Candi Kalasan, Salah Satu Candi Di Tepi Jalan Raya Jogja-Solo

Candi Kalasan, Salah Satu Candi Di Tepi Jalan Raya Jogja-Solo
Rate this post

Seringkali saat melewati Jalan Raya Jogja-Solo, kami melewatkan untuk mengunjungi Candi Kalasan. Padahal lokasi candi tersebut berada di tepi Jalan Jogja-Solo di daerah Kalasan. Pada suatu kesempatan akhirnya kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Candi Kalasan ini. Sedikit informasi yang saya tahu, candi ini merupakan candi bukan kompleks yang cukup terkenal di sekitar Yogyakarta.

Candi Kalasan atau ada yang menyebutnya Candi Kalibening terletak di Dusun Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.

Bangunan Candi Kalasan

Perjalanan menuju ke Candi Kalasan ini sengaja melewati jalan memutar melewati kecamatan Berbah. Bisa saja untuk menuju ke candi tersebut melewati Jalan Jogja-Solo namun tidak langsung dapat berbelok karena terhalang pembatas jalan dan harus berjalan agak jauh untuk mencari jalan memutar. Dari tepi Jalan Jogja-Solo, puncak Candi Kalasan terlihat jelas namun bagian badan candi terhalang oleh rerimbunan pohon dan bangunan toko di tepi jalan.

Langsung saja kami langsung memarkir kendaraan parkir yang disediakan dan membayar retribusi masuk kepada petugas jaga yang ada. Kadang kita dipersilakan mengisi buku tamu untuk catatan kunjungan wisatawan ke area candi ini. Kawasan candi ini buka dari pagi hingga sore hari meskipun bila lewat jam kunjungan kita masih dapat memasuki area candi ini. Setelah itu kami langsung berkeliling kawasan Candi Kalasan yang telah ditata rapi dan dibuatkan taman pada bagian halaman candi.

Menurut informasi dan pendapat arkeolog, Candi Kalasan telah mengalami tiga kali pemugaran. Sebagai bukti, terlihat adanya 4 sudut kaki candi dengan bagian yang menonjol. Selain itu yang terdapat torehan yang dibuat untuk keperluan pemugaran pada tahun 1927 sampai dengan 1929 oleh Van Romondt, seorang arkeolog Belanda.

Potongan Atap Batu Candi Kalasan

Candi Kalasan merupakan candi tunggal yang tidak ditemukan adanya candi pendamping atau candi perwara. Memiliki ketinggian sekitar 34m dengan alas berbentuk bujur sangkar dengan luas 45m x 45m. Candi ini memiliki empat pintu yang terletak masing-masing sisi namun saat ini hanya dari pintu timur yang dapat dimasuki ke area dalam candi. Pada setiap dinding terdapat cekungan sebagai tempat arca meskipun hanya tersisa sedikit arca yang berada di tempatnya. Diatas semua pintu terdapat pahatan bermotif Kala. Tepat di atas ambang pintu, di bawah pahatan Kalamakara, terdapat hiasan kecil berupa wanita bersila memegang benda di kedua belah tangannya. Relung-relung di sisi kiri dan kanan atas pintu candi dihiasi dengan sosok dewa dalam posisi berdiri memegang bunga teratai.

Ruang utama candi berbentuk bujur sangkar dan mempunyai pintu masuk di sisi timur. Di dalam ruangan tersebut terdapat susunan batu bertingkat yang dahulu merupakan tempat meletakkan patung Dewi Tara. Di area dalam atau utama candi terdapat susunan batu yang menyerupai altar penyembahan. Sepanjang batas antara atap dan tubuh candi dihiasi dengan deretan makhluk kerdil yang disebut Gana. Selain itu di area Candi Kalasan ditemukan Prasasti Kalasan yang berangka tahun Saka 700 (778 M). Tahun prasasti tersebut dijadikan penentuan waktu dibangunnya Candi Kalasan meskipun dalam isinya tidak disebutkan kapan dan siapa yang membangun Candi Kalasan ini. Saat ini Prasasti Kalasan disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Potongan Pondasi Candi Kalasan

Meski Candi Kalasan tidak dapat dikembalikan secara utuh, bangunan candi Kalasan masih dapat dinikmati dan diamati bentuknya. Proses pemugaran yang dihentikan akibat tidak ditemukan komponen candi menyebabkan beberapa potongan candi diletakkan secara rapi di tepi bangunan candi. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, para arkeolog menggolongkan candi ini sebagai candi Buddha. Hal ini bisa saja berubah karena banyak sejarah yang hilang di Indonesia. Selain itu ada anggapan lain bahwa tahun yang tertulis dalam Prasasti Kalasan sebenarnya berupa tahun renovasi candi bukan tahun pembangunan candi.

Tidak jauh dari Candi Kalasan terdapat sebuah candi yang bernama Candi Sari. Kedua candi tersebut memiliki kemiripan dalam keindahan bangunan serta kehalusan pahatannya. Ciri khas lain yang hanya ditemui pada kedua candi itu ialah digunakannya vajralepa (bajralepa) untuk melapisi ornamen-ornamen dan relief pada dinding luarnya. Bagi yang berkunjung ke Candi Kalasan sebaiknya sekaligus berkunjung ke Candi Sari begitu juga sebaliknya. (text/foto: annosmile)

== Tiket Masuk

Dewasa : Rp2.000,-/orang

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Andana Paringga:

    Memang komplek candi yang sering dilewati tapi sering pula terliwatkan…tertutup rumah penduduk…

  2. bocah petualang:

    Kalau naik bus, lewat sini juga ya?

Kirim pendapat