Asal Usul Sungai Gajah Wong Yogyakarta

Asal Usul Sungai Gajah Wong Yogyakarta
3 (60%) 19 votes

Asal Usul Sungai Gajah Wong (Gajahwong) merupakan legenda atau mitos yang berkembang di tepi aliran Sungai Gajah Wong Yogyakarta mengenai terbentuknya aliran sungai tersebut. Kali atau Sungai Gajah Wong merupakan salah satu aliran sungai yang mengalir di kota Yogyakarta yang melewati kota kecamatan Kotagede dengan panjang sekitar 20 kilometer. Dikisahkan bahwa Sungai Gajah Wong terbentuk pada zaman kerajaan Mataram Islam yang diperintah oleh Sultan Agung.

Pada abad ke 17, sungai ini merupakan sungai kecil atau lebih tepatnya disebut selokan. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai kalen dalam bahasa Jawa dan kebetulan airnyapun hanya gemercik mengalir sedikit sekali. Suatu hari Sultan Agung memanggil salah seorang Pawang Gajah.

“Pawang, cobalah kau mandikan gajah itu hingga bersih”.

“Oh…. hamba akan kerjakan kehendak Gusti Sultan,” jawab Pawang.

“Di kali sana, yang airnya bening sekali,” sabda Sultan lagi.

“Demi Sultan, akan segera kukerjakan perintah ini”.

Tetapi mana mungkin, kali ini sangat sedikit airnya. Tak dapat untuk memandikan gajah yang besar itu. Pawang termenung sejenak sebelum turun ke kali kecil itu. Tetapi apalah daya, tak mungkin Pawang ini menolak kehendak Gusti Sultan. Dan dia segera turun ke kali bersama gajahnya. Air kali itu hanya dapat membasahi kuku gajah dan tumit Pawang. Dengan segala cara Pawang tak berhasil memandikan gajahnya, karena air yang gemercik tak cukup untuk mengguyur seluruh tubuh gajah. Pawang mulai panik. Mulai risau. Takut akan mendapat amarah dari Sultan. Dia segera memutuskan untuk pulang, untuk menghadap Gusti Sultan. Dia berharap, kiranya Gusti Sultan tak akan marah.

“Ampun beribu ampun Gusti Sultan, hamba telah bardosa tidak dapat menunaikan perintah Gusti Sultan. Hukumlah hamba ini atas kesalahan hamba. Hamba tak dapat memandikan gajah dengan bersih. Karena air kali cuma sedikit sekali. Dan rasanya tidak mungkin hamba dapat memandikannya,” hatur Pawang dengan gemetar.

“Tidak, aku tidak akan menghukummu Pawang, sebelum kau mencoba dengan sebaik-baiknya. Cobalah sekali lagi kau bawa ke kali, gajah yang kau mandikan tadi. Kalau dengan sabar, aku yakin, pasti kau akan dapat melakukannya dengan baik. Pergilah sekarang juga.”

Tanpa membantah Pawang segera pergi ke kali dengan gajahnya. Melihat air kali yang semakin sedikit itu, Pawang semakin gelisah. Kemudian dia bersama gajahnya menuruni kali.

Dia memutar otaknya, bagaimana cara yang paling baik agar gajah dapat dimandikan.

“O, sungai membuatku celaka ! Airnya tak cukup untuk mengguyurku. Apalagi untuk memandikan gajah,” katanya sendirian sambil mengusap tubuh gajah dengan air itu.

“Hentikan saja airmu ini wahai kali, daripada engkau membuatku celaka. Keringlah kau air, daripada menambah sedihku. Habislah kau air !” kata Pawang dengan geram.

Tiba-tiba saja air kali kecil itu mendadak banjir. Banjir besar sampai melanda daerah sekeliling kali itu. Pawang tidak dapat menguasai diri. Air kali itu menghanyutkan Pawang dan gajahnya. Pada akhirnya Sultan Agung pun mendengar berita tentang Banjir itu. Gusti Sultan sangat terkejut mendengarnya. Dan untuk kenang-kenangan, kali itu disebut kali ‘Gajah Wong”, karena kali telah menghanyutkan gajah dan orang (Pawang). Hingga saat ini di desa Wonokromo Kecamatan Pleret masih terdapat bukit kecil, yang letaknya di pinggir kali Gajah Wong, yang dimitoskan warga, bahwa bukit itu adalah makam seorang Pawang dan gajahnya. (text: *dari berbagai sumber*)

Kirim pendapat