Dibagian kanan candi terdapat patung garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Dikisahkan sang Garuda menyelamatkan ibunya dari sekapan naga.

Tidak jauh dari kawasan Candi Sukuh terdapat Rumah Sukuh yang merupakan tempat penyimpanan benda-benda purbakala yang ditemukan di area Candi Sukuh. Untuk memasuki Rumah Sukuh tersebut harus seijin kantor purbakala setempat. (text/foto: annosmile)

=== Lokasi

Candi Sukuh Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Koordinat  07°37°38,85 Bujur Timur dan 111°07°52,65 Lintang Selatan

== Tiket Masuk

Dewasa = Rp5.000,-/orang (berubah sewaktu-waktu)

Ada 35 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Pradna:

    Foto Yoni-ne, ndi? :P

  2. amri:

    gak terlalu suka jalan2 ke candi :(

  3. rudis:

    peninggalan sejarah kita memang masih banyak tapi sayang kurang yang melestarikannya

  4. pinkparis:

    ew .. patung lingga nya ekstrem banget ya … 

  5. gajah_pesing:

    skrinsut YONI’e mana?

    • annosmile:

      lupa gak kefoto :(

  6. gunawanrudy:

    *nunggu anno ke kemukus*

  7. mawi wijna:

    apaan ini? Sudah mendahului ke candi lebih dulu si Soekarno ini :p

  8. Aribicara:

    Besok kalau Candi yg di UII sudah di benerin giliran ke sono yach :D

  9. wi3nd:

    yan9 ini aku belum pernah no..

  10. oka:

    wahhh kpan k sukuh,,,

    noow , motorMu ngebooollll,,hahah

  11. nurrahman:

    jadi inget jaman anyaran mahasiswa di SOlo…nginep pas acara di luar kampus di sekitar candi…hehehe

  12. soewoeng:

    ternyata saru wis sue juga ya
    didadeke candi pisan

  13. andi:

    wahahaha… patung lingga yg keren

  14. war wer:

    malam jumat kupdar war wer di cemorosewu sarangan …

  15. Kika:

    Hemmm perlu didatangi nih candi, biar cepat laku jodoh hehehe…

  16. dasir:

    Salam kenal mas…sejarah jangan samapai kita lupakan meski kita tak akan hidup dimasa sejarah…salam

  17. mamah aline:

    itu patung yang nampang ama foto model , gede banget lingganya merusak pemandangan xixixi. saya paling suka wisata sejarah dan baru tahu ada candi di akhir jaman majapahit

  18. bend:

    Endang-andang ke gubuk temen-temen
    Ternyata aq semakin tenggelam :D

  19. narno:

    sepertinya sudah banyak yang rusak ya!

  20. pelintas batas:

    marai pngen ndang muleh we…,terus dolen dolen

  21. ciwir:

    tes keperawanan po ra neng kono????

  22. Anas:

    Enaknya, napak tilas dan jalan-jalan ke candi-candi.

  23. Ongki:

    wow.. Patung Lingga-ne menantang,,,, Wkakakakak

  24. balisugar:

    Saya juga pernah kesana, pas di gambarmu itu ada arca kura-kura besar khan ? aku dipoto lagi naik dia hehe, wah kamu lagi membandingkan dirimu dengan patung Lingga yah ? :lol:

  25. oelil:

    wah asik ulasane…mantafff dan nambahi wawasan. Tour kemana lagi ntar kang… di tunggu ulasan berikutnya

  26. antokoe:

    ulasannya sangat cocok buat referensi tinggal kapan kesananya

  27. Bung Eko:

    Hehehe, Candi Sukuh terkenal sebagai Candi Mesum.
    Tapi suasana sekitarnya sangat enak dan segar.
    Jadi pengen main ke sana (lagi). :D

  28. xitalho:

    Berarti termasuk saru yang dilestarikan ya..?? hihihi….

  29. rio2000:

    candi di indonesia sebenarnya banyak yang ga cocok untuk anak di bawah umur he he

    *tahu dong maksud saya (relief begituan itu lho) *wink

  30. sashimiboy:

    gokil nich candinya, :D
    itu kira – kira fungsi candinya apa mirip seperti di film kamasutra gitu ya ?

  31. briandno:

    sukuh tample very amazing. .akulturasi antara edukasi n budaya. .wisman adjaa bangga bisa brwisata k t4 ui , apha agi qt yg puna. .hehe
    hrus bangga. .shiip , top markotop madhep mantep slamet,hehe

  32. Hera:

    Candi sukuh memiliki relief yang sangat berbeda dengan candi-candi di jawa tengah lainnya. Tapi yang lebih mengherankan saya mengapa bentuk struktural candi tersebut (berbentuk piramida) pirip dengan candi-candi suku Maya di Amerika Tengah dan Selatan. ……..?

Kirim pendapat