Ancol Bligo, Antara Selokan Mataram dan Sungai Progo

Seperti yang kita tahu, Selokan Mataram melintasi beberapa kawasan penting di kota Yogyakarta dan sekitarnya. Namun apakah kita tahu sumber air yang mengalir melewati Selokan Mataram itu berada dimana. Usut punya usut ternyata sumber aliran air Selokan Mataram berasal dari Sungai Progo dengan pintu air berlokasi di daerah Ancol. Sebelumnya nama Ancol lebih sering kita dengar sebagai kawasan wisata terkenal di ibukota Jakarta.

Ancol Bligo atau dulu dikenal dengan nama Bendungan Karangtalun terletak di Desa Karangtalun, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang yang berbatasan dengan kabupaten Sleman dan kabupaten Kulon Progo. Nama Bligo sebetulnya merupakan desa disebelah selatan dari Desa Karangtalun yang terdapat bendungan tersebut.

DAS Progo di Ancol

Kami mencoba menelusurinya melalui jalan disepanjang tepian Selokan Mataram. Perjalanan ke arah barat menyusuri selokan Mataram melewati kecamatan Mlati, kecamatan Seyegan, dan kemudian tiba di kawasan Ancol. Sebelumnya kami sempat tersesat karena beberapa papan petunjuk jalan telah rusak dan menyesatkan. Tampak pemandangan hulu sungai Progo yang cukup luas dan terlihat mirip daerah aliran sungai Progo yang berada di dekat muara.

Kondisinya lingkungan kawasan Ancol yang dikenal dengan nama Ancol Bligo ini terlihat kurang terawat. Saat kami menuju ke tepi jembatan sungai Progo kami melewati jalan beraspal yang rusak. Saat kami amati ternyata jalanan di sekitar kawasan ini hampir seluruhnya rusak. Beberapa fasilitas umum seperti kamar mandi umum dan gasebo untuk beristirahat juga tidak dapat digunakan lagi karena sebagian telah roboh dan rusak parah. Menurut informasi beberapa tahun yang lalu kawasan ini sempat akan dikembangkan menjadi kawasan wisata namun terhenti karena beberapa kendala dan masalah.

Sejarah keberadaan Ancol Bligo dimulai pada masa penjajahan Jepang di Indonesia tahun 1942-1945. Pembangunan saluran irigasi yang menghubungkan sungai Progo dengan sungai Opak merupakan hasil kesepakatan Pemerintah Jepang dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selalu Raja Kasultanan Yogyakarta. Proyek irigasi tersebut dikenal dengan nama “Kanal Yoshiro” atau “Selokan Mataram”. Sebagian besar warga Yogyakarta bekerja untuk pembuatan saluran irigasi tersebut sehingga mereka tidak dikirim ke luar Pulau Jawa sebagai tenaga Romusha. Proyek irigasi ini diperuntukkan bagi pengairan sawah-sawah di daerah Yogyakarta, di mana manfaatnya dapat dirasakan sampai sekarang.

Pintu Air Selokan Mataram di Ancol

Di sisi sebelah timur Sungai Progo atau di dekat bendungan yang rusak terdapat pintu air yang mengalirkan sebagian kecil air dari Sungai Progo menuju ke sebuah selokan. Kami menduga itu merupakan pintu air yang mengalirkan air melewati selokan merupakan jaringan Induk Selokan Mataram. Karena dalam penelusuran Selokan Mataram menuju ke kawasan Ancol, Selokan Mataram sempat menghilang melewati saluran bawah tanah sesaat sebelum kami tiba di kawasan Ancol.

Baca Juga  Blue Lagoon Sleman, Dulu Dikenal Pemandian Tirta Budi

Debit air yang dialirkan melalui jaringan Induk Selokan Mataram ini cukup deras meskipun tidak terlalu berpengaruh pada Sungai Progo karena hanya mengambil debit air sepersekianpuluh saja. Kami pun turun ke bawah untuk melihat pintu air dari dekat dan menelusuri arah selokan utama tersebut. Kondisi pintu air masih cukup terawat dan terdapat beberapa turbin untuk menggerakan air dari sungai menuju ke jaringan induk selokan.

Jaringan Induk Selokan Mataram panjangnya 3 km, membentang dari Bendungan Karangtalun (yang dikenal dengan sebutan Ancol) di Karangtalun Ngluwar Magelang Jateng sampai gejlig (pintu sadap) Selokan Mataram II (Van Der Wijck) di sisi timur Desa Bligo Ngluwar Magelang. Tempat ini ditetapkan sebagai Titik 0 Selokan Mataram I. Di tempat ini sekarang berdiri bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air mini.

Pintu Air di Ancol

ketika menelusuri Jaringan Induk Selokan Mataram dekat pintu air ancol Bligo ini terdapat sebuah persimpangan pintu air kecil untuk membuang kembali kelebihan jumlah air yang melewati saluran air utama ini. Selanjutnya terdapat percabangan selokan dimana selokan yang ke arah timur menuju ke Selokan Mataram dan selokan ke arah selatan menuju ke selokan Van Der Wijck. Selokan yang mengarah ke selokan Mataram menghilang melalui saluran bawah tanah dan muncul permukaan beberapa ratus meter di dekat area persawahan.

Kondisi saluran atau jaringan induk Selokan Mataram ini sudah mengalami beberapa renovasi dan saat ini masih berfungsi secara normal. Meskipun sisa-sisa bangunan selokan yang dibangun pertama kali pada saat penjajahan Jepang sudah tidak tampak, tempat ini cukup menarik dikunjungi sebagai kawasan edukasi dan sejarah. Cukup menarik melihat perkembangan renovasi dan perbaikan saluran air buatan tertua di Yogyakarta hingga menjadi saluran air yang modern dan terpadu. Meskipun kondisi sekitar pintu air belum layak disebut kawasan wisata karena tidak ada fasilitas pendukung dan banyak sampah-sampah berserakan. Entah bagaimana kelanjutan kawasan Ancol Bligo ini, apakah tetap dibiarkan seperti ini atau serius dibangun menjadi kawasan wisata alternatif. (text/foto: annosmile)

Kirim pendapat