Kebo Bule Kyai Slamet yang Dikeramatkan Itu

Bila anda menyambangi daerah Alun-Alun Selatan Kraton Surakarta, anda akan menemukan sesuatu yang unik yakni Kebo Bule. Kebo atau Kerbau Bule ini berwarna pink, berbeda dengan kerbau pada umumnya yang berwarna abu kehitaman. Kebo Bule ini dibiarkan berkeliarakan secara bebas di Alun-Alun Selatan sembari diawasi oleh orang yang merawatnya.

Alun-Alun Selatan Keraton Kasunanan Surakarta terdapat sekawanan hewan berupa kerbau yang dikeramatkan yang disebut Kebo Bule Kyai Slamet. Kerbau ini bukan sembarang kerbau, tidak seperti kerbau pada umumnya warna kulit kerbau ini putih kearah pink/kemerahan mirip dengan Tedong Bonga yang terdapat di Sulawesi Selatan. Konon, kerbau ini telah ada sejak zaman Paku Buwono II.

Saya yang kebetulan sedang berkeliling ke area Kraton Surakarta langsung berangkat menuju ke Alun-Alun Selatan untuk melihat Kebo Bule. Disebelah utara Alun-Alun Kidul terdapat kandang Kebo Bule yang diisi beberapa ekor saja. Kemudian saya mencoba mengelilingi Alun-Alun Selatan untuk melihat sekumpulan Kebo Bule yang dibiarkan berkeliaran bebas merumput dan berjalan kesana kemari.

Di ujung Alun-Alun Selatan juga terdapat kandang Kebo Bule yang dikelilingi pagar. Ternyata kerbau yang dipelihara di dalam pagar merupakan kerbau bule murni keturunan Kyai Slamet. Beberapa ekor Kebo Bule dipelihara di kandang ini dan sedang dimandikan dan diberi makan oleh orang yang merawatnya (pawang). Menurut informasi, Kebo Bule dikandang ini setahun sekali digunakan untuk Kirab Mubeng Beteng dalam rangka Peringatan Malam Satu Suro Kraton Kasunanan Surakarta.

Kebo bule yang dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet sendiri hingga saat ini hanya tersisa enam ekor. Mereka adalah Kiai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Muda. Kerbau ini digunakan dalam kirab setiap bulan Suro dengan perjalanan pergi pulang menuju ke Petilasan Kraton Kartasura (sumber: perawat kerbau bule).

Keistimewaan Kebo Bule sebagai simbolisasi Kraton Kasunanan Surakarta dan sebagai salah satu pusaka kraton. Kulit kerbau yang berwarna putih kemerahan yang berbeda dengan warna kulit kerbau biasa pada umumnya ini cukup unik dan tidak ditemukan pada kerbau yang dipelihara di pulau Jawa. Sehingga bagi beberapa orang, Kebo Bule ini memiliki banyak tuah meskipun beberapa orang menyangsikan argumen tersebut. Namun sebaiknya pro dan kontra masalah kepercayaan kepada seekor kerbau ini tidak menjadi masalah berlarut-larut yang berujung pada pertikaian. Ini merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia dan semoga tetap terjaga kelestariannya untuk meneruskan tradisi leluhur yang mewariskannya. (text/foto: annosmile)

-----------
Bookmark and Share

Ada 6 pendapat pembaca

Dibawah ini adalah pendapat yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara bebas, anda boleh menulis apa saja asal mampu mempertanggungjawabkannya. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, jangan sia-siakan hanya untuk menyakiti hati orang lain.

  1. Kamal Hayat:

    Buadaya yang sejak turun-temurun dan nggk bisa dihilangkan yaa…

  2. Tongkonanku:

    Di kampung saya (Toraja) banyak kerbau bule, tapi gak dikeramatkan. :) 

  3. mawi wijna:

    harganya itu mahal banget No!

  4. Putrie Jrs:

    Kebonya putih kemerahan ya, kaya albino. Biasanya sih Putrie taunya di upacara adat di Toraja.

  5. Situs Petilasan Kraton Mataram Kartasura Merana | TeamTouring:

    […] Kartasura masih digunakan ritual Kraton Surakarta pada malam 1 Sura (Muharram)  dengan menggiring Kebo Bule Kyai Slamet dari area Kraton Surakarta menuju ke area situs ini pulang pergi. Dan hari itu merupakan puncak […]

  6. Peringatan Malam Satu Suro di Kraton Kasunanan Surakarta | TeamTouring:

    […] Kebo Bule Kyai Slamet dan Pusaka Kraton mengelilingi benteng (mubeng beteng) dimulai oleh barisan Kebo Bule Kyai Slamet sebagai cucuk lampah yang diikuti seluruh barisan pembawa pusaka oleh kerabat kraton dan abdi […]

Kirim pendapat