Cerita Tentang Pungutan di Candi Plaosan

This item was filled under [ Opini ]

Nama Candi Plaosan seperti sudah tidak asing lagi ditelinga beberapa wisatawan yang sering mengunjungi Kompleks Candi Prambanan. Bangunan candi induk yang cukup besar yang diapit beberapa candi pendamping yang cukup banyak menjadikan kawasan Candi Plaosan cukup menarik untuk dikunjungi.

Namun sayang, ketenaran kawasan Candi Plaosan tercoreng oleh beberapa oknum yang memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan dan merugikan wisatawan yang datang mengunjunginya. Pengalaman buruk dari beberapa kawan yang mengunjungi kawasan Candi Plaosan membuktikan bahwa kawasan Candi Plaosan tersebut sudah tidak ramah dikunjungi oleh wisatawan.

Menusuri kasus dan polemik yang pernah terjadi di Situs Candi Plaosan, ternyata sampai sekarang belum mengalami titik temu dan tidak ada perkembangan. Semenjak pemugaran candi Plaosan muncul beberapa polemik di masyarakat sekitar akan ketakutan mereka akan penggusuran karena sebagian besar area candi masih digunakan sebagai area persawahan dan perkampungan penduduk. Bahkan setelah proses pemugaran tersebut, masyarakat tidak bisa menikmati keindahan candi secara bebas dan hanya bisa sebagai sawangan atau dilihat dari jauh saja. Pagar besi yang mengelilingi candi yang mengharuskan izin dan membayar retribusi masuk membuat masyarakat sekitar segan berkunjung, sekedar melepas lelah di waktu sore sambil menunggu matahari terbenam.

Polemik yang belum terselesaikan tersebut ditambah dengan petugas dari  Dinas Pariwisata Kabupaten Klaten yang ditugaskan untuk menarik retribusi pengunjung yang masuk kawasan Candi Plaosan baik Plaosan Lor maupun Plaosan Kidul. Sehingga secara resmi pos gerbang masuk kawasan Candi Plaosan dijaga oleh petugas dari Dinas Pariwisata Kabuopaten Klaten dan pegawai dari BP3 Klaten. Petugas jaga kompleks Candi Plaosan menjadi sorotan ketika menggunakan seragam yang berbeda, sebetulnya siapa yang berwenang menjaga dan mengelola situs candi tersebut.

Di dalam UU 5/1992 tentang BCB memang disebutkan bahwa BCB yang merupakan benda buatan manusia yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dapat dimanfaatakan untuk kepentingan agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Dengan begitu menjadi jelas, bahwa BCB adalah sebuah entitas atau wujud yang diperlakukan betul-betul sebagai ‘benda mati’ (Sonjaya, 2005).

Penyimpangan pemahaman tentang hakekat BCB (Benda Cagar Budaya) dan lemahnya undang-undang mengatur membuat BCB menjadi memiliki banyak arti dan fungsi daripada sebagai momumen mati (benda mati). Yang akhirnya menjadikan kawasan Candi Plaosan menjadi sumberdaya yang mampu menghasilkan uang dan menghilangkan nilai kultural dan kesakralan candi.

Exploitasi Candi Plaosan sebagai ladang uang yang mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab untuk mencari keuntungan pribadi. Ketidakjelasan angka retribusi masuk Candi Plaosan membuat petugas memberikan tarif yang berbeda bagi setiap wisatawan yang masuk tanpa memberikan karcis resmi. Selain itu dengan adanya retribusi, seharusnya wisatawan mendapatkan fasilitas yang diterima dengan pembayaran tersebut seperti kamar mandi, ruang tunggu/duduk, dan sebagainya. Nyatanya banyak wisatawan yang kebingungan untuk membuang air kecil karena tidak tersedia kamar mandi umum.

Hal yang paling menjadi sorotan awal adalah siapa yang lebih berhak mengelola Candi Plaosan apakah Dinas Pariwisata atau BP3 Klaten supaya tidak terjadi simpang siur tarif retribusi masuk dan penanggungjawab bila terjadi keluhan dari pengunjung. Tarif atau pungutan liar yang berkembang saat pengunjung mendatangi Candi Plaosan semakin lama semakin meresahkan dengan tarif yang diatas kewajaran. Apakah wisatawan yang datang berkunjung ke Candi Plaosan harus berdebat terlebih dahulu untuk mendapatkan tiket masuk yang wajar.

Harga resmi tiket masuk Situs/Candi selain yang tergolong Taman Wisata Candi  adalah Rp2.000,- atau seikhlasnya tanpa ada paksaan.

Berikut segelintir cerita dari beberapa kawan yang mengalami kejadian yang kurang mengenakkan ketika berkunjung ke kawasan Candi Plaosan. Semoga menjadi pengalaman dan tidak terulang lagi bagi wisatawan yang akan berkunjung.

#Cerita 1

Seorang teman mahasiswa (nama disamarkan) yang mendapati biaya masuk sebesar 100rb ketika datang bersama keluarga yang datang dari luar kota di kawasan Candi Plaosan Lor ketika berkunjung dengan tujuan berwisata. Karena datang dari jauh terpaksa harus memasuki kawasan candi dan berusaha untuk negoisasi harga. Akhirnya biaya masuk tersebut bisa ditawar hingga 50rb dengan proses yang berbelit, kurang mengenakkan, dan tidak diberi tanda bukti penerimaan pembayaran.

#Cerita 2

Wisatawan yang membawa kamera dikenakan tarif lebih tinggi daripada wisatawan yang tidak membawa kamera. Setiap wisawatan dikenakan tarif sebesar lebih dari Rp 10.000,- per orang bagi yang masuk membawa kamera. Padahal tidak ada peraturan yang mengatur retribusi kamera dan camcorder karena belum ada undang-undang yang mengatur retribusi alat perekam gambar dan video tersebut

#Cerita 3

Ada seorang kawan fotografer yang melakukan foto pre-wedding di kawasan Candi Plaosan ditarik retribusi yang berbeda oleh setiap penjaga di lain waktu. Mengapa bisa terjadi perbedaan tarif retribusi foto komersial diantara petugas jaga candi.

————————-

Ada yang mau menambahkan kisah kurang mengenakkan ketika berkunjung kemari???

== Referensi

- Cermin Retak Pengelolaan Benda Cagar Budaya oleh: Jajang Agus Sonjaya, M.Hum.

- UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya

-----------
Bookmark and Share
Popularity: 1,632 views

Artikel yang Berkaitan

  • Makam Panembahan Rama Klaten memang patut dijuluki kota ziarah karena banyak makam-makam orang penting jaman dahulu yang dimakamkan di wilayah kabupatennya. Nama Makam Sunan […]
  • Sunrise di Candi Plaosan Lor Gara-gara melihat foto hasil karya fotografer yang mengabadikan suasana pagi di seputaran Candi Plaosan, akhirnya kami mencoba membuktikan keindahan sunrise […]
  • Retribusi Kamera di Kawasan Wisata dan Ruang Publik, Resmikah??? Awal tahun 2012 mungkin awal tahun yang buruk bagi orang yang mulai menggemari dunia fotografi. Betapa tidak, mulai akhir tahun 2011 lalu, semakin banyak […]
  • Pengalaman Menaiki Kereta Api Gajah Wong Karena suatu keperluan di ibukota mengharuskan saya untuk segera berangkat kesana. Pilih saya jatuh pada trasnportasi jenis kereta api dan mencoba kereta api […]
  • Candi Sukuh, Candi Unik Nan Saru Perjalanan menyusuri Jalur Tawangmangu - Sarangan membawa kami untuk mengunjungi objek wisata Candi Sukuh. Candi Sukuh yang kami ketahui memiliki bentuk yang […]
  • Melihat Kondisi Situs Kaliworo B Nama Situs Kaliworo mencuat ketika diberitakan media beberapa waktu lalu ketika terjadi banjir lahar dingin Gunung Merapi yang melewati aliran Kali Woro yang […]
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments on “Cerita Tentang Pungutan di Candi Plaosan”

  • antyo
    17 May, 2012, 17:06

    Soal pungutan gak jelas adalah promosi burook buat pariwisata. aji mumpung yg salah terap?

  • Tri Setyo Wijanarko
    17 May, 2012, 23:31

    Oke, Saya ikutan absen.. Waktu kesini saya kena bayar 10.000, sama dengan dua orang backpacker asing yang masuk bersama saya.. Belum sempat saya pergi, ada serombongan keluarga yang masuk cuma ditarik 5.000 perorang. Dalam hati mbatin A*UUU :))

  • nengah moyo
    21 July, 2012, 20:42

    saya baru berkunjung ke candi plaosan tgl 19 july 2012 kemaren.
    saya tidak menemukan pungli seperti yg banyak diceritakan.
    Saya membayar 5000 walaupun ga dikasih karcis sama petugas.

Leave a Comment