Mencari Jejak Sejarah di Candi Gunung Wukir

Mencari Jejak Sejarah di Candi Gunung Wukir
5 (100%) 2 votes

Candi Gunung Wukir ini yang merupakan salah satu candi yang ditemukan di kabupaten Magelang. Keberadaannya cukup penting mengingat sebagai tempat ditemukan prasasti yang dibuat pada awal Kerajaan Mataram Hindu. Banyaknya sejarah penting yang ditemukan dari Candi Gunung Wukir ini tidak serta merta banyak orang mengetahuinya. Alasan klasik seperti minimnya informasi dan medan jalan yang hanya bisa dialalui dengan berjalankaki ke atas bukit menjadikan Candi Gunung Wukir jarang dikunjungi oleh wisatawan.

Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal terletak di Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berada di puncak Gunung Wukir (335 meter dari permukaan laut) dan dikelilingi oleh pohon bambu yang cukup lebat.

Perjalanan untuk menuju ke Candi Gunung Wukir ini cukup menguras waktu dan tenaga. Setelah sempat tersesat karena tidak ada informasi rute perjalanan yang melewati jalan perkampungan, kami harus mendaki gunung kecil atau bukit untuk mencapai lokasi Candi Gunung Wukir yang berada di puncak. Jalan setapak yang dilewati untuk menuju lokasi Candi Gunung Wukir tidak ada petunjuk jalan sehingga harus sering bertanya bila berpapasan dengan warga sekitar.

Memasuki area Candi Gunung Wukir terlihat beberapa bangunan candi yang sudah tidak utuh lagi. Kami pun bergegas menuju ke pos jaga yang letaknya berada di sudut barat untuk melapor dan meminta izin kunjungan kepada petugas penjaga candi. Kami langsung disambut dengan ramah oleh petugas jaga dan dipersilahkan duduk dahulu sebelum berkeliling. Sambil berbincang-bincang sebentar, saya mendapat informasi bahwa di candi ini pernah ditemukan sebuah prasasti bernama Prasasti Canggal yang saat ini telah dipindah dan disimpan di Museum Nasional yang terletak di Jakarta.

Di ruangan pos jaga tersimpan sebuah hiasan kala yang letaknya berada di atas pintu masuk candi dan kopi tulisan yang tertulis pada Prasasti Canggal yang dituliskan dalam tiga bahasa, bahasa asli (Kawi), bahasa Indonesia, dan bahasa internasional (Inggris). Setelah cukup bercakap-cakap dan mengisi buku tamu, kami berkeliling area Candi Gunung Wukir.

Candi Gunung Wukir tersusun dari batuan jenis andesit dan terdiri dari satu candi induk dan tiga candi perwara. Candi Induk menghadap ke timur atau matahari terbit dimana memiliki arti sebagai lambang kelahiran. Seluruh atap dan dinding candi induk sudah runtuh hanya tersisa alas dan sedikit dinding candi. Dibagian tengah terdapat yoni yang berukuran besar menyesuaikan ukuran candi induk yang diperkirakan cukup besar. Tidak ditemukan Lingga sebagai pasangan Yoni di bangunan candi induk ini.

Candi kecil yang diperkirakan merupakan candi perwara kondisinya lebih baik daripada candi induk. Candi kecil ini menghadap ke candi induk atau ke arah barat. Dinding candi kecil ini masih berdiri utuh hingga pintu masuk candi. candi kecil di sisi sebelah ujung terdapat yoni yang berukuran kecil sedang candi kecil di bagian ujung terdapat patung nandhi (andhini,lembu betina) yang berukuran panjang 1,5 meter. Candi kecil kondisinya sudah runtuh hanya tersisa alasnya tanpa ditemukan patung di tengah bangunan candi.

Ketika kami mengelilingi dan mengamati dinding-dinding candi yang masih tersisa, tidak ditemukan relief cerita pada candi. Candi Gunung Wukir ini hanya memiliki sedikit relief atau hiasan berbentuk guratan daun dan bunga pada alas candi. Kesimpulannya relief candi ini cukup sederhana dan tidak ditemukan relief yang menunjukkan bangunan candi ini merupakan candi hindu. Keberadaan Yoni dan Nandhi yang ditemukan belum dapat menunjukkan Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu karena patung tersebut merupakan warisan dari budaya pra sejarah di Indonesia. Meskipun bila disangkutkan dengan penemuan Prasasti Canggal di area Candi Gunung Wukir ini bisa disimpulkan sementara bahwa candi ini merupakan candi Hindu.

Beberapa potongan batu yang ditemukan terdapat beberapa kemuncak candi dan diperkirakan bangunan candi yang ada sebetulnya lebih dari empat buah candi. Namun karena saat ditemukan dalam kondisi rusak dan berantakan, hanya bisa direkonstruksi sebanyak empat buah candi. Potongan batu yang ada beberapa hanya memiliki relief berupa hiasan bunga dan daun saja sama seperti relief yang ada dalam candi dan banyak diantaranya merupakan batuan polos. (text/foto: annosmile)

Ada 5 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. dafhy:

    touring beneran ini mas, susahnya perjalanan terbayar sudah dengan sampai tujuan ya :-)

  2. putrosn:

    mas, trekking ki penak yo mas. :))

  3. HeruLS:

    Hmmm, informasi riwayat/ ceritanya minim sekali

  4. fajar:

    wah bener capek kan. Jlnya lcin bigin jatuh tuh. Tapi sip dah!

Kirim pendapat