Asal-Usul Upacara Bekakak

Asal-Usul Upacara Bekakak
4.3 (85%) 4 votes

Dikisahkan 250 tahun yang lalu ada sepasang suami-istri yang merupakan abdi dhalem setia Kraton pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) bernama Kyai Wirasuta dan Nyi Wirasuta (jawa:wirosuto). Sultan Hamengku Buwono I bermaksud mendirikan sebuah istana (Kraton) sebagai kediaman kerajaannya. Sembari menunggu pembangunan selesai, Sultan memilih beristirahat sejenak di sebuah pasanggrahan yang terletak di Desa Ambarketawang yang pada waktu itu sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian dengan menambang batu gamping.

Ki Wirosuta dan Nyai Wirosuta bersama-sama dengan penduduk setempat menggali batu kapur yang digunakan untuk membangun Keraton Yogyakarta. Malapetaka tak diduga terjadi, pada Jumat Kliwon bulan Sapar, Gunung Gamping runtuh dan menewaskan kedua abdi dhalem tersebut. Anehnya, jasad mereka tidak ditemukan hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Ambarketawang, Gamping diresahkan dengan musibah serupa yang terjadi tiap bulan Sapar. Masyarakat setempat meyakini arwah Kyai dan Nyi Wirasuta masih menempati Gunung Gamping.

Melihat banyaknya korban yang berjatuhan, termasuk abdi dalem kesayangannya, Sultan HB I pun bertapa di kawasan Gunung Gamping untuk mencari petunjuk supaya masalah itu dapat teratasi. Dalam tapanya, Sultan mendapat wisik dari Setan Bekasakan penunggu Gunung Gamping. Berhubung warga selalu menggali kapur di tempat itu, sebagai gantinya setan-setan penunggu meminta sepasang pengantin untuk dikorbankan di tempat itu. Jika hal tersebut tidak dilaksanakan maka para penggali kuburlah yang akan jadi tumbalnya.

Sultan pun mengiyakan permintaan para penunggu Gunung Gamping. Namun, beliau melakukannya dengan sebuah tipu muslihat. Pengantin yang dikorbankan bukanlah pengantin sungguhan, melainkan boneka berbentuk pasangan pengantin bekakak yang terbuat dari tepung ketan dan sirup gula merah. Pasangan pengantin bekakak tersebut kemudian dikorbankan di Gunung Gamping. Ternyata tipuan itu berhasil. Sejak saat itu tradisi pengorbanan pengantin bekakak menjadi ritual yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Desa Ambarketawang.

Meskipun saat ini penduduk Gamping tidak lagi berprofesi sebagai penggali batu kapur, ritual ini masih tetap dilaksanakan. Sebagian besar warga juga masih meyakini bahwa penyembelihan sepasang pengantin bekakak akan membuat mereka terhindar dari gangguan setan Bekasakan. Ritual adat Saparan Bekakak ini selalu digelar pada hari Jumat, antara tanggal 10 hingga 20 dalam bulan Sapar.

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. marsudiyanto:

    Kalau asal usul upacara bendera gimana ya?

  2. soewoeng:

    ternyata pangantan tha?

Kirim pendapat