Berburu Foto Burung Kuntul Putih di Desa Wisata Ketingan

This item was filled under [ Desa ]

Melihat kawanan burung yang melakukan aktifitas pagi hari di tempat tinggalnya sepertinya cukup menarik. Di dekat kota Yogyakarta terdapat sebuah kawasan yang dihuni oleh ratusan spesies burung yang dikategorikan sebagai hewan dilindungi. Spesies yang akrab disebut burung Kuntul Putih ini tinggal dan menetap di kawasan Desa Wisata Ketingan.

Desa Wisata Ketingan merupakan kawasan wisata di dusun Ketingan, desa Tirtoadi, kecamatan Mlati, kabupaten Sleman yang memiliki keunikan yaitu sebagai tempat tinggal (habitat) ribuan burung (fauna). Desa Wisata Ketingan juga sering disebut dengan Desa Wisata Fauna Burung Kuntul. Pesona wisata yang ditawarkan di Desa Wisata Ketingan adalah bird watching (pengamatan burung) dan wisata pedesaan. Pohon yang digunakan sebagai tempat tinggal burung Kuntul Putih adalah pohon bambu, pohon mlinjo, pohon johar, pohon flamboyan, dan pohon asem yang tersebar di dusun Ketingan.

Karena ingin melihat aktivitas burung di pagi hari sebelum burung Kuntul tersebut pergi menjelajah mencari makan, saya berangkat menuju ke Desa Wisata Ketingan pada pukul 05.30 atau setelah matahari terbit. Perjalanan menuju ke Desa Wisata Ketingan dari kota Yogyakarta cukup singkat karena lokasi tidak jauh dari Ring Road Utara. Walaupun ketika pertama kali mengunjungi desa wisata ini bisa tersesat karena tidak ada rambu penunjuk arah lokasi.

Tiba di jalan masuk Desa Wisata Ketingan, suasana gerbang masuk desa wisata terlihat lenggang walaupun sudah terlihat aktivitas perekonomian warga sekitar. Karena sudah cukup hapal kawasan Desa Wisata Ketingan, saya langsung menyusuri jalan perkampungan dan menuju ke area pepohon yang digunakan sebagai tempat tinggal burung Kuntul. Saya berkeliling mencari letak gardu pandang yang digunakan untuk pengamatan burung (bird watching) agar lebih leluasa untuk mengamati burung dengan nyaman dan memudahkan pengambilan gambar burung Kuntul Putih.

Asal-Usul keberadaan burung Kuntul Putih (Blekok) di dusun Ketingan berlangsung sejak 1997. Saat itu, koloni burung Kuntul Putih mulai migrasi datang ke wilayah Ketingan setelah persemian gapura desa oleh Sultan Hamengku Buwono X. Burung-burung tersebut hinggap dan bersarang di pohon-pohon yang tersebar di pekarangan warga. Mulanya masyarakat tidak memperdulikan dan mencoba mengusirnya. Namun kawanan burung Kuntul Putih semakin banyak dan pada tahun 2005 muncul inisiatif untuk usaha melestarikan keberadaan burung Kuntul Putih tersebut. Akhirnya dusun tersebut dikembangkan sebagai kawasan wisata pedesaan dengan nama Desa Wisata Ketingan dan sebagai kawasan konservasi satwa burung.

Namun, saya tidak menemukan gardu pengamatan burung dan akhirnya berhenti di sebuah persimpangan jalan. Saya meminta izin memarkir kendaraan di halaman rumah penduduk yang lokasinya tidak jauh dari persimpangan tersebut dan mencoba berjalan mencari tempat dari bawah yang lumayan untuk melakukan pengamatan burung. Kemudian saya berjalan memasuki sebuah halaman yang dipenuhi pohon-pohon tinggi sebagai tempat tinggal burung Kuntul.

Rata-rata pohon-pohon tinggi yang menjadi tempat tinggal burung Kuntul terlalu rimbun membuat pengamatan burung dari bawah menjadi kurang jelas. Saya hanya memaksimalkan pengamatan saya dengan menggunakan kamera dengan lensa tele karena tidak memiliki teropong. Akhirnya saya berpindah tempat menuju ke bagian lain yang sedikit terbuka agar lebih jelas melihat aktivitas burung Kuntul Putih. Pada suatu jalan perkampungan, saya mendapati lokasi yang cocok untuk pengamatan dan pengambilan gambar burung Kuntul Putih.

Kuntul Putih (Bubulcus ibis) merupakan burung terkecil dari bangsa Kuntul-kuntulan (sekitar 50 cm). Burung ini suka mencari makanan di dekat kerbau atau sapi yang merumput. Bentuk tubuhnya lebih ramping daripada Blekok Sawah (Ardeola speciosa), meskipun tidak seramping kuntul-kuntul yang lebih besar. Seluruh bulunya berwarna putih, tetapi selama musim kawin, bulu-bulu pada kepala, leher dan punggungnya berwarna kuning kerbau. Paruhnya kuning dan lebih tebal daripada kuntul lain.

Saya mempersiapkan kamera dengan menggunakan lensa tele zoom sambil mengamati aktivitas burung Kuntul dan mencari spot yang cukup nyaman untuk mengambil foto. Kehidupan burung Kuntul yang liar dan tersebar di kawasan Desa Wisata Ketingan membuat saya kesulitan untuk mengambil foto. Saya harus bersikap tenang ketika berjalan mendekati kawanan burung Kuntul supaya mereka tidak kaget dan terganggu dengan keberadaan saya.

Sebagian besar burung Kuntul tinggal diujung paling atas ranting pohon walaupun beberapa membuat sarang sedikit lebih rendah daripada yang lainnya. Aktivitas burung Kuntul di pagi hari masih berada di area dekat sarangnya sehingga saya masih menemui ratusan burung bertengger di pepohonan. Sesekali mereka turun ke bawah pohon dan berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain yang ada di dekatnya. Penduduk yang berlalu lalang di sekitar kawasan tempat tinggal burung Kuntul tersebut seperti acuh tak acuh melihat pemandangan seperti ini yang hampir setiap hari mereka temui. Namun bagi saya, pemandangan seperti ini merupakan pemandangan yang unik dan menarik karena di zaman sekarang ini cukup langka melihat sekawanan burung tinggal dan hidup berdampingan di pemukiman penduduk.

Sering kali ketika saya mendekat ke salah satu burung yang turun ke bagian bawah pohon, burung tersebut langsung menghindar dari saya dan saya gagal mengabadikan foto burung Kuntul tersebut. Namun saya tetap bersabar dan mencoba terus agar lebih menguasai teknik Wildlife Photography ini. Memotret satwa di alam liar memang butuh ketenangan dan kesabaran agar bisa mengabadikan moment. Sekali dua kali saya sempat kejatuhan kotoran burung Kuntul Putih dari atas pohon, namun saya tetap bersemangat mencari dan mengabadikan aktivitas burung Kuntul Putih di pagi hari.

Tidak terasa waktu berjalan satu jam lebih dan sedikit demi sedikit burung Kuntul pergi keluar dari kawasan Desa Wisata Ketingan untuk mencari makan dan pulang kembali ke sarangnya di waktu sore hari. Suasana menjadi sepi dan hanya tertinggal beberapa ekor burung yang menjadi sarangnya. Desa Wisata Ketingan memang merupakan salah satu desa wisata unik yang dekat dengan Jogjakarta yang pantas untuk dikunjungi sambil belajar dengan alam. Tips bagi yang ingin melihat aktivitas burung Kuntul Putih di sarangnya sebaiknya datang pagi hari atau menjelang sore hari menunggu mereka kembali ke sarangnya. (text/foto: annosmile)

== Info Foto

Foto diambil dengan kamera Nikon D90 dengan lensa Nikkor AF 70-300mm 4-5,6 G dengan beberapa pengaturan.

-----------
Bookmark and Share
Popularity: 5,884 views

Artikel yang Berkaitan

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Comments on “Berburu Foto Burung Kuntul Putih di Desa Wisata Ketingan”

  • arif
    3 May, 2012, 20:18

    padahal kos saya juga masuk wilayah Mlati,tapi baru denger wisata kentingan *ga gaul neeh ane* :D

    admin Reply:

    iya kak..salah penulisan
    sudah dikoreksi..makasih

  • farizalfa
    5 May, 2012, 15:19

    Saya baru kali membaca dan melihat foto satwa yang bernama burung kuntul.
    Keliatan seperti burung bango

Leave a Comment