Museum Linggarjati

This item was filled under [ Museum ]

Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang dilaksanakan pada tanggal 10-13 November 1946. Menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.

Linggarjati, merupakan bagian yang sangat penting dari perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, sehingga sampai sekarang bisa menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Diantara isi pokok persetujuan Linggarjati adalah : (1) Belanda mengakui secara De Facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura; (2) Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia;(3) Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

Peristiwa yang berlangsung 59 tahun silam tersebut, masih dapat kita saksikan melalui peninggalan-peninggalan yang ada di Gedung Linggarjati, sekaligus dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya oleh Pemerintah sesuai dengan UU.No.5 tahun 1992. Desa Linggarjati sendiri berada di wilayah Blok Wage, Dusun Tiga, Kampung Cipaku, kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Desa ini terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan air laut, dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Desa Linggasana, sebelah timur berbatasan dengan Desa Linggamekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa Lingga Indah dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Untuk mencapai lokasi ini tidaklah terlalu sulit, karena akses jalan aspal yang mulus, sehingga mudah sekali dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari arah Cirebon kurang lebih 25 km sedangkan dari arah Kuningan kurang lebih 17 km.

Hawa sejuk dan damai akan kita rasakan ketika mulai memasuki pelataran Gedung Linggarjati. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Luas komplek Linggarjati kurang lebih 2,4 hektare, dimana sepertiga dari luas tersebut merupakan bangunan gedung yang dipergunakan untuk perundingan. Bangunan ini sendiri tadinya dibangun oleh warga negara Belanda, sebagai tempat peristirahatan, yang kemudian dipilih sebagai tempat perundingan dan akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia sebagai salah satu bangunan cagar budaya Pemerintah Indonesia. Walaupun berupa bangunan lama, tapi secara keseluruhan kebersihan gedung ini nampak terjaga sekali. Ada 14 orang yang membantu merawat gedung ini, diantaranya 7 orang merupakan PNS ( Pegawai Negeri Sipil ), dan sisanya adalah pegawai honorer.

 

Bangunan ini terdiri dari beberapa ruang, yaitu ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, kamar mandi dan ruang belakang. Ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan meeting informal. ruang tengah merupakan ruang utama, dimana perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Ternyata posisi kursi yang diduduki oleh para anggota perundingan masih sama seperti dulu waktu perundingan dilangsungkan. diantara para peserta perundingan tersebut adalah, delegasi Indonesia terdiri dari :

1.Sutan Sjahrir

2.Mr.Soesanto Tirtoprodjo

3.Dr.A.K.Gani

4.Mr.Muhammad Roem

delegasi Belanda terdiri dari

1.Prof.Ir. Schermerhorn

2.Mr.Van Poll

3.Dr.F.DeBoer

4.Dr.Van Mook

Dan sebagai notulensi adalah

1.Dr.J.Leimena

2.Dr.Soedarsono

3.Mr.Amir Sjarifuddin

3.Mr.Ali Budiardjo

Kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan merupakan tempat tidur yang dipergunakan oleh delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan.

Latar Sejarah

Sebelum menjadi Museum Perundingan Linggajati bangunan ini berupa gubuk milik Ibu Jasitem (1918), kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda) dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946) dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus “Toord”.

Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel.

Pada tahun 1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antar Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan Linggajati. Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 1948-1950 gedung dijadikan markas Belanda, kemudian pada tahun 1950 – 1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati yang selanjutnya pada tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.

Jadwal Kunjung
Waktu jam kunjung museum
a. Senin –Jumat dari pukul 07.00 – 15.00
b. Sabtu – Minggu dari pukul 08.00 – 17.00

Fasilitas
Bangunan museum berdiri diatas areal seluas 2,4 ha, dengan luas bangunan 800 m2 yang terdiri dari: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn (Inggris), ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan bangunan garasi.


Incoming search terms for the article:

    museum linggarjati pembagian ruangan di museum linggarjati
-----------
Bookmark and Share
Popularity: 9,187 views

Artikel yang Berkaitan

  • Mengenang Jejak Pahlawan di Museum Linggarjati Jalan - jalan mengunjungi museum, apa bagusnya sih? Sempat terlintas di pikiran saya ¬†beberapa saat sebelum masuk museum. Museum Linggarjati yang letaknya […]
  • Jengjeng Gedung Agung Yogyakarta Pada suatu kesempatan akhirnya kami bisa memasuki kawasan Gedung Agung Yogyakarta yang sampai saat ini masih difungsikan menjadi salah satu rumah dinas […]
  • Museum Bank Indonesia Yogyakarta Bekas bangunan Bank Indonesia atau yang sekarang berganti nama menjadi Museum Bank Indonesia di Yogyakarta merupakan salah satu peninggalan bangunan […]
  • Hucap, makanan khas Kuningan Sambil nongkrong di taman kota Kuningan, kami diajak oleh teman saya yang asli Kuningan untuk mencicipi makanan khas Kuningan, hucap. Kami diarahkan pada […]
  • Nongkrong di Taman Kota Kuningan Setelah cukup beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh, kami berkeinginan mengelilingi kota Kuningan. Berangkat sore hari dari rumah teman saya di […]
  • Wisata Sejarah dan Fotografi di Lawang Sewu Berkunjung ke Kota Semarang kurang lengkap kalau belum mengunjungi salah satu bangunan tua yang terletak di kawasan¬†Tugu Muda. Bagunan tua yang merupakan […]
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments on “Museum Linggarjati”

  • hedypermana
    3 June, 2009, 21:15

    sumpah saya sangat bangga sebagai warga asli linggarjati memiliki peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya dan saya berharap semoga peninggalan yang sangat berharga ini bisa terus terjaga sampai anak cucu saya bisa melihat bahwa di kampungnya sendiri ada peninggalan yang sangat berharga yaitu gedung perundingan linggarjati tapi bukan hanya anak cucu saya tapi seluruh indonesia bahkan dunia bahwa di kampung yang kecil ini pernah terjadi sesuatu yang sanagat bersejarah yaitu perundingan yang membuat bangsa indonesia ini merdeka

  • munir ardi wp
    31 August, 2010, 21:27

    memang tempat ini akan selalu dikenang selama masih ada sejarah manusia tempat perundingan yang begitu terkenal, maunya jalan-jalan kesana

Trackbacks

  1. Mengenang Jejak Pahlawan di Museum Linggarjati | TeamTouring

Leave a Comment