Patung Sura dan Buaya (Surabaya)

Patung Sura dan Buaya merupakan salah satu landmark kota Surabaya yang cukup terkenal hingga saat ini. Patung berbentuk hewan atau binatang ini mengambil kisah pertarungan antara ikan hiu dan buaya. Keberadaan Patung sura dan Buaya ini pada mulanya hanya terdapat di depan Kebun Binatang Surabaya kemudian dibangun dengan bentuk serupa di beberapa titik kota Surabaya.

Patung Sura (ikan hiu) dan Buaya yang terletak di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan ikon kota Surabaya. Kedua hewan tersebut menjadi inspirasi nama Surabaya.

Patung Sura dan Buaya

Sejarah keberadaan Patung Sura dan Buaya pada mulanya hanya dibangun sebagai penghias gerbang masuk Kebun Binatang Surabaya. Namun karena gesekan dari cerita masyarakat dan perkembangan zaman akhirnya patung tersebut menjadi salah satu ikon atau landmark kota Surabaya. Maka tidak heran bahwa banyak syuting film disekitar tempat ini untuk menunjukkan kesan bahwa syuting tersebut benar-benar dilakukan di kota Surabaya.

Bila diamati dengan teliti, bentuk patung Sura dan Buaya terlihat cukup sederhana tanpa terlihat ornamen-ornamen yang mengelilinginya. Tidak terlihat sebagai buah karya seorang seniman yang memiliki nilai seni dan penuh dengan makna. Sepertinya dibangun oleh para pekerja bangunan saat memperbaiki dan mempercantik kota Surabaya. Patung sura dan Buaya dibangun dengan bahan dasar berupa semen, pasir, dan batu bata. Tidak ada yang istimewa dari proses pengerjaan ataupun bahan pembuat patung. Namun demikian, patung suro dan boyo ini menjadi salah satu tujuan utama untuk berfoto ketika berkunjung ke kota Surabaya. (text/foto: annosmile)

CERITA ASAL USUL SURABAYA

Dahulu kala di lautan luas tepatnya di Laut Jawa hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu (sura) dan seekor buaya (boyo). Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi saat memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan.

“Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu.” kata ikan hiu Sura. “Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?” tanya Buaya.
“Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!”
“Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!” kata Buaya sambil mengangguk.

Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya.

” Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?” tanya si Buaya.
“Eits… Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?” Kata Sura mengelak.
“Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!” jawab Buaya ngotot.
“Ohh… Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu air” jawab Hiu Sura.
“Hmm… Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?” hentak Buaya.
“Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!” elak Sura.
“Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!” jawab Buaya mulai marah.
“Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!” serang Sura tak mau mengalah.

Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya.

Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan  untuk memberi nama “Surabaya” pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.

Hikmah yang dapat diambil dari Kisah Sura dan Buaya bahwa peperangan dan perkelahian tidaklah bisa menyelesaikan masalah dan justru akan menimbulkan masalah baru. Kita perlu bersikap arif dan bijaksana dalam menyelesaikan segala problematika kehidupan.

Bookmark and Share

Kirim pendapat