Sejenak di Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan

Nama Suaka Margasatwa memang erat kaitannya dengan kawasan untuk melindung hewan asli yang terdapat di kawasan tersebut. Di Gunungkidul sendiri ternyata ada beberapa kawasan suaka margasatwa salah satunya bernama Suaka Margasatwa Paliyan. Suaka Margasatwa Paliyan ini tergolong baru karena baru dibuat beberapa tahun yang lalu untuk menyelamatkan kawasan hutan dari perambah hutan dan perluasan area pertanian.

Suaka Margasatwa (SM) Paliyan terletak di sebagian besar wilayah Kecamatan Paliyan dan sisanya berada di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul dengan luas total 434,60 hektar. Topografi kawasan berupa perbukitan karst dengan lapisan tanah yang tipis, memiliki kelerengan diatas 40 % serta pada ketinggian antar 100 – 300 m dpl. Suaka margasatwa Paliyan merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi menjadi hutan lindung sejak tahun 2000.

Dalam perjalanan menuju ke salah satu pantai di kabupaten Gunungkidul melewati jalur alternatif, kami tidak sengaja melewati jalan yang membelah kawasan Suaka Margasatwa Paliyan. Jalur ini merupakan jalur Playen-Paliyan yang tembus jalan raya baru penghubung Pantai Baron dengan Pantai Parangtritis. Dari kejauhan terlihat pemandangan jalan lurus memanjang yang disamping kanan kiri lahan pertanian dan ujung terdapat kawasan hutan yang didominasi tanaman pohon jati.

Area lahan yang mengelilingi kawasan Suaka Margasatwa Paliyan adalah ladang pertanian yang dibuat oleh warga sekitar dari hasil pembukaan hutan. Sebelum dikembangkan sebagai kawasan suaka margasatwa, hampir sebagian besar lahan kawasan ini digunakan oleh masyarakat sekitar untuk ladang bercocok tanam. Setelah dikembangkan menjadi kawasan hutan lindung dan suaka margasatwa, sedikit demi sedikit lahan pertanian dikembalikan kembali fungsinya sebagai kawasan hutan. namun sepertinya, tidak semua lahan pertanian yang ada diubah menjadi kawasan hutan karena akan menghilangkan matapencaharian para petani.

Suaka Margasatwa Paliyan dibentuk dari hasil rehabilitasi lahan kritis yang terjadi di kawasan pegunungan karst sejak lima tahun yang lalu. Saat ini, kawasan ini telah menjadi hijau dan dihuni oleh spesies kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan sekitar 40 macam jenis burung langka. Fungsi Suaka Margasatwa Paliyan yang utama adalah menanggulangi dan mencegah kera ekor panjang merusak ladang penduduk serta mengembalikan fungsi hutan.

Kawasan hutan di Suaka Margasatwa tergolong kawasan hutan kritis karena tinggal sedikit sekali tumbuhan khas pegunungan karst yang masih hidup dan tumbuh. Akibat terjadi pembukaan hutan untuk ladang kemudian direhabilitasi dengan penanaman tanaman baru untuk menghijaukan kembali kawasan hutan. Selain itu sebagian kawasan juga digunakan sebagai hutan produksi sehingga jenis pohon selalu berganti ketika dilakukan penanaman setelah pemanenan pohon. Saat ini kawasan ini sedang digalakkan penanaman pohon jati karena jenis tanaman ini lebih cocok dikembangkan di tanah kering dan berjenis tanah kapur.

Ketika kami melewati kawasan ini, kami tidak melihat keberadaan fauna yang melintas. Hewan yang dilindungi di kawasan Suaka Margasatwa Paliyan seperti kera ekor panjang dan kijang yang dilepas ke hutan ini sangat jarang mendekati tepi hutan atau tepi jalan, hanya pada musim-musim tertentu mereka bermigrasi melewati jalan tersebut untuk mencari makan. Pada kondisi biasa, sepertinya hewan-hewan di kawasan suaka margasatwa ini menjauhi jalan yang membelah kawasan ini karena terganggu dengan bunyi kendaraan yang melintas. Di tepi area hutan terdapat pos jaga kawasan suakamargasatwa yang juga berfungsi sebagai kantor.

Topografi Suaka Margasatwa Paliyan mengacu pada hasil penelitian Van Bemmelen pada tahun 1970 dengan daerah Suaka Margasatwa Paliyan tercakup dalam kategori Gunung Sewu (Pegunungan Seribu) di selatan Pula Jawa.

Keberadaan berbagai jenis burung dan serangga juga banyak terdapat di Suaka Margasatwa Paliyan. Tempat ini menjadi rumah baru bagi beberapa jenis burung yang bermigrasi dari tempat asalnya. Di area kawasan Suaka Margasatwa Paliyan diberlakukan larangan untuk berburu burung dengan senapan angin. Selain itu serangga-serangga khas daerah kapur juga banyak ditemukan di tempat ini. Belalang, walang sangit, dan semut merupakan spesies yang sering dijumpa di kawasan ini. Tidak heran bila pada musim belalang, banyak pencari belalang di kawasan ini untuk dikumpulkan dan dijual sebagai oleh-oleh khas Gunungkidul.

Di dekat gerbang area kawasan Suaka Margasatwa Paliyan, terdapat menara pandang atau gardu pandang yang fungsinya sebagai pengamatan satwa di dalam kawasan. Menara Pandang atau Gardu Pandang Paliyan ini menjadi landmark kawasan ini. Ketika kami mendekatinya, kondisinya sudah agak rusak dibagian atap dan sepertinya jarang digunakan sehingga kami tidak jadi menaikinya. Untuk sementara kawasan ini belum dibuka untuk wisata karena masih dalam tahap rehabilitasi kawasan. Kedepannya kawasan ini dapat menjadi obyek wisata alternatif yang menarik ketika berkunjung ke Kabupaten Gunungkidul. (text/foto: annosmile)

-----------
Bookmark and Share

Ada 13 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. jarwadi:

    kenapa ngga naik ke bukit sebelah barat/selatan itu mas, keren lhooooo. 

    jarwadi.wordpress.com/2011/12/28/senja-di-kebun-jagung/

    dan jarwadi.wordpress.com/2011/05/05/bukit-sodong-pesona-paliyan/

  2. Tukang Nggunem:

    lha endi kok ra ono poto kewane?

  3. Jidat:

    logo baru nih, dan saya pengen bermain kesana. kapan saya diajak kak?

  4. suryaden:

    wah keno askimet

  5. Ares:

    Pernah jelajah ke mana saja, team touring?
    Berniat membuat buku perjalanan tidak?

    Silakan email ke saya kalau berminat.

    Thx

  6. airyz:

    bener ki mas Tukang Nggunem, poto kewane ora eneng :lol:

  7. mawi wijna:

    yang paling saya ingat, sehabis tanjakan Paliyan yang jahanam setengah mati itu ada rumah makan chinese food di sisi kiri jalan, namanya RM Lestari.

  8. soewoeng:

    ada suaka marga satwanya ya? baru tau

  9. Jauhari:

    Aku urung tau mrene :D

  10. kombor:

    Aku ya rung tahu ndhana.

  11. @SenggOL:

    tengok ke belakang.. untunglah aku tak berekor panjang..

  12. Telaga Naberan | TeamTouring:

    […] jalan penghubung Paliyan dengan Panggang setelah melewati Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan, terdapat sebuah telaga yang lokasinya berada di tepi jalan. Telaga yang bernama telaga Naberan ini […]

  13. Pantai Ngobaran, Pantai yang Sarat Sejarah dan Mistis | TeamTouring:

    […] sehingga setelah melewati Hutan Pendidikan Wanagama kami berbelok ke kanan menyusuri jalanan menuju Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan. Perjalanan dilanjutkan hingga menembus jalur baru penghubung Pantai Baron dengan Pantai […]

Kirim pendapat

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan TeamTouring. Redaksi berhak menyunting atau menghapus kata-kata yang berbau narsisme, promosi, spam, pelecehan, intimidasi dan kebencian terhadap suatu golongan.