Endog Abang dan Cerita Yang Menyertainya

This item was filled under [ Makanan ]

Setiap kali kita datang mengunjungi Pasar Sekaten yang digelar di halaman Masjid Besar Kauman Kraton Yogyakarta menjelang perayaan Grebeg Sekaten, di beberapa sudut terdapat pedagang yang menjual telur yang dicat merah kemudian ditusuk dengan bambu kecil berhias kertas warna-warni. Makanan tersebut dikenal dengan nama Endog Abang yang dalam bahasa Jawa berarti Telur Merah.

Endog Abang merupakan jajanan tradisional khas Pasar Sekaten di Yogyakarta yang selalu ada dari tahun ke tahun. Endog Abang terbuat dari telur ayam biasa yang sudah direbus dan kulitnya dicat warna merah. Telur merah ini kemudian di tusuk dengan sehelai ruas bambu dan dihias agar terlihat cantik.

Penjual Endog Abang

Penjual Endog Abang di dominasi perempuan lanjut usia meskipun ada yang masih setengah baya dan biasanya dijual bersanding dengan kinang. Meskipun zaman telah berubah, keberadaan Endog abang masih dilestarikan dan masih banyak orang tertarik untuk membelinya. Keberadaannya cukup langka karena hanya dijual saat Pasar Sekaten hingga Grebeg Maulid dan tidak diperjualbelikan pada hari-hari biasa.

Nilai filosofi Endog Abang cukup dalam karena memiliki tiga makna inti yaitu endog (telur) melambangkan kelahiran, warna abang (merah) melambangkan kesejahteraan, dan helai ruas bambu panjang melambangkan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta (Tuhan). Sehingga secara keseluruhan Endog Abang memiliki makna sebagai simbol kelahiran kembali untuk  masa depan yang lebih baik dan hidup sejahtera dengan selalu berpedoman kepada garis yang ditentukan oleh Allah (takdir).

Makna filosofi dari Endog Abang ini jarang diketahui oleh para pembeli dan mereka hanya sekedar tertarik karena bentuknya yang unik dan merupakan bagian dari tradisi Grebeg di Kraton Yogyakarta. Rasanya pun tidak berbeda dengan telur ayam rebus kebanyakan. Meskipun dengan membelinya, kita turut melestarikan tradisi Jawa yang memiliki nilai-nilai yang luhur. Namun apabila mereka mengetahui maknanya, mereka akan lebih bijaksana dalam memaknai hidup dan mengetahui nilai-nilai ajaran agama yang terkandung dalam tradisi menjelang Mulud (Maulid). Semoga pesan yang disampaikan oleh para penjual Endog abang ini dapat tersampaikan kepada para pengunjung yang setia membelinya setiap tahun. (text/foto: annosmile)


Incoming search terms for the article:

Popularity: 396 views

Artikel yang Berkaitan

  • Sego Gurih, Kuliner Khas Sekaten Jogja
    Ketika berkunjung ke Pasar Sekaten yang digelar setiap tahun di halaman Masjid Besar Kauman Kraton Yogyakarta menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad banyak terdapat...
  • Menonton Gamelan Sekaten
    Kemeriahan Sekaten dari tahun ke tahun tidak akan pernah sepi dari pengunjung. Tradisi menjelang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini banyak ditunggu orang-orang ka...
  • Menonton Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta
    Perhelatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang rutin diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 2006 mulai dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan beberapa wisatawan da...
  • Kirab Budaya Ambengan Ageng / Gunungan Kuliner Kotagede
    Kirab Budaya Ambengan Ageng dan Gunungan Kuliner Kotagede merupakan alur prosesi Nawu Sendang Seliran Kotagede. Kirab budaya ini diselenggarakan sebelum dilakukannya p...
  • Masjid Kotagede, Akulturasi Budaya Hindu Budha dan Islam
    Sebuah peninggalan kerajaan Mataram Islam yang wajib dikunjungi ketika jelajah wisata kawasan Kotagede adalah Masjid Kotagede. Masjid ini dibangun didekat makam raja-r...
  • Menelusuri Jalan Masjid Mataram
    Ada salah satu nama gang yang menarik di sebelah utara Masjid Kotagede yang dinamakan gang Jalan Masjid Mataram. Konon, jaman dahulu gang ini merupakan jalan utama lal...
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Comment on “Endog Abang dan Cerita Yang Menyertainya”

Trackbacks

  1. Sego Gurih, Kuliner Khas Sekaten Jogja | TeamTouring

Leave a Comment