Asal Usul Bulus Jimbung Klaten

3.5
02

Asal Usul Bulus Jimbung  merupakan legenda atau mitos yang berkembang di Sendang Bulus Jimbung di desa Jimbung, kecamatan Kalikotes, kabupaten Klaten. Sendang Bulus Jimbung merupakan salah satu sumber mata air di daerah Kalikotes, Klaten. Dikisahkan pada jaman dahulu di daerah Jepara terdapat kerajaan kecil yang bernama kerajaan Wiroto. Di kerajaan tersebut mempunyai seorang Ratu yang bernama Ratu Worosingo. Ratu tersebut terkenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Selain adil dan bijaksana, Ratu Worosingo juga terkenal sebagai Ratu yang kejam dalam menerapkan undang-undang dan menghukum bagi yang melanggar. Bahkan, warga tidak berani melanggar aturan sang Ratu sedikit pun. Walaupun demikian, kerajaan tersebut sangat aman dan tentram hingga tidak ada pencuri maupun perampok.

Di daerah lain juga terdapat kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Kalingga. Di kerajaan Kalingga terdapat putri yang bernama putri Wahdi. Suatu ketika putri Wahdi menginginkan kerajaannya mampu menjadi kerajaan yang terkenal seperti kerajaan Wiroto. Bahkan, kerajaan Kalingga sering meniru kerajaan Wiroto. Selain itu, putri Wahdi sangat kagum dengan sosok pria tampan dan gagah dari putra Ratu Worosingo. Pria tersebut bernama Raden Patah dan terkenal dengan nama panggilan Raden Patohwan.

Pada suatu ketika putri Wahdi mengadu kepada raja Kalingga untuk menguji peratuan yang sangat taat di kerajaan Wiroto. Raja Kalingga pun mengutus Patih Tambak Boyo untuk menaruh peti emas di daerah lintasan warga kerajaan Wiroto, namun, warga sudah mengetahui bahwa isi peti tersebut yaitu emas. Kemudian, Raden Patohwan melintas di daerah yang terdapat peti emas tersebut. Tidak sengaja kuda yang ditumpangi Raden Patohwan mengenai peti emas tersebut hingga bergeser posisi. Pada saat itu pula Ratu Worosingo mengetahui hal tersebut dan Raden Patohwan pun dipanggil untuk menghadap sang Ratu.

Baca Juga  Kampoeng Rawa, Wisata Rekreasi Keluarga Di Ambarawa

Raden Patohwan dihukum dengan dipotong kaki kanannya. Semenjak kaki Raden Patohwan terpotong, ia menjadi lebih rajin beribadah. Pada suatu ketika ia berdoa dan meminta petunjuk agar diberikan kesembuhan untuk kakinya. Ia mendapatkan petunjuk agar melakukan semedi dan kungkum di Gunung Butak. Dalam perjalanan menuju Gunung Butak, Raden Patah mengalami beberapa masalah. Hingga pada saatnya Raden Patohwan bersemedi dan kungkum di perairan Gunung Butak dan tak lama kemudian sembuhlah kaki Raden Patohwan.

Raden Patohwan meninggalkan kerajaan Wiroto sangat lama dan memilih menetap di Gunung Butak. Hingga ia mendirikan pemukiman yang makmur, dan ia dijuluki Raja Jimbung. Berita tersebut menyebar hingga beberapa daerah termasuk kerajaan Wiroto dan kerajaan Kalingga. Putri Wahdi pun sangat bangga dengan perkembangan Raden Patohwan hingga muncul perasaan sangat mencintainya. Ia pun menyusul Raden Patohwan menuju daerah Jimbung untuk menemui Raden Patohwan. Ia dikawal dengan Ki Poleng dan Ki Remeng. Hingga sesampainya di tempat Raja Patohwan, Putri Wahdi menyatakan cintanya. Namun, Raja Patohwan menolak cintanya dan  mengetahui bahwa putri Wahdilah yang telah membuat ia sengsara. Putri Wahdi menyembunyikan rahasianya karena telah ditolak cintanya. Dengan rasa malu tidak ingin diketahui oleh siapapun, ia memilih untuk bunuh diri. Putri Wahdi menggantungkan diri di suatu tempat dan diketahui oleh Ki Poleng dan Ki Remeng. Kedua abdinya pun marah dengan sikap raden Patohwan dan menyerangnya. Namun, Ki Poleng dan Ki Remeng kalah dalam pertempuran. Raden Patohwan memaafkan dan memaklumi sikap Ki Poleng dan Ki Remeng. Bukannya Ki Poleng dan Ki Remeng mengucapkan terima kasih, malah kedua abdi putri Wahdi tersebut semakin menghina Raden Patohwan. Sang Raja pun marah dan mengutuk Ki Poleng dan Ki Remeng menjadi Bulus, karena menganggap sikap yang tidak baik mereka seperti Bulus. Tidak sampai disitu, Raden Patohwan pun menancapkan tongkat disuatu tanah dan mencabutnya hingga mampu mengeluarkan air. Air tersebutlah digunakan Ki Poleng dan Ki Remeng untuk bertempat tinggal. Raden Patohwan juga berpesan bahwa suatu ketika akan banyak orang yang mengunjungi bulus tersebut untuk memberi makan. (text: *dari berbagai sumber*)

Kirim pendapat