Jembatan Srandakan Lama, Dulu Pernah Menjadi Jembatan Kereta Api

This item was filled under [ Interest Places, Kereta Api ]

Jembatan Srandakan yang melintasi sungai Progo merupakan satu-satunya jalur penghubung wilayah kabupaten Bantul dengan Kulon Progo di wilayah sebelah selatan. Saat ini telah dibangun Jembatan Srandakan Baru (II) untuk menggantikan Jembatan Srandakan Lama (I) yang rusak akibat pilar penyangganya amblas ke dalam tanah beberapa tahun yang lalu.

Jembatan Srandakan yang melintasi aliran Sungai Progo merupakan salah satu jembatan terpanjang di pulau Jawa dan memiliki panjang sekitar 531 meter.

Jembatan Srandakan Lama Dilihat dari Jembatan Srandakan Baru

Posisi Jembatan Srandakan Baru dengan Jembatan Srandakan Lama bersebelahan dan ujung jembatan di wilayah kabupaten Kulon Progo sedikit digeser ke arah selatan sehingga segaris lurus dengan jalan yang melintasi kota kecamatan Brosot. Ukuran jembatan baru ini lebih lebar dan kokoh dibandingkan jembatan lama. Keberadaan Jembatan Srandakan Lama yang telah digantikan Jembatan Srandakan Baru ini memiliki rentetang sejarah yang panjang.

Tidak banyak yang tahu bahwa fungsi utama saat dibangunnya jembatan pada masa penjajahan Belanda adalah sebagai jembatan perlintasan kereta api (sebagian ada yang menyebutnya lori). Sedikit cerita sejarah Jembatan Srandakan Lama masih tertuliskan pada prasasti pada pagar jembatan sisi sebelah barat. Cukup disayangkan kondisi prasasti jembatan Srandakan saat ini rusak terkena aksi vandalisme oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab. Saya sedikit kesulitan membaca isi prasasti karena tulisannya sudah mulai hilang dan tertutup oleh beberapa coretan.

Jembatan Srandakan Lama selesai dibangun pada tahun 1929 oleh Pemerintah Hindia Belanda berkerjasama dengan Perusahaan Jawatan Kereta Api (NIS). Fungsi utamanya adalah sebagai jembatan kereta api untuk lalu lintas tebu meskipun tidak menutup kemungkinan untuk kereta api untuk transportasi manusia.

Prasasti Jembatan Srandakan Lama

Kembali membahas sejarah Jembatan Srandakan Lama, banyak tujuan Pemerintah Belanda membangun jembatan kereta api yang melintasi Sungai Progo di sisi selatan ini. Banyak muatan tentang politik, ekonomi, sosial, dan budaya pada zaman tersebut. Dari segi ekonomi sendiri, Pemerintah Belanda memiliki tujuan untuk memperlancar distribusi tebu dan produksi gula dari pabrik Gula Sewugalur yang lokasinya berada disebelah barat sungai Progo sejauh 2 km.

Keberadaan Jembatan Srandakan Lama juga penuh akan muatan politik salah satunya alasan mengapa Pemerintah Belanda mau mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membangun jembatan terpanjang ini hanya untuk melancarkan distribusi gula dari sebuah pabriknya saja. Padahal bila membuat rangkaian jalur kereta api ke arah barat akan lebih murah dan efisien karena dekat dengan jalur kereta api penghubung Yogyakarta dengan Wates. Sepertinya strategi politik ini mengarah kepada Kadipaten Pakualaman yang letaknya tidak jauh dari jembatan Srandakan. Masih sedikit buku yang membahas intrik dan politik Belanda terhadap kerajaan kecil pecahan Kraton Yogyakarta ini.

Jembatan Srandakan Lama telah mengalami beberapa alih fungsi dan rehabilitasi, diantaranya pengalihan fungsi dari jembatan kereta api (lori) menjadi jembatan jalan raya pada 1951, penggantian lantai jembatan dari lantai kayu menjadi lantai beton pada 1962, penggantian gelagar dari baja menjadi komposit (17 bentang) dan beton slab (40 bentang) serta perlebaran dari 3.3 m menjadi 5.5 m pada 1979-1985. Struktur bawah jembatan (pilar dan fondasi) tidak pernah berubah, tetap seperti aslinya. (sumber: potongan isi prasasti)

Dalam prasasti sendiri juga tertulis ketika Jembatan Kereta Api ini beralihfungsi menjadi jembatan untuk lalu lintas kendaraan umum. Pada tahun 1951, pemerintah Republik Indonesia mengubah fungsi jembatan kereta api menjadi jembatan jalan raya dengan renovasi jalan. Setiap 10 tahun sekali jembatan Srandakan Lama ini mengalami beberapa perbaikan. Hingga akhirnya tahun 2000, dua pilar jembatan yang amblas menjadi tanda berakhirnya sejarah Jembatan Srandakan Lama ini. Pilar yang amblas ini dikarenakan degradasi dasar sungai yang tidak dapat dihindari. Gerusan air sungai yang terjadi di pilar jembatan secara perlahan-lahan membuat area disekitar pilar terbentuk cekungan yang berujung pada penurunan dasar sungai. Efek bertambahannya pengguna lalu lintas yang melewati jembatan Srandakan lama juga turut menjadi alasan penyebab amblasnya pilar penyangga secara tidak langsung.

Tanda-tanda degradasi tanah sudah diketahui beberapa puluh tahun yang lalu dan telah dilakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan jembatan meskipun semuanya tidak berhasil. Akhirnya dibangun jembatan Srandakan Baru (II) pada tahun 2005-2007 dan menghentikan fungsi jembatan Srandakan Lama sebagai jalur lalu lintas umum. Saat ini Jembatan Srandakan Lama masih dibiarkan berdiri disamping Jembatan Srandakan Baru. Entah dibiarkan untuk mengenang jasa-jasa dan sejarahnya atau tidak ada biaya untuk membongkarnya. Meskipun telah ditutup dan dilarang untuk dilintasi kendaraan, masyarakat sekitar masih memanfaatkannya untuk berjalan atau bersepeda menyebrangi sungai Progo karena sepi. Selain itu, kadang digunakan sebagai tempat menjemur gabah, nongkrong ketika sore hari, dan tempat berlatih sepeda motor. (text/foto: annosmile)


Incoming search terms for the article:

    jalur lori pabrik gula sewugalur
-----------
Bookmark and Share
Popularity: 2,279 views

Artikel yang Berkaitan

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Comment