Domba Texel di Dataran Tinggi Dieng
Didekat Situs Candi Setyaki, terlihat sesuatu yang menarik yaitu sekelompok domba yang dibiarkan merumput disebuah padang rumput oleh penggembalanya. Ketika mendekat domba tersebut terlihat lain daripada domba yang biasa diperjualbelikan di pasar hewan. Domba tersebut berukuran lebih besar dan memiliki bulu yang cukup tebal tersebut berjenis domba Texel yang merupakan domba khas daerah subtropis.
Asal-Usul Domba Texel berasal dari Pulau Texel, Belanda memiliki ciri mempunyai bulu wool yang keriting halus berbentuk spiral berwarna putih yang menyelimuti bagian tubuhnya kecuali perut bagian bawah, keempat kaki dan kepala. Postur tubuh tinggi besar dan panjang dengan leher panjang dan ekor kecil.

Menurut informasi, Domba Texel ini hanya ditemui di daerah Dataran Tinggi Dieng dan sekitar Wonosobo serta Banjarnegara karena iklim lingkungan yang sesuai dengan tempat hidupnya. Ketika kami mendekati salah satu domba, domba tersebut terlihat jinak dan tidak terganggu dengan keberadaan kami. Bahkan ketika difoto domba tersebut terlihat tenang dan meneruskan makan rumput yang terdapat di area tersebut. Ukuran Domba Texel ini lebih besar daripada domba lokal atau domba ekor pendek.
Domba Texel tersebut digembala oleh anak kecil yang tinggal di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Dia mempersilakan kami mengamati, memotret, dan memegang domba tersebut. Anak tersebut menggembalakan sekitar belasan ekor Domba Texel setiap dia pulang sekolah di padang rumput yang terletak di dekat situs candi Setyaki, situs candi Arjuna Dieng dan Telaga Balekambang. Kadang karena sering digembalakan di seputaran kawasan candi, domba Texel tersebut sering disebut domba penunggu Candi Dieng oleh beberapa wisatawan.
Pada tahun 1954/1955 Pemerintah mendatangkan 500 Ekor Domba Texel dari Belanda dan dialokasikan ke beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah (Baturaden Banyumas dan Tawangmangu Solo) dan Jawa Timur, tetapi tidak bisa berkembang. Dari 100 ekor yang dialokasikan di Baturaden tinggal tersisa 5 ekor (1 ekor jantan murni, 1 ekor jantan keturunan dan 3 ekor betina murni). Selanjutnya 5 ekor Domba Texel di Baturaden itu, pada Tahun 1957, dipindahkan oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah, ke Wonosobo. Ternyata di Wonosobo, Domba Texel bisa berkembang hingga dewasa ini mencapai populasi 8.753 ekor. (sumber:Disnak)
Sambil melihat tingkah laku Domba Texel yang merumput, kami berpikir ternyata masih ada habitat yang cocok bagi Domba Texel di Indonesia yang merupakan negara tropis. Di kawasan di Dieng sendiri, cuaca dan iklim sangat berbeda dengan daerah lain di pulau Jawa. Dataran Tinggi Dieng suhu udara lebih rendah daripada di beberapa daerah di Indonesia. Karena iklim yang cocok untuk beternak Domba Texel, banyak warga di sekitar Dataran Tinggi Dieng yang mendirikan usaha peternakan Domba Texel baik skala kecil ataupun menengah.
Bulu Domba Texel terasa halus dan tebal ketika kami memegangnya. Sempat saya menanyakan apakah bulu domba tersebut telah dimanfaatkan dan ternyata belum dimanfaatkan. Bulu domba berpotensi diolah menjadi benang (wool) sebagai bahan dasar untuk membuat kain dan pakaian. Pakaian yang berbahan dasar dari wool memiliki tingkat harga yang cukup tinggi dan ditujukan untuk kalangan menengah keatas. Dalam dunia barat setiap beberapa bulan sekali dilakukan pencukuran bulu pada Domba Texel. Dalam waktu beberapa bulan, bulu domba Texel tumbuh dengan lebat dan dapat dipanen.
Domba Texel tergolong ternak unggulan yang berpotensi sebagai penghasil daging. Bobot badan dewasa jantan dapat mencapai 100 kg dan yang betina 80 kg dengan karkas sekitar 55 %. Dalam penggemukkan secara intensif dapat menghasilkan pertambahan berat badan 265 – 285 gram / hari. Saat Domba Texel disembelih, kadang ada pengumpul yang mau membeli bulu domba beserta kulitnya. Produksi daging Domba Texel cukup berkualitas dan jumlahnya diatas domba lokal biasa. Dari tahun ke tahun jumlah pemeliharaan Domba Texel semakin meningkat meskipun belum diketahui berapa jumlah populasi Domba Texel di Dataran Tinggi Dieng.
Meskipun pemeliharaan Domba Texel belum maksimal, beternak Domba Texel cukup meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar selain bertani kentang. Rasa penasaran muncul ketika ingin mencoba menikmati daging Domba Texel, apakah rasanya hampir sama dengan domba-domba lokal yang lain, atau mungkin mempunyai rasa yang khas. Namun sayang, kami tidak menemui warung sate domba texel di Dataran Tinggi Dieng ataupun di kota Wonosobo ketika pulang dari Dataran Tinggi Dieng. (text/foto: annosmile)
Incoming search terms for the article:
- domba texel domba texel wonosobo domba wonosobo Domba dieng harga domba texel potensi domba texel sejarah domba texel habitat domba domba TINGKAH LAKU TERNAK DOMBA BATUR BANJAR NEGARA domba merino wonosobo harga domba texel wonosobo asal usul domba texel domba gunung dieng habitat domba batu kambing merino dieng kambing merino yogyakarta kambing merino wonosobo kambing texel kambing texel dijual pasar domba merino tingkah laku domba ternak domba texel ternak domba di dataran tinggi dieng pasar domba peternakan domba texel peternakan domba dieng perusahaan daging domba merino dieng pencukuran wol domba wonosobo yhs-0001 jual texel merino bogor jual texel jual domba texel malang asal usul domba wonosobo domba australia dijual domba ekor tebal domba merino dewasa wonosobo domba merino di indonesia domba merino dieng alamat domba merino dieng domba texel jatim domba texsel wonosobo domba unggul dombos wonosobo gambar domba texel jantan harga kambing texel jenis domba di arab jenis domba dieng jenis domba texel jual domba texel asal usul desa kemuning kecamatan ngargoyoso



14 Comments on “Domba Texel di Dataran Tinggi Dieng”
wah dombanya kelihatan gemuk banget. Gemuk beneran atau karna bulunya yang lebat yach
woww dombanya sehat.. :)
wah touring terus nih bang, senangnya liat yang hijau-hijau…. fresh
wahh keren banget sobat ..
photonya kok sperti diluar negeri gitu… :)
Indah banget dataran dieng….
seperti berada dinegara lain mas unik sekali dombanya
perlu modal saya nih mas modal kamera habis kalau moto make hp aja hp jadul lagi jadi pic nya kurang bagus
..
Kalo domba cocoknya di iklim yang dingin ya..
Melihat domba yang di gembala bebas pasti keren..
Kayak di new zeland, halah.. :-D
..
Salam kenal dari lereng gn Kelud..
-AtA-
..
ih lucu tenan sumpah, kyk domba2 di film kartun avatar :D
Bener2 tenanan cah peternakan kowe, iso ngerti jenenge dombane kui Texel. Apa merga ngembeek e bahasa Londo? :D
ini yang katanya diresmikan sama pak beye itu ya?
saya suka foto domba yang atas… sayangnya, domba yang biru itu kok kuyus ya??? kasihan!
wah domba bule ternyata… kyknya enak gtu disate.. hha
saya jadi ingat waktu kecil jadi penggembala domba sampai puluhan…..dan sekarang pingin gemukan tu domba dari wonosobo…..apa sama nga yang ada di pasar purwanegara….mirip mirip kali.tempatku sih nga ada