Bendungan Colo Sukoharjo, Potensi Wisata Yang Masih Terpendam

Bendungan Colo Sukoharjo, Potensi Wisata Yang Masih Terpendam
3.6 (71.11%) 9 votes

Bendungan Colo merupakan nama sebuah bendungan di kabupaten Sukoharjo yang melintasi aliran sungai Bengawan Solo. Bendungan ini sepertinya kurang mendapat perhatian serius oleh pemerintah untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata selain sebagai bendungan yang berfungsi untuk keperluan irigasi pertanian. Daya tarik wisata Bendungan Colo sebenarnya cukup menarik karena pemandangan alam yang indah dan lokasi yang cocok untuk tempat memancing.

Bendungan Colo terletak di perbatasan antara desa Pengkol, kecamatan Nguter, kabupaten Sukoharjo dengan desa Sendangijo, kecamatan Selogiri, kabupaten Wonogiri yang dilewati Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo. Bendungan atau waduk ini memiliki luas sekitar 32.200 hektar.

Sungai Bengawan Solo di Bendungan Colo Sukoharjo
Letak Bendungan Colo berada diantara jalan yang menghubungkan antara Sukoharjo dengan Wonogiri. Minimnya informasi mengenai lokasi ini membuat pengunjung harus bertanya kepada penduduk sekitar terlebih dahulu ketika pertama kali datang ke tempat ini. Pengunjung yang memasuki kawasan Bendungan Colo tidak dipungut biaya masuk alias gratis. Ketiadaan retribusi masuk dimaksudkan agar wisatawan bersedia mengunjung kawasan ini dan sebagai ajang promosi. Kesan pertama mengenai Bendungan Colo adalah kawasan wisata yang kurang terawat dan terkesan diabaikan. Taman bermain yang berada di tepi bendungan terlihat gersang, kotor, dan fasilitas pendukungnya sudah tidak dapat digunakan lagi. Sampah berserakan yang ada disudut taman dibiarkan menumpuk tanpa ada kejelasan kapan dibersihkan.

Tulisan Bendungan Colo Sukoharjo

Kekecewaan bertambah karena daya tarik wisata yang ditawarkan hanyalah pintu air Bendungan Colo saja. Tidak ada daya tarik lain seperti permainan air, warung apung, taman bunga, atau yang lain. beberapa warung yang berdiri disekitar jalan tepi Bendungan Colo terlihat kumuh dengan spanduk usang menutupi dinding warung. Pemerintah daerah setempat sepertinya belum serius menggarap kawasan Bendungan Colo ini. Apabila dilakukan penataan pedagang kakilima dan perbaikan fasilitas pasti akan menarik pengunjung untuk berwisata ke tempat ini.

Bila diperhatikan sebenarnya pemandangan alam sekitar Bendungan Colo yang indah berpotensi dikembangkan sebagai kawasan wisata unggulan. Namun sepertinya pemerintah daerah setempat belum serius memaksimalkan potensi wisata karena pendapatan asli daerah (PAD) bukan berasal dari retribusi wisata. Sedikit informasi bahwa pendapatan asli daerah Sukoharjo paling tinggi dari berasal dari sektor pertanian dan industri.

Tanggul Bendungan Colo Sukoharjo

Aktivitas yang sering terlihat di sekitar Bendungan Colo adalah aktivitas warga sekitar yang melewati jalan diatas jembatan, para pemancing, dan para penjala ikan. Selebihnya hanya segelintir orang yang penasaran dengan Bendungan Colo kemudian segera meninggalkan lokasi. Khususnya bagi para pemancing dan penjala, kawasan Bendungan Colo merupakan kawasan yang cukup favorit karena ikannya cukup melimpah. Sebagian besar para pemancing datang ketika hari menjelang siang dan meninggalkan Bendungan Colo saat waktu menjelang malam.

Bendungan Colo Sukoharjo sebenarnya masih menyimpan banyak potensi yang belum tergarap secara maksimal baik oleh pemerintah daerah setempat maupun warga disekitarnya. Bendungan Colo berpotensi dikembangkan sebagai kawasan wisata dan didekatkan dapat digunakan sebagai kawasan budidaya perikanan. Pengembangan kawasan wisata memang membutuhkan dana yang tidak sedikit disamping itu diperlukan keseriusan pemerintah daerah setempat untuk mengelola kawasan ini. Sehingga nantinya setelah selesai dilakukan pengembangan tidak kembali terbengkalai lagi dan menjadi rusak seperti semula.

Batu Pemecah Arus Di Bendungan Colo Sukoharjo

Pada musim kemarau, Bendungan Colo mengalami penurunan debit air yang cukup trastis. Area di tepi bendungan mengering dan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk ladang atau sawah. Mereka menanam berbagai tanaman pangan seperti padi, jagung, kacang tanah, dan sebagainya. Hal ini memberikan berkah sendiri kepada warga atau petani yang memanfaatkan lahan tepi bendungan tersebut. Walaupun sebenarnya aktivitas semacam ini dilarang oleh dinas pengairan karena dapat mengganggu kestabilan tepi bendungan dan menyebabkan pendangkalan. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat