Candi Dwarawati Berkabut

Cuaca berkabut tidak mengurungkan niat saya untuk mengunjungi situs atau candi Dwarawati di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Candi Dwarawati adalah salah satu situs purbakala atau candi yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Namanya terkesan jarang didengar karena bukan merupakan daya tarik utama wisata di Dataran Tinggi Dieng seperti Kompleks Candi Arjuna.

Candi Dwarawati terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara atau berada di kaki gunung Prau, sala satu puncak di Dataran Tinggi Dieng. Candi ini merupakan candi yang terletak paling utara diantara candi-candi lain yang dibangun di Dataran Tinggi Dieng. Belum diketahui asal usul mengenai candi ini namun kesimpulan sementara menyebutkan bahwa candi ini termasuk pada zaman Wangsa Sanjaya.

Area Candi Dwarawati

 

Lokasi Candi Dwarawati sedikit tersembunyi karena berada di belakang pemukiman warga di desa Dieng Kulon atau ditengah-tengah area ladang milik warga. Lebih mudahnya kita harus menyusuri jalan di sebuah gang yang berada di depan kantor polisi. Namun minimnya papan informasi petunjuk arah sempat membuat saya tersesat saat menyusuri jalan di tengah-tengah pemukiman penduduk. Untung saja saya berpapasan dengan penduduk sekitar yang kebetulan sedang berjalan menuju ke ladangnya dan menanyakan lokasi Candi Dwarawati. Tidak lama kemudian saya tiba di ujung jalan tempat Candi Dwarawati berada.

Kendaraan saya parkir di tepi jalan karena tidak tersedia area parkir dan saya langsung berjalan menaiki beberapa anak tangga untuk menuju ke Candi Dwarawati yang berada di atas bukit kecil. Bau menyengat berupa pupuk kandang sempat tercium karena di tepi jalan banyak ditemukan tumpukan pupuk kandang. Tidak tampak penjagaan di kompleks Candi Dwarawati ini dan sepertinya tidak dikenakan bea masuk candi seperti di Kompleks Candi Arjuna.

Candi Dwarawati mempunyai denah empat persegi panjang yang berukuran panjang 5 m dan lebar 4 m, tinggi bangunan 6 m dan dilengkapi dengan penampil pada masing-masing sisinya. Pada masing-masing dinding luar dan dalam bilik candinya terdapat relung-relung tempat arca namun kondisinya sudah kosong.

Potongan Kala Yang Tidak Terpasang di Candi Dwarawati

Saat menapaki tangga-tangga terakhir sebelum memasuki kawasan Candi Dwarawati tiba-tiba kabut tebal datang menyelimuti tempat ini. Suasana berubah menjadi gelap dan penglihatan menjadi terbatas. Pemandangan Candi Dwarawati menjadi tidak terlihat dan tertutup kabut. Saya sempat bertahan di pintu masuk candi menunggu kabut tebal menghilang kemudian berkeliling dan mengamati Candi Dwarawati.

Bila dilihat secara sekilas, Candi Dwarawati terkesan biasa dan kurang menarik dimata wisatawan biasa. Namun bagi wisatawan yang menyukai sejarah dan budaya, candi ini terlihat menarik karena struktur bentuk candi berikut relief yang masih tersisa dari dari peradaban zaman lampau. Candi Dwarawati hanya terdapat satu bangunan candi tanpa candi pendamping atau perwara dan tumpukan yang ada disamping candi merupakan bagian candi yang sudah tidak dapat dipasang kembali.

Annosmile in Candi Dwarawati

Pada dinding Candi Dwarawati hanya terlihat ukiran sederhana dan hal ini dapat disimpulkan bahwa candi ini dibangun pada zaman klasik. Relung-relung di bagian dinding candi nampak kosong dan tidak ada lagi arca yang terpasang. Entah apakah arca yang ada telah rusak, hilang, atau diamankan di Museum Prubakala Kaliasa dekat Candi Gatotkaca. Tumpukan batu candi yang disusun rapi di samping bangunan candi ternyata merupakan hiasan kala yang terpasang diatas pintu masuk candi. Meskipun batuan candi tersebut sudah rusak, masih terlihat relief-relief yang membentuk hiasan kala.

Kabut tebal dan tipis datang secara bergantian tidak membuat saya segera meninggalkan lokas candi. Saya bersantai di area Candi Dwarawati karena ingin mencoba mendokumentasinya dengan diselimuti kabut. Kawasan pertanian kentang yang mengelilingi Candi Dwarawati pun hampir tidak terlihat karena tebalnya kabut. Saat membandingkan Candi Dwarawati dengan candi lain di sekitar Dataran Tinggi Dieng, ada kemiripan dengan bangunan Candi Gatotkaca yang masih utuh. Selain itu penamaan candi masih dikaitkan dengan cerita pewayangan dan sama seperti candi-candi lain yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Sedikit informasi menyebutkan bahwa candi ini masih digunakan untuk ritual namun tidak diketahui kapan hal tersebut berlangsung. (text/foto: annosmile)

 

 

Baca Juga  Durian Kromo Banyumas, Potensi Durian Lokal Yang Merambah Nasional

Kirim pendapat