Bioskop Permata Yogyakarta, Pancaran Sinarnya Telah Padam

Bioskop Permata saat ini hanyalah sebagai bangunan tua yang tidak berpenghuni. Setelah tidak lagi digunakan sebagai bioskop, bangunan bekas Bioskop Permata ini menjadi bangunan kosong yang tidak dimanfaatkan. Namun, usia dan sejarah panjang bangunan Bioskop Permata menjadikan bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi undang-undang. Bangunan bioskop ini tidak boleh dibongkar dan dibangun menjadi bangunan baru seperti bangunan bioskop-bioskop lain di Yogyakarta yang telah gulung tikar.

Bekas Bioskop Permata terletak diantara Jalan Gajah Mada dengan Jalan Sultan Agung Yogyakarta. Menurut informasi merupakan salah satu cagar budaya di Yogyakarta yang dibangun tahun 1940an pada zaman penjajahan Belanda.

Bangunan Eks Bioskop Permata

Saat ini tidak banyak yang tahu bahwa bangunan berarsitektur Belanda di tepi Jalan Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada dulunya berfungsi sebagai bioskop. Papan jadwal film diputar yang terpampang besar di atas pintu masuk telah dibongkar dan hanya menyisakan bangunan inti yang tidak menunjukkan ciri bangunan bioskop. Corat coret jahil dan pudarnya warna cat di dinding tembok menambah kesan bahwa bangunan ini tidak berpenghuni dan angker.

Kondisi bangunan bekas Bioskop Permata masih kokoh berdiri meskipun beberapa kali kota Yogyakarta dilanda gempa besar. Struktur bangunan yang dirancang oleh insinyur Belanda ini memang membuat kita berdecak kagum karena mampu bertahan hingga puluhan tahun tanpa adanya kerusakan yang berarti. Secara keseluruhan bangunan bekas Bioskop Permata masih asli dan hanya beberapa bagian yang mengalami renovasi atau perbaikan. Perbaikan yang dilakukan hanya pada perbaikan ruangan kantor, perbaikan kamar mandi, pengecatan, dan penggantian kaca yang pecah.

Pintu Samping Eks Bioskop Permata

Setelah aktivitas sebagai bioskop terhenti, Bioskop Permata hanya dibiarkan saja sebagai bangunan kosong yang tidak berpenghuni. Meskipun beberapa kali bangunan bioskop sempat disewa untuk kegiatan konser dan acara sebuah MLM. Seluruh isi dan perangkat pendukung bioskop seperti proyektor tua, layar, kursi penonton, dan sebagainya telah dipindahkan oleh pemilik usaha Bioskop Permata ke Bioskop Indra yang dikelola dalam satu perusahaan. Meskipun saat ini Bioskop Indra juga telah gulung tikar dan sedang mengalami konflik kepemilikan lahan.

Baca Juga  Menelusuri Jalan Masjid Mataram Kotagede Yogyakarta

Kondisi bekas Bioskop Permata saat ini tidak berbeda jauh dengan kondisi bangunan cagar budaya lain di Yogyakarta yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Tidak ada perawatan dan perbaikan fisik yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan bioskop. Meskipun memprihatinkan, bangunan Bioskop Permata ini masih rutin dikunjungi oleh para mahasiswa Teknik Sipil dan Arsitektur sebagai tugas mempelajari struktur dan arsitektur bangunan pada zaman penjajahan Belanda ini. Merekalah orang-orang yang setia menyambangi bangunan bekas Bioskop Permata meskipun hanya untuk mengerjakan tugas kampus.

Gaug Bioskop Permata

Keberadaan menara gaug atau sirine di sisi selatan bangunan bekas Bioskop Permata yang memperkuat sejarah bioskop akhir-akhir ini tidak dibunyikan lagi ketika peringatan hari-hari penting di Indonesia. Entah karena tidak ada lagi petugas yang membunyikan gaug pada saat peringatan hari-hari penting atau peralatan gaug (sirine) mengalami kerusakan dan belum dilakukan perbaikan.

Sejarah kejayaan Bioskop Permata telah dilampaui puluhan tahun yang lalu meskipun berharap suatu saat bisa kembali berjaya dengan cara yang berbeda. Entah bagaimana rencana kedepan bangunan bekas Bioskop Pertama ini akan difungsikan kembali atau dimanfaatkan untuk usaha lain. Kabar burung mengabarkan bangunan bekas bioskop ini akan dikembangkan menjadi hotel dan lapangan futsal. Namun saat ini belum ada informasi yang pasti mengenai rencana untuk bekas Bioskop Permata. Harapan tinggal harapan, semoga bentuk asli bangunan Bioskop Permata masih dipertahankan karena merupakan salah satu cagar budaya yang dilindungi di Yogyakarta (text/foto: annosmile)

Baca Juga  Asal Usul dan Penjelasan Tradisi Rasulan Di Kabupaten Gunungkidul


SEJARAH

Bioskop Permata merupakan salah satu bangunan bioskop tertua di Yogyakarta yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Bioskop ini didirikan pada tahun 1940-an diatas lahan bekas Pasar Tanjung. Arsitektur bangunan bioskop cukup megah dimasanya dengan gaya Art Deco yang diarsiteki insiyur Belanda. Awal mula berdiri, bioskop ini diberi nama Bioskop Luxor. Keberadaannya sempat diisukan akan diledakkan saat pertempuran Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dalam pertempuran mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada tahun 1959, nama Bioskop Luxor berganti nama menjadi Bioskop Permata. Bioskop Permata mengalamai masa kejayaan pada tahun 1980 – 1990-an dan mengalami kemunduran mulai pertengahan tahun 1990. Bioskop Permata resmi berhenti beroperasi pada tahun 2010. Setelah gulung tikar, bangunan bioskop dikembalikan kepada pemilik lahan yaitu Puro Pakualaman.

Sejak tutupnya operasional bioskop, bangunan Bioskop Permata terkesan mangkrak dan tidak terpakai. Beragam isu pun bermunculan mengenai bangunan bekas Bioskop Permata ini mulai akan dibangun hotel, rumah makan, dan sebagainya. Namun kenyataannya hingga saat ini hal tersebut tidak terjadi.

ARSIP

1940 – Bioskop Permata berdiri

1 Agustus 2010 – Bioskop Permata berhenti beroperasi (tutup)

11 Desember 2011 – Bioskop Permata digunakan sebagai lokasi konser musik metal bertema “Septicema – Bloody Decade” yang diselenggarakan Bandelero Troops Presents

27 Juni 2015 – Bioskop Permata digunakan sebagai lokasi syuting Film Indonesia dengan sutradara Garin Nugroho

23-25 Agustus 2015 – Bioskop Permata digunakan sebagai panggung pementasan rangkaian acara FKY 2015 dengan tema In Situ #1 Permata yang didukung Kalanari Theatre Movement.

Oktober-Desember 2018 – Bioskop Permata dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta dan Pemerintah Daerah DIY

Alamat

Eks Bioskop Permata

Jl. Sultan Agung Yogyakarta

No Telp : –

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. marsudiyanto:

    Kalau yang dulu pernah terbakar itu bioskop apa ya Mas…

    • admin:

      Bioskop regent dan bioskop century21 yg skrng dibangun jadi bioskop XXI itu mas :)

  2. Aji:

    pada saat saya memberi komentar pada artikel ini tepatnya tanggal 4 Januari 2019. Bangunan bekas Bioskop Pertama (Eks-Bioskop Permata) sudah direnovasi dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Dari luar bangunan terlihat tembok, pintu dan jendela sudah di cat ulang. Di sisi selatan, teras atau lobi yang pada saat Bioskop Permata masih beroperasi dijadikan untuk tempat pembelian tiket dan tempat game (dingdong) dipugar, dihilangkan hanya tersisa menara gaug (sirine) yang juga di cat ulang dengan warna hijau.
    Saya sebagai warga asli Jogja yang masih satu kelurahan dengan Bioskop Permata sempat merasakan eksistensi BIoskop Permata sekitar tahun 1990-1998. Di masa itu mungkin termasuk dalam masa redup Bioskop Permata, karena hanya memutar film komedi dewasa atau film dewasa saja, yang mungkin dimaksudkan untuk tetap eksis beroperasi ketika dana/permodalan Bioskop Permata minim untuk membayar hak memutar film-film baru..

    • admin:

      Hi Aji,
      boleh tau di kampung mana tinggalnya?

Kirim pendapat