Bersih Desa Sendang Sinongko Klaten, Tradisi Unik Memotong Puluhan Ekor Kambing

Bersih Desa Sendang Sinongko Klaten, Tradisi Unik Memotong Puluhan Ekor Kambing
3.5 (70%) 2 votes

Tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko merupakan hajatan tahunan yang digelar oleh masyarakat desa sekitar Sendang Sinongko. Tradisi ini telah lama berlangsung dan rutin diselenggarakan setelah musim panen pada pertengahan tahun. Rangkaian Tradisi Bersih Sendang Sinongko ini cukup unik dengan melakukan pemotongan puluhan ekor kambing secara bersama-sama di tepi Sendang Sinongko hingga acara doa bersama yang juga diselenggarakan di area sekitar sendang.

Tradisi Bersih Sendang Sinongko diselenggarakan di tepi Sendang Sinongko, Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Tradisi yang diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat Wage sehabis panen kedua ini menjadi salah satu agenda budaya kabupaten Klaten.

Pemotongan Kambing di Tepi Sendang Sinongko Klaten

Tradisi Bersih Sendang Sinongko ini rutin diselenggarakan setiap tahun sekitar bulan Juli hingga September atau selepas panen kedua. Beberapa warga yang kami tanyai tidak mengetahui sejak kapan tradisi ini dimulai. Namun yang jelas tradisi ini telah ada dan diwariskan dari kakek nenek mereka. Bisa diperkirakan bahwa tradisi ini telah bertahan selama ratusan tahun sejak warga mendiami kawasan sekitar sendang ini.

Proses pemotongan puluhan kambing jantan di sekitar pohon tepi Sendang Sinongko tergolong unik karena terdapat sesuatu yang tidak lazim. Ketika kambing disembelih, darah yang biasanya memancar atau mengalir hanya keluar secara menetes saja. Hal ini memang aneh dan membuat orang banyak tidak percaya bila tidak melihatnya sendiri. Kami pun datang cukup awal untuk membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut.

Beragam kisah diceritakan ketika dilakukan proses pemotongan hewan (kambing) di sekitar Sendang Sinongko. Ada yang mengatakan bahwa darah yang keluar saat penyembelihan kambing hanya menetes. Ada pula yang mengatakan bahwa darah yang mengucur jatuh ke akar pohon akan segera lenyap. Pada kenyataannya tidak tampak muatan darah yang tercecer dari puluhan ekor kambing.

Warga Desa Sedang Memasak Di Tepi Sendang Sinongko Klaten

Suasana berangsur-angsur sepi ketika beberapa puluh kambing jantan selesai disembelih dan dikuliti untuk dimasak. Hanya tersisa sekelompok orang yang sibuk memasak gulai kambing dan menanak nasi untuk sajian acara Bersih Desa Sendang Sinongko. Sebagian warga yang selesai tugasnya pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan acara yang diselenggarakan sehabis shalat Jumat.

Tenong-Tenong Berisi Tumpeng Lengkap Dengan Lauk Dalam Tradisi Bersih Sendang Sinongko Klaten

Sebelum diselenggarakan shalat Jumat, datanglah tenong-tenong milik warga desa yang diangkut dengan menggunakan truk. Tenong-tenong tersebut berisi nasi tumpeng lengkap dengan lauknya seperti ingkung ayam lengkap dengan masakan sayur dari hasil bumi. Hampir seluruh isi tenong yang dibawa warga terdapat keseragaman menu. Diantara isi tenong terdapat sebuah rantang kosong yang nantinya diisi gulai kambing untuk dibawa pulang. Tenong-tenong yang datang ditata sedemikian rupa dan dipisahkan berdasarkan dusun atau kampung.

Dikisahkan bahwa di sekitar sendang tersebut merupakan sebuah kadipaten yang berbatasan dengan kadipaten Gunung Merapi disebelah barat dan kadipaten Gunung Lawu disebelah timur. Kadipaten tersebut dipimpin oleh Adipati Ki Singodrono dengan Patihnya Ki Eropoko. Kedua tokoh tersebut moksa ketika tidak setuju memberikan persembahan kepada Nyi Loro Kidul berupa korban manusia dan memilih korban berwujud hewan. Pada suatu ketika ada seorang petani yang mendengarkan suara gaib dari kedua tokoh tersebut yang moksa di Sendang Sinongko. Bila warga ingin makmur sejahtera sehabis panen hendaknya memberikan sesaji berupa nasi tumpeng lengkap dan memotong kambing ditepi sendang. Hingga saat ini tradisi nasi tumpeng, memotong kambing, hingga memberikan sesaji di tepi sendang masih berlangsung hingga sekarang.

Gulai Kambing Yang Dibawa Pulang Dalam Tradisi Bersih Sendang Sinongko Klaten

Setelah selesai waktu shalat jumat, Tradisi Bersih Desa Sendang Sinongko dimulai dengan pembukaan acara oleh kepala desa kemudian dilanjutkan dengan pentas kesenian tradisional. Sembari acara berlangsung, beberapa panitia acara sibuk mengisi gulai kambing yang telah matang ke dalam rantang yang terdapat di dalam tenong-tenong milik warga. Sebagian panitia yang lain membagikan hidangan kepada warga dan tamu undangan berupa makanan ringan.

Bermacam-macam makanan ringan yang disajikan untuk warga mulai dari buah-buahan seperti semangka dan jeruk hingga jajanan pasar seperti kue lapis, roti nanas, kacang, dan sebagainya. Makanan tersebut disajikan diatas piring kemudian diletakkan dihadapan warga yang duduk di sekitar Sendang Sinongko. Bila diamati, hidangan yang disajikan lebih dari sepuluh macam jenis makanan.

Jajanan Pasar Dalam Tradisi Bersih Sendang Sinongko Klaten

Setelah dilakukan doa bersama, para warga dan pengunjung yang hadir dipersilakan makan nasi gulai kambing bersama-sama. Sebuah pemandangan langka ketika ribuan orang memadati suatu lokasi kemudian makan bersama tanpa memandang status sosial. Para panitia kembali sibuk dengan mengantarkan nasi putih dan gulai kambing ke setiap warga yang duduk di tempat yang disediakan.

Warga Desa Pokak Membawa Tenong Dalam Tradisi Bersih Sendang Sinongko Klaten

Kami pun tidak ketinggalan untuk turut bersantap nasi gulai kambing bersama-sama dengan warga yang lain. Potongan daging kambing yang dimasak terasa empuk dengan bumbu yang telah meresap. Sepertinya warga yang memasaknya telah terbiasa memasak makanan dalam jumlah yang besar. Tradisi bersantap gulai kambing bersama-sama ini bukan merupakan kali pertama yang pernah saya alami. Sebelumnya saya pernah mengikuti acara serupa dalam tradisi berbuka puasa dengan gulai kambing di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Sebelum membawa pulang tenong, para warga menyisihkan sedikit isi tenong dengan sehelai daun pisang kemudian diletakkan di bawah pohon tempat dilakukan pemotongan kambing. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur warga atas segala rezeki dan kelancaran panen sawah mereka beberapa waktu yang lalu. Kemudian berangsur-angsur warga meninggalkan lokasi Sendang Sinongko sambil membawa tenong menuju rumah masing-masing. Perayaan Bersih Sendang Sinongko tidak sepenuhnya usai karena pentas seni tradisional kembali dilanjutkan hingga sore hari. (text/foto: annosmile)

JADWAL

Tahun 2015 : 28 Agustus 2015

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. attayaya:

    memberi berkah kepada semua

Kirim pendapat