Babon Aniem Atau Gardu Listrik Peninggalan Belanda Di Kotabaru Yogyakarta

Babon Aniem Atau Gardu Listrik Peninggalan Belanda Di Kotabaru Yogyakarta
4 (80%) 3 votes

Sebuah bangunan berukuran 3×3 meter yang berada di persimpangan jalan Faridan F. Noto Kotabaru ternyata memiliki kaitan yang erat dengan sejarah kota Yogyakarta dan sejarah keberadaan listrik di kota ini. Bangunan yang merupakan bekas gardu listrik ini dinamakan Gardu Listrik Kotabaru masih berdiri kokoh di kawasan Kotabaru.

Gardu Listrik Kotabaru merupakan gardu distribusi listrik no. 20 yang dibangun pada tahun 1918 untuk melayani kebutuhan listrik di kawasan Nieuw Wijk atau Kota Baru oleh Pemerintah Belanda. Di kota Yogyakarta sendiri tinggal tersisa gardu listrik tua yang tersebar di Kotabaru, Jalan Abu Bakar Ali, Kotagede, dan Pojok Beteng Wetan (saat ini sudah tidak ada).

Gardu Listrik Peninggalan Belanda Di Kawasan Kotabaru Yogyakarta

Ketika tiba di depan bangunan bekas gardu listrik Kotabaru yang merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda ini, tidak terlihat kesan menarik dan tidak terlihat seperti bekas peninggalan sejarah. Cukup wajar kondisinya terlihat baru dan terdapat relief mural (grafity) yang dibuat oleh para seniman beberapa tahun lalu dalam proyek mural Jogja. Selain itu tidak ditemukan papan informasi mengenai asal-usul dan sejarah bangunan bekas gardu listrik sehingga hanya terlihat seperti bangunan tak bermakna. Namun bila kita cermat, bentuk bangunan gardu listrik ini hampir sama dengan bangunan bekas gardu listrik di dekat Pasar Kotagede.

Bangunan bekas gardu listrik Kotabaru pernah mengalami renovasi dengan perbaikan tembok, pintu, jendela, dan atap walaupun tidak mengubah komposisi dan bentuknya. Pada sekeliling bangunan gardu listrik dibangun sebuah taman kecil agar tampak lebih sejuk dan asri. Pagar yang mengelilinginya dibuatĀ agar bangun tidak diutik-utik tangan-tangan jahil. Tanpa adanya taman dan pagar akan membuat jarak antara bangunan gardu listrik dan ruang-ruang terbuka di sekitarnya menjadi terbuka. Keterbukaan itu sering (pada masa lalu) memancing tangan-tangan jahil untuk mendekatinya dan kemudian mencoret-coret dinding bangunannya.

Beberapa tahun yang lalu, Bekas Gardu Listrik KotabaruĀ dimanfaatkan sebagai kanvas oleh Kelompok Seniman “Apotek Komik” ketika mereka giat dengan proyek Mural Kota. Bangunan itu hingga kini berlukiskan burung dan sangkar.

Atap Gardu Listrik Peninggalan Belanda Di Kotabaru Yogyakarta

Keberadaan lukisan mural di bekas gardu listrik Kotabaru banyak menuai pro dan kontra. Para sejarawan dan arkeolog mengatakan bahwa Gardu Listrik Kotabaru merupakan Benda Cagar Budaya (BCB) karena merupakan bekas peninggalan penjajahan Belanda. Dimana Benda Cagar Budaya tidak boleh ditambah atau dikurangi keasliannya. Namun bila bangunan gardu tersebut dibiarkan tidak terurus pasti akan mengalami kerusakan dan kehilangan nilai sejarahnya bila tidak diperbaiki. Pemerintah Kota Yogyakarta akhirnya melakukan renovasi dan membuatkan taman dan pagar disekelilingnya.

 

Alasan dilakukan mural oleh Kelompok seniman “Apotek Komik” di salah satu bekas peninggalan sejarah adalah membuat sentuhan modern pada bangunan tua tanpa mengubah bentuk walaupun harus mengorbankan warna aslinya untuk dilapisi oleh lukisan mural. Selain itu agar orang-orang yang dulunya tidak tertarik dan tidak tahu menahu dengan keberadaan bangunan bersejah menjadi tertarik dan mengunjungi bangunan tua yang berhiaskan mural tersebut (sumber:elantowow.wordpress.com). Selain itu merupakan ungkapan kecintaan dan perhatian para pecinta seni kepada bangunan tua bersejarah yang kurang mendapat perhatian publik dan terancam musnah oleh perkembangan zaman.

Ventilasi Udara Gardu Listrik Peninggalan Belanda Di Kotabaru Yogyakarta

Saya merasa tujuan dan alasan mereka baik untuk melindungi keberadaan bekas gardu listrik bekas peninggalan Belanda ini walaupun dengan cara yang berbeda. Saya merasa cemas ketika bangunan tua di Jogja semakin berkurang akibat arus modernisasi khususnya di daerah Kotabaru, dalam Kraton, dan kawasan Kotagede. Harapan saya semoga keberadaan bangunan tua yang tersebar di kota Yogyakarta dan sekitarnya tetap dipertahankan supaya generasi penerus mengetahui sejarah yang terjadi di kota Yogyakarta.

Ada 4 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Nahdhi:

    Oh, ini toh yang dulu namanya ANIEM mas? Kalau di Magelang sekarang udah jadi Kantor Pos, yang masih diberi nama ANIEM tinggal sebuah tugu di pojokan alun-alun.

  2. jarwadi:

    oh, ini gardu listrik ya mas, saya kira apa, aku tidak pernah mengira kalau bangunan itu merupakan gardu listrik, hehe

  3. Goiq:

    Gardunya masih berfungsi ga No, atau cuma tinggal bangunannya aja ?

Kirim pendapat