Pura Taman Ayun, Peninggalan Sejarah Kerajaan Mengwi

Menelusuri jejak sejarah kerajaan di Indonesia sepertinya cukup menarik ketika kita berwisata ke pulau dewata. Salah satunya sebuah obyek wisata yang bernama Pura Taman Ayun yang terletak di desa Mengwi, kecamatan Mengwi, kabupaten Badung. Pura Taman Ayun merupakan peninggalan Kerajaan Mengwi pada abad ke 16.

Pura Taman Ayun merupakan pura Ibu (Paibon) bagi Kerajaan Mengwi, di Bali. Dikelilingi kolam ikan sehingga saat berada di tempat ini seolah-olah berada di tengah danau. Pura Taman Ayun dibangun pada tahun 1634 oleh raja pertama Kerajaan Mengwi, Ida Tjokerda Sakti Blambangan dengan arsitek yang berasal dari Cina. Pura Taman Ayun dibagi menjadi tiga halaman atau area yaitu bagian yang paling suci disebut Utama Mandala (jeroan), Madia Mandala (jaba tengah), dan Nista Mandala (jaba).

Lokasi Pura Taman Ayun mudah dijangkau dan banyak papan petunjuk jalan menuju ke obyek wisata ini. Dengan perjalanan dari Denpasar sekitar 45 menit sudah sampai di lokasi Pura Taman Ayun. Ketika tiba di obyek wisata Pura Taman Ayun, suasana cukup ramai oleh wisatawan yang di dominasi wisatawan mancanegara dan sedikit wisatawan domestik.

Berjalan melewati sebuah jembatan yang membelah kolam yang mengelilingi pura kemudian disambut sebuah halaman yang cukup lebar membuat kesan tersendiri dan membayangkan kemegahan Pura Taman Ayun pada zaman dahulu kala. Halaman ini merupakan halaman pertama yang disebut “Jaba”.

Pura Taman Ayun sempat hancur karena Gempa Bumi hebat yang terjadi pada 1917. Perbaikan secara besar-besaran dilaksanakan tahun 1937, dan Pada tahun 1949 dilaksanakan perbaikan terhadap kori agung, gapura bentar, dan pembuatan wantilan yang besar.

Begitu masuk area pertama ada tugu kecil untuk menjaga pintu masuk dan di sebelah kanannya terdapat bangunan luas (wantilan) dimana sering diadakan sabungan ayam saat ada upacara. Di halaman ini, juga terdapat tugu air mancur yang mengarah ke 9 arah mata angin. Sambil menuju ke halaman berikutnya, di sebelah kanan jalan terdapat sebuah komplek pura kecil dengan nama Pura Luhuring Purnama.

Di halaman selanjutnya merupakan area Madia Mandala setelah melewati gerbang. posisinya lebih tinggi dari halaman pertama untuk masuk ke halaman ini, pengunjung harus melewati pintu gerbang kedua. Begitu masuk, pandangan akan tertuju pada sebuah bangunan aling-aling Bale Pengubengan yang dihiasi dengan relief menggambarkan Dewata Nawa Sanga, (9 Dewa penjaga arah mata angin). Di sebelah kanan gerbang, terdapat loket penarikan donasi masuk untuk wisatawan yang berkunjung ke Pura Taman Ayun.

Di sebelah timur halaman ini ada satu pura kecil disebut Pura Dalem Bekak, sedangkan di pojok sebelah barat terdapat sebuah Balai Kulkul menjulang tinggi. Gerbang Kori Agung atau pintu tengah menjadi salah satu spot favorit untuk mengabadikan gambar dan berfoto oleh para wisatawan. Gerbang Kori Agung atau Pintu Gelung ini ditutup untuk wisatawan dan hanya dibuka saat upacara. Pintu samping yang terletak di kiri dan kanan digunakan lalu lintas ke dalam pura.

Wisatawan yang berkunjung ke Pura Taman Ayun hanya diperbolehkan berjalan mengelilingi bagian luar tembok area Utama Mandala (jeroan) yang merupakan bagian utama pura. Namun saat mengelilingi tembok area Utama Mandala (jeroan), kita masih dapat melihat isi halaman dalam pura karena tembok hanya setinggi satu meter. Terlihat aktivitas di dalam pura karena ada sekelompok orang yang akan melaksanakan sembahyang di dalam pura.

Dibagian belakang disediakan area yang digunakan untuk foto berlatar bangunan-bangunan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Pura Taman Ayun. Selain itu terdapat taman di belakang area pura yang cukup luas dan disediakan kursi untuk tempat bersantai dan beristirahat. Kemudian berjalan mengelilingi sisi yang satunya untuk kembali menuju ke area Kori Agung dan meninggalkan kawasan ini. Bila ingin melihat Upacara Piodalan di Pura Taman Ayun, diselenggarakan setiap 210 hari sekali (6 bulan Bali) pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia.

Bangunan Pura Taman Ayun sekilas mirip dengan pura-pura besar yang banyak di temukan di Pulau Bali, namun uniknya bangunan pura ini dikelilingi oleh kolam yang berukuran besar. Walaupun sebagian besar bangunan pura merupakan bangunan baru akibat bencana gempa, sisa-sisa sejarah masih tampak di Pura Taman Ayun dengan usaha pelestarian pura dan tradisi yang ada di kawasan tersebut. (text/foto: annosmile)

== Tiket Masuk/Donasi: Rp 10.000,-

-----------
Bookmark and Share

Ada 2 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Antyo:

    Dolan waé! Kok bisa to? :)

  2. Rusa:

    Bali beragam banget tempat yang luar biasanya yaaa. Pengen ke Bali lagiii

Kirim pendapat