Bedug Kyai Dhondhong Masjid Kotagede Yogyakarta

Bedug Kyai Dhondhong Masjid Kotagede Yogyakarta
5 (100%) 1 vote

Bedug Kyai Dhondhong merupakan sebuah bedug yang berada di dalam kawasan Masjid Mataram Kotagede Yogyakarta. Bedug ini sebenarnya sama seperti bedug yang digunakan pada masjid-masjid pada umumnya. Hanya saja usianya yang cukup lama dan memiliki sejarah yang menarik untuk disimak. Saat ini Bedug Kyai Dhondhong masih dibunyikan menjelang waktu shalat.

Kiai Dhondhong adalah nama bedhug yang berada di serambi Masjid Mataram, Kotagede. Jejak sejarah keberadaan bedhug di masjid bermula ketika pengembaraan Sunan Kalijaga tiba di desa Dhondhong, Kalibawang, Kulonprogo. Sunan Kalijaga tertarik dengan kayu di desa Dhondhong  untuk dijadikan bedug.

Bedug Kyai Dhondhong Masjid Kotagede Yogyakarta

Menurut buku Toponim Kotagede, Sunan Kalijaga tertarik dengan kayu yang ditemukan di Desa Dhondhong langsung memerintahkan Nyai Brintik yang berasal dari Desa Dhondhong untuk membawa kayu tersebut ke Kraton Mataram. Hal ini dilakukan karena Masjid Gede sebutan Masjid Kotagede belum memiliki bedug.

Selanjutnya, Nyai Brintik tinggal dan menetap di permukiman depan Masjid Gede yang kemudian disebut sebagai Kampung Dhondhongan. Tugas sebagai abdi penabuh bedug Kiai Dhondong pada mulanya diteruskan oleh keturunan Nyai Brintik. Namun, tugas tersebut kini lebih sering diambil alih jamaah Masjid Besar Mataram.

Kondisi Bedug Kyai Dhondhong masih terawat dengan baik walaupun sudah berulang kali mengalami pengecatan untuk menghindari rayap dan penggantian kulit bedug. Selain itu di dekatnya terdapat kentongan sebagai pasangan bedug. Entah kentongan ini merupakan bagian dari Bedug Kyai Dhondhongan atau baru ada beberapa tahun yang lalu.

Ada 1 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. omagus:

    wah udah lama nggak liat bedug, di kampung saya sana juga ada bedug yang umurnya udah puluhan tahun mas.

Kirim pendapat