Jalan-Jalan di Bandung
Setelah cukup berbelanja pakaian di Cihampelas, kami meneruskan perjalanan menuju Masjid Raya Bandung. Setelah memarkir motor di samping masjid, kami langsung melaksanakan sholat yang tertunda. Di kala senja, Masjid Raya Bandung berdiri dengan megah. Disamping kiri dan kanan terdapat menara yang menjulang tinggi ke atas.
Sejenak kami nongkrong di taman di depan Masjid Raya Bandung, menikmati suasana sore yang sejuk. Duduk disebelah utara dari air mancur yang berada ditengah – tengah taman. Sambil memandang kesana kemari, orang – orang yang lalu lalang didepan kami. Namun, pandangan kami tertuju pada sebuah bangunan kuno yang berdiri megah yang berada di sebelah timur sekitar 200 meter dari tempat kami berdiri. Kami menuju ke bangunan tersebut dengan berjalan kaki.
Museum Konferensi Asia Afrika
Pada saat itu bangunan ini bernama SOCITEIT CONCORDIA dipergunakan sebagai tempat rekreasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya. Mereka adalah para pegawai perkebunan, perwira, pembesar, pengusaha, dan kalangan lain yang cukup kaya. Pada hari libur, terutama malam hari, gedung ini dipenuhi oleh mereka untuk menonton pertunjukan kesenian, makan malam.
Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. disini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, restoran, dan pertemuan umum lainnya.
Dengan keputusan pemerintah Republik Indonesia (1954) yang menetapkan Kota Bandung sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, maka Gedung Concordia terpilih sebagai tempat konferensi tersebut. Pada saat itu Gedung Concordia adalah gedung tempat pertemuan yang paling besar dan paling megah di Kota Bandung . Dan lokasi nya pun sangat strategis di tengah-tengah Kota Bandung serta dan dekat dengan hotel terbaik di kota ini, yaitu Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger.
Dan mulai awal tahun 1955 Gedung ini dipugar dan disesuaikan kebutuhannya sebagai tempat konferensi bertaraf International, dan pembangunannya ditangani oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat yang dimpimpin oleh Ir. R. Srigati Santoso, dan pelaksana pemugarannya adalah : 1) Biro Ksatria, di bawah pimpinan R. Machdar Prawiradilaga 2) PT. Alico, di bawah pimpinan M.J. Ali 3) PT. AIA, di bawah pimpinan R.M. Madyono.
Ternyata bangunan tersebut adalah Museum Konferensi Asia Afrika, nama sebuah tempat yang dulu kami hapal saat pelajaran sejarah Indonesia. Kami nggak menyangka museum tersebut terletak di tengah kota. Walaupun saya sering ke Bandung, baru kali ini saya mengetahui lokasi museum ini berdiri.
Ketika kami sampai di depan pintu masuk, ternyata museum telah tutup. Sayang sekali, hari ini kami kurang beruntung. Sore mulai berganti malam, sayup – sayup terdengar azan Maghrib. Namun, kami cukup puas berfoto di sekeliling gedung Museum Konferensi Asia Afrika. Ditambah di area sekitar banyak terdapat bangunan lama yang memiliki arsirektur yang unik. Setelah cukup mengambil foto, kami kembali ke Masjid Raya Bandung. Mengambil sepeda motor untuk meneruskan perjalanan menuju Cibaduyut.
Cibaduyut
Cibaduyut, mendengar namanya, orang pasti akan berpikir sepatu atau sandal. Wajar saja, karena Cibaduyut merupakan pusat penjualan sepatu dan sandal di Bandung. Bagi anda yang ingin berburu sepatu maupun sandal, Cibaduyut-lah tempatnya. Di sana pengunjung bisa memilih berbagai jenis sepatu/sandal dengan harga yang cukup terjangkau. Di sepanjang jalan Cibaduyut terlihat berbagai toko sepatu/ sandal, dari ukuran anak–anak hingga ukuran orang dewasa
Selain membeli dari toko, anda juga bisa memesan berbagai bentuk sepatu atau sandal yang anda inginkan, karena di sini juga terdapat industri-industri sepatu/ sandal yang menerima pembuatan sepatu.
Memasuki kawasan Cibaduyut, kami kembali memarkir kendaraan. Melihat – lihat toko sepatu di pinggir jalan, saya merasa kondisi Cibaduyut sudah berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Dulu nama Cibaduyut terkenal sampai ke seluruh pelosok tanah air, sekarang namanya mulai meredup. Seperti yang saya lihat, Cibaduyut tampak sepi saat kami kunjungi.
Berjalan – jalan sambil melihat – lihat koleksi sepatu dan sandal yang ditawarkan. Nampaknya desainnya kurang mengena di hati kami. Sehingga kami tidak jadi membeli. Akhirnya kami kembali ke rumah paman saya untuk beristirahat.
Incoming search terms for the article:
- sejarah cibaduyut bandung sejarah cibaduyut wisata cibaduyut sejrah museum asia afrika sejarah museum asia afrika pengertian cibaduyut bandung lokasi cibaduyut sejarah dan lokasi cibaduyut bndung pengertian museum asia afrika bandung sejarah tentang cibaduyut bandung sejarah kerajinan sepatu cibaduyut jalan-jalan dibandung sejarah museum asia afrika bandung asal usul dan sejarah cibaduyut sejarahmuseumasia afrika sejarah gedung asia afrika sejarah musium asia afrika sejarah cibaduyut bandung wikipedia sejarah museum asi afrika bandung sejarag cibaduyud artikel karya wisata cibaduyut artikel sejarah cibaduyut artikel sepatu cibaduyut cerita rakyat cibaduyut cibaduyut sejarah sepatu legenda musium asia afrika letak cibaduyut letak cibaduyut bandung makalah museum asia afrika pengertian sejarah cibaduyut bandung artikel cibaduyut bandung



8 Comments on “Jalan-Jalan di Bandung”
poto mesjidnya bagus …:)
Palasari : jajan buku
lembang : cari angin
BIP : cuci mata
347 : jajan kaos
Braga Citywalk : nonton 10.000
Enhaii : surabi
hehe…. bandung beautiful euy :)
Asyik ga mas jalan-jalan ke bandung? wah kalau cihampelas mah deket rumah saya tuh, knapa ga mampir dulu mas ? :)
wah, sneng yah bisa jlan2.. ke bndung lagi… pngn brwsata klling kota bndun, mgnjungi tmpat2 yg oke pnya
saya pernah ke alun-alun mesjid itu…
keren memang,
tapi masih penasaran dengan parkiran yg katanya ada dibawah alun-alun :D
Bandung diriung gunung. Katelahna Kota Kembang tur Faris Van Java. Mojangna geulis pisan euy. Sahabat, aku kembali datang, Setelah lama tak menyapamu :)