Bekas Jembatan Kereta Api Pangukan (Bedog)

Bekas Jembatan Kereta Api Pangukan (Bedog)
Rate this post

Di ujung Jalan PJKA sebelah barat terdapat sebuah bekas jembatan kereta api yang dinamakan Jembatan Pangukan atau Jembatan Sungai Bedog karena melintasi Sungai Bedog. Dari kejauhan banyak orang yang tidak menyangka bahwa bekas jembatan tersebut dahulu merupakan jembatan yang digunakan untuk kereta api melintasi sungai.

Bekas jembatan Pangukan atau Bedog terletak di tepi Jalan Pangukan, Tridadi Sleman. Menjadi salah satu bangunan yang termasuk warisan budaya Indonesia diresmikan pada tahun 2008 oleh Gubernur Sri Sultan hamengku Buwono X.

Jembatan Kereta Api Pangukan ini berhenti beroperasi ketika rute kereta Yogyakarta-Magelang dihentikan dan sempat terbengkalai. Beruntung, pemerintah setempat melakukan pemugaran jembatan dan menjadikannya salah satu bukti sejarah dan warisan budaya Indonesia. Saat ini bangunan jembatan Pangukan masih terlihat utuh dengan potongan rel yang masih terpasang pada jembatan lengkap dengan bantalannya.

Menurut informasi yang didapat, menyebutkan bahwa jembatan Pangukan memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh jembatan-jembatan lain di Indonesia. Pada sudut tumbu jembatan yang terletak pada keempat ujung bawahnya yang menumpu pada penyangga beyon, terdapat sistem roll dan engsel. Sistem roll terletak di dua ujung tumpuan bagian timur dan sistem engsel terletak di ujung tumpuan bagian barat.

Sistem ini merupakan sistem yang dibuat oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atas jembatan itu untuk mengamankan ruas jembatan agar terhindar dari bahaya patah atau melengkung ketika dilewati kereta (beban berat). Jadi, ketika bentangan jembatan ini dilewati kereta api yang beratnya puluhan bahkan ratusan ton, maka beban tekan dan beban tariknya akan dieliminasi oleh pergerakan roll dan engsel-engsel di kedua ujung bawah jembatan. (source: tembi.org)

Jembatan Kereta Api Pangukan merupakan jembatan yang dibuat pada masa pemerintahan Belanda oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Jembatan Pangukan dibuat dari lempengan dan batang-batang besi baja yang disambung dengan sistem mur, baut, dan las. Panjang rangka jembatan  sekitar 30 meter dan lebar jembatan sekitar 2,5 meter. Jembatan membentang di atas Sungai Bedog pada ketinggian sekitar 20 meter.

Teknologi modern sudah ditanamkan lebih dari seratus tahun yang lalu dalam pembuatan jembatan yang dilewati kereta api oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij dengan rancangan dan perhitungan yang tepat. Tanpa menggunakan sistem dan teknologi ini dapat dipastikan jembatan tidak akan mampu menahan beban puluhan hingga ratusan kali lipat dari berat konstruksi atau rangka jembatan.

Sebagai satu-satunya jembatan di Indonesia yang menggunakan sistem roll dan engsel, seharusnya teknologi ini dikembangkan dan diimplementasikan pada pembuatan jembatan-jembatan di Indonesia. Namun kenyataannya jembatan dan teknologi yang tercipta pada jembatan Pangukan hanya menjadi monumen dan bangunan sejarah yang kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Saat ini hampir semua konstruksi jembatan di Indonesia masih menggunakan teknologi sebelum teknologi ini ditemukan. Sehingga tidak heran bila saat ini banyak terjadi kasus jembatan roboh dan patah karena tidak mampu menahan beban yang beratnya berpuluhkali lipat daripada berat rangkanya. (text: annosmile foto: ps negoro)

Kirim pendapat